KalbarOke.com — Mengangkut barang menuju Sungkung I dan Sungkung II bukan perkara mudah. Pengguna jalan harus menghadapi sejumlah titik kerusakan di Jalan Kapot, yang dikenal masyarakat sebagai Tanjakan S, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
Medan jalan yang rusak membuat waktu tempuh menjadi sulit diprediksi. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh lebih cepat dapat berubah menjadi perjalanan seharian ketika kerusakan di sejumlah titik semakin parah.
Jalur tersebut menjadi salah satu akses masyarakat menuju wilayah Sungkung I dan Sungkung II. Karena itu, kondisi jalan berpengaruh langsung terhadap mobilitas warga, terutama mereka yang membawa barang dengan muatan berat.
Salah seorang pengguna jalan, Julianus, mengatakan kondisi jalan rusak menjadi kendala besar bagi warga yang harus membawa barang hingga ratusan kilogram. “Jalan rusak parah, apalagi barang yang kami bawa ini berat, sampai ratusan kilo,” ujar Julianus saat ditemui awak media, Ahad, 13 September 2026.
Menurut dia, kendaraan harus melaju dengan ekstra hati-hati ketika melewati bagian jalan yang rusak. Beban kendaraan yang berat membuat perjalanan semakin sulit. Jarak perjalanan melalui jalur tersebut diperkirakan mencapai sekitar 140 kilometer. Ketika kondisi jalan memungkinkan, perjalanan dapat ditempuh dalam waktu lebih singkat.
Namun kondisi berbeda terjadi ketika kerusakan di sejumlah titik menghambat kendaraan. Waktu perjalanan bisa molor hingga sehari. Bagi masyarakat yang setiap hari menggunakan jalur itu, kondisi tersebut bukan lagi sesuatu yang asing.
Suprianto, pengguna jalan lainnya, mengatakan medan menuju Sungkung cukup berat, terutama bagi pengendara yang belum terbiasa melintasinya. “Kondisi jalan memang rusak parah dan sulit untuk dilalui bagi orang yang belum terbiasa. Tapi bagi kami, ini yang harus kami hadapi dalam keseharian,” kata Suprianto.
Kerusakan Jalan Kapot tidak hanya menyangkut kenyamanan berkendara. Jalur tersebut digunakan masyarakat untuk membawa kebutuhan dan barang dengan berbagai jenis muatan menuju wilayah Sungkung. Ketika kendaraan harus berjalan lebih lambat atau berhenti di titik tertentu karena kondisi jalan, distribusi barang ikut terdampak. Waktu dan biaya perjalanan pun berpotensi bertambah.
Bagi warga setempat, Jalan Kapot menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari. Jalan tersebut menghubungkan masyarakat dengan wilayah lain sekaligus menjadi jalur untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Karena itu, masyarakat berharap pemerintah dan instansi terkait memberikan perhatian terhadap kondisi infrastruktur tersebut.
Perbaikan jalan dinilai tidak hanya akan memangkas waktu perjalanan. Infrastruktur yang lebih baik juga diharapkan membuat kendaraan lebih aman melintas dan memudahkan masyarakat mengangkut barang menuju Sungkung I dan Sungkung II.
Selama jalan belum diperbaiki, warga masih harus berhadapan dengan medan rusak yang mereka sebut sebagai bagian dari keseharian. Bagi sebagian pengguna jalan, perjalanan menuju Sungkung bukan hanya soal jarak 140 kilometer, tetapi juga soal berapa lama mereka bisa bertahan di jalan. (Rin)






