Landak  

170 Mahasiswa Baru UT di Landak Mulai Kuliah Daring, Diingatkan Tak Cukup Bermodal Cita-cita

Sebanyak 170 mahasiswa baru UT di bawah SALUT Landak mengikuti orientasi kuliah daring. Mereka dibekali keterampilan belajar mandiri dan diingatkan pentingnya disiplin. Foto: Hendri Marcelleno

KalbarOke.com — Jaket almamater dan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) menjadi penanda awal perjalanan 170 mahasiswa baru Universitas Terbuka (UT) yang berada di bawah pendampingan Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) Kabupaten Landak.

Mereka mengikuti Orientasi dan Pelatihan Daring Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026 di Aula Besar Kantor Bupati Landak, Ahad, 13 September 2026. Dari 170 mahasiswa yang terdata, 159 hadir langsung dalam kegiatan tersebut.

Sejak pukul 07.30 WIB, mahasiswa berdatangan untuk melakukan registrasi. Sebagian baru lulus SMA atau SMK. Sebagian lainnya telah bekerja dan kembali ke bangku kuliah setelah cukup lama meninggalkan pendidikan formal.

Bagi kelompok kedua, kuliah daring memberi ruang untuk tetap bekerja tanpa harus meninggalkan daerah tempat tinggal. Namun fleksibilitas itu memiliki konsekuensi. Mahasiswa harus mampu mengatur waktu sendiri dan disiplin mengikuti proses pembelajaran.

Perwakilan Direktur UT Pontianak yang juga Manajer Marketing dan Registrasi UT Pontianak, Fahriransyah, mengatakan masa awal perkuliahan menjadi tahap penting untuk membangun kebiasaan belajar mahasiswa.

“Pembelajaran daring ini merupakan salah satu keberhasilan belajar. Jadi mereka memang di awal-awal ini harus kita bekali. Mungkin ada yang baru lulus, ada yang sudah lama lulus. Ketika memasuki suatu kegiatan, mereka harus tahu dulu apa itu UT dan bagaimana cara belajarnya,” kata Fahriransyah.

Menurut dia, mahasiswa yang tidak memahami sistem pembelajaran sejak awal berisiko kesulitan mengikuti perkuliahan. “Jangan sampai nanti masuk UT tidak tahu prosesnya, akhirnya gagal di tengah jalan,” ujarnya.

Semester pertama, kata Fahriransyah, menjadi salah satu fase yang membutuhkan perhatian khusus. Mahasiswa harus membangun konsistensi dan disiplin sejak awal. “Semester pertama memang agak berat. Tapi memang butuh konsisten dan disiplin. Jangan hanya cita-cita yang ada, tetapi tindakannya tidak,” katanya.

Ia mengatakan setiap mahasiswa memiliki alasan ketika memilih melanjutkan pendidikan. Alasan tersebut harus diterjemahkan menjadi tindakan selama menjalani perkuliahan. “Kalau memang mereka kuliah, semuanya pasti punya tujuan. Mengapa mau kuliah? Pasti ingin lebih baik lagi dari sekarang,” tuturnya.

Pelatihan yang mengusung tema “Penguatan Kapasitas dan Keterampilan Belajar Daring” itu membekali mahasiswa dengan berbagai pengetahuan teknis. Mereka diperkenalkan dengan Tutorial Online (Tuton), aplikasi Silayar, aktivasi akun, jadwal tutorial, mata kuliah praktik, bahan ajar digital hingga mekanisme ujian.

Baca :  Sungai Nanga Gonis Sekadau Menghitam, Warga Keluhkan Ikan Mati dan Kulit Gatal

Materi tersebut menjadi penting karena pola belajar UT berbeda dengan perguruan tinggi konvensional. Mahasiswa dituntut lebih mandiri dalam mengatur waktu belajar dan mengakses materi perkuliahan.

Kepala SALUT Landak, L. Sahat Tinambunan, mengatakan pemahaman terhadap sistem pembelajaran daring menjadi salah satu kunci agar mahasiswa dapat menyelesaikan studi tepat waktu.

“Untuk mahasiswa baru, pelatihan ini diusahakan diikuti dengan benar karena ini penting. Kalau mereka memahami bagaimana cara belajar daring, otomatis mereka dengan sendirinya bisa. Selesai tepat waktu itu pasti,” kata Sahat.

Dari 170 mahasiswa baru yang berada dalam pengelolaan SALUT Landak, program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Manajemen dan Hukum menjadi pilihan yang banyak diminati. PGSD diminati antara lain karena tersedia kelas tutorial pada akhir pekan. Program studi Manajemen juga memiliki kelas yang menarik banyak mahasiswa.

Sementara program studi Hukum cukup banyak dipilih anggota kepolisian yang ingin meningkatkan pendidikan sekaligus mengembangkan kapasitas diri. Orientasi mahasiswa baru itu juga tidak hanya membahas urusan akademik. Wakapolres Landak Kompol Syaiful Bahri memberikan materi mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara serta bela negara.

Menurut Syaiful, mahasiswa perlu memiliki kemampuan akademik sekaligus pemahaman mengenai kebangsaan.

“Kehidupan berbangsa dan bernegara berikut bela negara itu sangat bagus, agar menanamkan dan menjiwai kecintaan masyarakat, khususnya mahasiswa, terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia agar tetap utuh dan tidak mudah digoyahkan, baik ancaman dari luar maupun dari dalam negeri,” ujarnya.

Ia mengatakan kerja sama antara kepolisian dan UT dapat dikembangkan melalui edukasi wawasan kebangsaan. Sinergi tersebut juga telah berlangsung secara tidak langsung karena sejumlah personel kepolisian tercatat sebagai mahasiswa UT.

“Kami bisa bersinergi dengan UT dalam memberikan materi terkait kehidupan berbangsa dan bernegara. Sinergi lainnya, banyak anggota atau personel kami yang saat ini juga kuliah di UT dalam rangka pengembangan diri,” kata Syaiful.

Baca :  Pemkab Landak Bantah Bupati Terseret Kasus Lahan PT Condong Garut: HGU Bukan Kewenangan Daerah

SALUT Landak mencatat jumlah mahasiswa UT di Kabupaten Landak cukup besar. Saat ini terdapat sekitar 1.248 mahasiswa aktif yang melakukan pembayaran. Sementara jumlah mahasiswa baru di Kabupaten Landak tercatat sekitar 297 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 170 mahasiswa berada dalam pengelolaan SALUT Landak.

Di tingkat Kalimantan Barat, jumlah mahasiswa UT mencapai sekitar 28.224 orang. Secara nasional jumlahnya sekitar 856.444 mahasiswa. Angka tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan terhadap model pendidikan tinggi yang dapat menyesuaikan dengan aktivitas mahasiswa.

Mahasiswa tidak harus pindah ke kota tempat perguruan tinggi berada. Mereka dapat mengikuti pembelajaran dari daerah masing-masing sembari bekerja atau menjalankan aktivitas lainnya. Keuntungan itu sekaligus membawa tanggung jawab. Tidak adanya keharusan hadir setiap hari di ruang kelas membuat mahasiswa harus lebih aktif mengatur ritme belajar sendiri.

Bahan ajar digital juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Mahasiswa diingatkan untuk tidak hanya mengejar ijazah, tetapi memahami materi, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah.

Kegiatan di Aula Besar Kantor Bupati Landak tersebut ditutup dengan penjelasan mengenai fungsi SALUT sebagai tempat pendampingan mahasiswa UT di daerah. Mahasiswa dapat memperoleh bantuan ketika menghadapi kendala dalam proses perkuliahan, termasuk penguatan materi setelah mengikuti Orientasi Studi Mahasiswa Baru.

Penyerahan plakat kepada Wakapolres Landak dan Direktur UT Pontianak menjadi bagian dari rangkaian acara. Pemakaian jaket almamater secara simbolis juga dilakukan kepada perwakilan mahasiswa baru.

Bagi 170 mahasiswa tersebut, hari itu bukan sekadar seremoni penerimaan mahasiswa baru. Mereka mulai memasuki sistem pendidikan yang memberikan keleluasaan dalam memilih waktu dan tempat belajar. Tetapi keleluasaan itu tidak berarti kuliah bisa dijalani tanpa aturan.

Di UT, ruang kelas dapat digantikan layar komputer atau telepon genggam. Jadwal belajar dapat menyesuaikan pekerjaan. Namun satu hal tetap tidak berubah: mahasiswa harus datang dengan disiplin dan kemauan untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Pesan itu menjadi salah satu bekal utama mahasiswa baru SALUT Landak sebelum memulai perjalanan menuju gelar sarjana. (dRi)