“Mimpi” Merdeka

Oleh : Mursalin

0

Keinginan untuk merdeka adalah fitrah. Bukan hanya manusia, hampir semua makhluk di jagat raya semesta ini menginginkan kemerdekaan. Lihat lah burung di dalam sangkar atau ikan di dalam kolam. Meski sang tuan rutin memberi makan dan berbagai kebutuhannya, tetap saja mereka ingin bebas. Burung begitu ceria terbang bebas ketika dilepaskan dari sangkar dan ikan bersuka ria berenang kemana suka saat keluar dari kolam.

Karena sudah menjadi fitrahnya, maka tak heran bila siapa saja mereka, pasti lah akan berontak ketika kemerdekaannya dirampas. Hak berserikat dan berbicara dikekang, akses ekonomi mampet, dan berbagai pembatasan lainnya. Mereka melawan. Berjuang. Begitu istilah mereka yang dalam rangka mengembalikan kemerdekaannya tersebut.

Meski tidak terlahir atau besar di era sebelum tahun 1945, tentu kita bisa membayangkan betapa gundah gulana-nya masyarakat di belahan bumi di nusantara ini ketika melihat orang asing menguasai bangsanya. Dan tidak ada julukan yang lebih pantas untuk kita sematkan kepada para pendahulu kita yaitu dengan sebutan Pahlawan karena mereka melawan. Sungguh besar jasa Beliau. Berkorban jiwa dan raga. Harta benda, darah dan air mata dipersembahkan para Pahlawan untuk ibu pertiwi tercinta bernama Indonesia.

Sejak diproklamirkan kemerdekaan Indonesia 75 tahun silam, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945, yang terlintas di benak masyarakat kita adalah imbas dari hakikat kemerdekaan itu sendiri segera hadir. Kemakmuran dan kesejahteraan. Ya, itulah tentu yang didambakan oleh semua, segenap elemen anak bangsa di republik ini.

Namun kenyataannya, apa yang diimpikan dan didambakan tersebut rupanya tak berjalan lurus beriringan. Jalan yang dilalui untuk menuju kemakmuran dan kesejahteraan-meski sudah merdeka, tetap saja penuh terjal, menanjak dan berliku. Ketika musuh bernama penjajah asing telah berhasil diusir pergi, masing-masing lantas sibuk melawan musuh di dalam diri sesama anak bangsa yaitu ego dan keserakahan yang menyebabkan satu sama lain terpecah belah.

Baca :  China Keberatan Dengan Penamaan Laut Natuna Utara

Potret perjalanan panjang sejarah bangsa sejak kemerdekaan hingga menginjak di usia yang sudah tiga perempat abad ini, adalah bukti dinamika lika liku tersebut. Banyak peristiwa yang datang silih berganti setidaknya menguji ke-digdayaan Indonesia sebagai suatu bangsa. Bahkan dengan cermat sejarah negeri ini telah mencatat, ada tiga orde sudah dilalui-nya oleh Indonesia yaitu; orde lama (1945-1966), orde baru (1966-1998) dan era reformasi (1998-sekarang). Namun alhamdulillah, Indonesia masih tetap berdiri kokoh.

Nah, kembali lagi ke hal ihwal merdeka atau kemerdekaan, Saya jadi teringat ketika SMA dulu ditahun 1990 an ada belajar PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bengsa). Mohon dicermati dengan betul singkatanya yaitu PSPB. Jangan sampai kepeleset satu huruf jadi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), he..he. Salah satu yang saya ingat di pelajaran PSPB, masa masa sulit ketika penjajahan maupun orde lama salah satunya adalah digambarkan dengan kesulitan ekonomi. Warga antre untuk mendapatkan aneka kebutuhan pokok yang memang sulit dan mahal terpampang di dalam buku pelajaran atau dijelaskan oleh bapak ibu guru PSPB. Potret kemiskinan menghiasi masyarakat kita di masa sulit saat itu.

Namun memori PSPB yang pelajarannya sudah dihapus tersebut, kini seolah muncul kembali ketika melihat suasana yang ada di sekitar kita hari ini. Lihatlah misalnya antrean panjang untuk mendapatkan gas tiga kilogram, warga berdesakan untuk berebut sembako murah dan aneka kekisruhan lainnya menjadi pemandangan hari ini di ibu pertiwi yang usia kemerdekaannya sudah menginjak 75 tahun.

Baca :  China Keberatan Dengan Penamaan Laut Natuna Utara

Belum lagi kekisruhan dimensi lainnya juga kerap mengemuka di negeri ini. Hal idelogi, bentuk negara, tata aturan remeh temeh berbangsa dan bernegara contohnya. Selalu saja mencuat dan nyaris sampai menguras energi bangsa. Padahal di era global saat ini, semua kita tahu dan merasakan, betapa antar satu negara dengan negara lainnya di belahan bumi ini nyaris sudah tidak ada lagi sekat, batas atau jarak, akibat pesatnya teknologi informasi. Efek pandemi virus saja seperti yang terjadi hari ini salah satu bukti di depan mata kita. Imbasnya sungguh luar biasa kita rasakan dan telah membuat banyak negara di belahan dunia ini rontok seketika. Hanya negara yang kuat dan berdaya saing lah yang mampu bertahan.

Huhhhh. Melihat fenomena yang terkadang masih saja sengkarut datang silih berganti menyelimuti bangsa ini, sepertinya impian merdeka yang sesungguhnya masih teramat panjang dan berliku. Namun, kita selalu diajarkan untuk tetap optimis dalam menatap ke depan. Kita harus yakin bangsa ini segera menjadi lebih baik, berdaulat, dan kuat. Semua elemen bangsa harus fokus untuk menjadikan negeri ini semakin maju, rakyatnya makmur, dan sejahtera.

Di usia yang sudah tiga perempat abad ini adalah momen penting untuk semua kita merenung dan melakukan refleksi. Sudah seharusnya rakyat Indonesia¬† benar benar meraih makna sesungguhnya dari sebuah kemerdekaan. Bukannya hanya sedang dibuai oleh ‘mimpi merdeka’ yang dibungkus dalam kemasan simbolis dan formalitas.

Selamat HUT Kemerdekaan RI yang ke-75. Jaya selalu negeriku tercinta Indonesia. Merdeka!! ** (Penulis adalah Direktur PonTV)

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 559 kali