Sarang Burung Walet Kalbar Perdana Tembus Singapura, Ekspor Rp1,3 Miliar

Ekspor perdana 103 kilogram sarang burung walet Kalbar ke Singapura melalui Bandara Supadio bernilai Rp1,3 miliar. Foto: dok Karantina Kalbar

KalbarOke.com — Sarang burung walet Kalimantan Barat mulai menembus pasar Singapura melalui jalur ekspor langsung. Sebanyak 103 kilogram sarang burung walet (SBW) untuk pertama kalinya dilepas dari Bandar Udara Internasional Supadio, Kabupaten Kubu Raya, dengan nilai perdagangan mencapai sekitar Rp1,3 miliar.

Ekspor perdana tersebut difasilitasi Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Barat atau Karantina Kalbar. Nilai pengiriman tercatat 95.110 dolar Singapura, setara sekitar Rp1,3 miliar berdasarkan nilai transaksi yang disampaikan penyelenggara.

Pelepasan ekspor turut dihadiri Kepala Bea Cukai Pontianak, General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Supadio, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat, Branch Manager IAS Cargo di Bandara Supadio Pontianak, serta para pengguna jasa ekspor karantina.

Ekspor tersebut menjadi penanda penting bagi komoditas walet Kalimantan Barat. Produk yang selama ini memiliki pasar di berbagai wilayah kini mulai diarahkan untuk dikirim langsung dari Bumi Khatulistiwa ke negara tujuan.

Karantina Kalbar menegaskan produk SBW yang akan diekspor harus memenuhi sejumlah persyaratan. Sarang harus dalam kondisi bersih dan dilengkapi sertifikat kesehatan dari daerah asal. Produk juga wajib diserahkan kepada pejabat karantina di tempat pengeluaran yang telah ditunjuk.

Dari sisi kemasan, informasi mengenai jenis, grade, berat bersih, hingga waktu produksi harus dicantumkan secara transparan. Ketentuan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan keamanan, mutu, dan ketertelusuran produk yang dikirim ke negara tujuan.

Karantina Kalbar juga terus mendorong registrasi tempat pemrosesan SBW sebagai instalasi karantina hewan. Langkah ini ditujukan agar pelaku usaha di daerah dapat memenuhi permintaan pasar ekspor secara konsisten.

Kepala Karantina Kalbar, Ferdi, mengatakan ekspor perdana tersebut menunjukkan potensi komoditas walet Kalimantan Barat untuk bersaing di pasar internasional. “Pelepasan ekspor perdana sarang burung walet ke Singapura ini merupakan bukti nyata bahwa komoditas unggulan Kalimantan Barat memiliki daya saing tinggi di pasar global,” ujar Ferdi.

Menurut dia, Karantina Kalbar akan terus mendampingi pelaku usaha agar dapat memenuhi standar negara tujuan, termasuk aspek sanitasi, keamanan pangan, dan ketertelusuran. “Kami di Karantina Kalbar berkomitmen penuh mendampingi para pelaku usaha agar mampu memenuhi seluruh standar sanitasi, keamanan pangan, dan ketertelusuran yang dipersyaratkan negara tujuan,” katanya.

Bagi pemerintah, ekspor langsung bukan hanya soal meningkatkan volume perdagangan. Penguatan fasilitas pemrosesan di daerah juga menjadi bagian penting agar nilai ekonomi komoditas walet dapat lebih banyak tinggal di Kalimantan Barat. Ferdi mengatakan Karantina Kalbar akan mendorong penambahan instalasi pemrosesan SBW bersih yang terdaftar.

“Kami akan terus mendorong penambahan instalasi pemrosesan SBW bersih yang terdaftar di Kalbar agar nilai tambah komoditas ini dapat dinikmati langsung oleh masyarakat lokal tanpa harus bergantung pada pengiriman antar-area,” ujarnya.

Ekspor perdana ke Singapura itu diharapkan menjadi pemantik bagi pelaku usaha walet lainnya untuk meningkatkan standar produksi sekaligus membuka akses pasar internasional. Karantina Kalbar bersama instansi terkait akan memperkuat sinergi dengan dunia usaha untuk mendukung perdagangan lintas negara dari Kalimantan Barat.

Dengan pengiriman 103 kilogram bernilai sekitar Rp1,3 miliar tersebut, komoditas sarang burung walet kini memiliki satu pintu baru menuju pasar global: Bandara Internasional Supadio. (*/)