49.351 Rekening SimPel di Pontianak, Kini Sampah Plastik Bisa Jadi Saldo Tabungan Pelajar

Pemkot Pontianak mengintegrasikan SimPel dengan bank sampah mini. Sampah plastik siswa dibeli dan hasilnya masuk rekening tabungan pelajar. Foto: dok prokopim

KalbarOke.com – Botol plastik dan sampah kemasan yang biasanya berakhir di tempat sampah kini punya peluang menjadi uang saku masa depan bagi pelajar di Kota Pontianak. Pemerintah Kota Pontianak mulai menghubungkan program Simpanan Pelajar (SimPel) dengan bank sampah mini di sekolah.

Melalui skema ini, siswa membawa sampah yang sudah dipilah dari rumah ke sekolah. Sampah kemudian ditimbang dan dibeli melalui bank sampah. Hasil penjualannya dikonversi menjadi saldo tabungan atas nama masing-masing pelajar.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Pontianak membangun kebiasaan menabung sekaligus menanamkan kesadaran mengelola sampah sejak dini.

Hingga kini, tercatat sebanyak 49.351 rekening tabungan pelajar telah terdaftar di Kota Pontianak melalui program SimPel. Pemerintah kota ingin memperluas jumlah peserta, tidak hanya di sekolah negeri, tetapi juga sekolah swasta, madrasah, hingga pondok pesantren.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, kebiasaan menabung merupakan bagian dari pendidikan karakter. Anak-anak perlu dibiasakan mengelola uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyisihkan sebagian penghasilan untuk masa depan.

Hal itu disampaikan Edi setelah menghadiri Sosialisasi Simpanan Pelajar dan Bank Sampah Mini di SD Negeri 15 Pontianak Selatan, Senin, 2 November 2026. Sosialisasi serupa juga menyasar SMP Negeri 22 Pontianak dengan melibatkan sekolah, guru, dan Bank Kalbar.

“Jumlahnya akan terus kita tingkatkan. Kalau bisa semuanya ikut, tidak hanya sekolah negeri, tetapi juga swasta, madrasah, dan pondok-pondok pesantren,” kata Edi.

Menurut dia, pendidikan keuangan tidak harus dimulai dengan nominal tabungan yang besar. Hal terpenting adalah membentuk kebiasaan menyisihkan uang secara teratur dan menggunakannya secara bijak. “Disiplin menabung itu sangat penting. Anak-anak juga harus cerdas menggunakan uang untuk keperluan yang memang dibutuhkan dan untuk masa depan mereka,” ujarnya.

Sampah plastik dihargai Rp 4.000 per kilogram

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak Syarif Usmulyono menjelaskan, program bank sampah mini telah berkembang di sejumlah sekolah. Dari 141 sekolah yang mengikuti program Adiwiyata, sebanyak 35 sekolah sudah memiliki bank sampah mini.

Pemkot akan memperluas penerapannya secara bertahap. Sebelum sampah dikonversi menjadi tabungan, siswa terlebih dahulu mendapat pembinaan mengenai jenis sampah dan cara memilahnya.

Setelah dipilah dari rumah, sampah dibawa ke sekolah untuk ditimbang. Selanjutnya, Bank Sampah Rosella membeli sampah tersebut dan hasil penjualannya dimasukkan ke rekening SimPel milik siswa.

Usmulyono mencontohkan, jenis sampah plastik tertentu memiliki harga sekitar Rp 4.000 per kilogram. Nilai tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi menjadi sarana pembelajaran bahwa barang yang dianggap tidak berguna masih mempunyai nilai ekonomi jika dikelola dengan tepat.

“Anak-anak kita ajarkan memilah sampah dari rumah. Setelah dibawa ke sekolah dalam keadaan terpilah, sampah tersebut dibeli melalui Bank Sampah Rosella dan hasilnya dimasukkan ke tabungan mereka,” jelasnya.

Menurut Usmulyono, manfaat program ini tidak berhenti pada transaksi jual beli sampah. Plastik yang terkumpul juga berpotensi diolah menjadi produk yang dapat digunakan kembali. Ia menyebut Pontianak telah memiliki fasilitas pengolahan plastik yang bisa menghasilkan berbagai produk, antara lain meja dan batako.

“Sampah plastik yang sudah dipilah nantinya bisa diolah menjadi bahan yang berguna, seperti meja, batako, dan sebagainya. Jadi bukan hanya dikumpulkan, tetapi juga bisa dimanfaatkan kembali,” katanya.

Dari sekolah untuk mengurangi sampah kota

Pengembangan bank sampah mini juga diarahkan untuk mengurangi sampah yang dibuang ke tempat penampungan sementara (TPS). Semakin banyak sampah yang dipilah dan dimanfaatkan sejak dari rumah maupun sekolah, semakin sedikit pula sampah yang harus ditangani pada tahap berikutnya.

Karena itu, DLH tidak hanya menargetkan bertambahnya jumlah bank sampah mini, tetapi juga perubahan perilaku siswa. Kebiasaan memilah sampah diharapkan terus dilakukan meskipun anak-anak berada di luar lingkungan sekolah.

“Yang ingin kita bangun adalah kesadaran sejak dini. Anak-anak terbiasa memilah sampah, memahami manfaatnya, sekaligus mendapatkan nilai ekonomi. Harapannya, kebiasaan ini terus terbawa sampai mereka dewasa,” ujar Usmulyono.

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan Adiwiyata di Kota Pontianak. Berdasarkan surat edaran Wali Kota, seluruh SD dan SMP di bawah kewenangan pemerintah kota didorong mengikuti program tersebut.

Pemkot Pontianak mengembangkan inisiatif ini melalui kolaborasi dengan Bank Kalbar dan organisasi perangkat daerah terkait. Upaya memperluas akses keuangan pelajar juga menjadi bagian dari capaian Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kota Pontianak yang meraih TPAKD Award 2026 kategori TPAKD Terbaik Tingkat Kota Wilayah Kalimantan.

Dengan menggabungkan tabungan dan pengelolaan sampah, pemerintah kota berharap pendidikan keuangan tidak hanya berlangsung melalui materi di kelas. Anak-anak bisa belajar langsung menghitung nilai barang, memahami proses transaksi, dan melihat hasil kebiasaan menabung dalam rekening mereka.

Dari botol plastik yang dikumpulkan di rumah, pelajar belajar dua hal sekaligus: menjaga lingkungan dan menyiapkan masa depan. (*/)