Surat Buat Bapak

0
Mursalin

Assalamualaikum

Pak..mohon maaf!
Lama sudah sebenarnya surat ini ingin Saya tulis.
Tapi entah kenapa. Lima tahun sudah berlalu, sekarang baru “bisa” Saya menuangkannya di sini.

Alhamdulillah Kami semua baik. Begitu juga tentunya Bapak di “sana” ya. Semoga selalu lapang, nyaman, dan lebih santai yang pastinya. Ehmmm… Mohon maaf ya Pak. Kok tiba tiba Saya jadi agak sentimentil ya. Padahal baru masuk bait kedua ini. Haru tak mampu rasanya dibendung. Alfatihah.

Oh iya Pak.
Banyak sebenarnya cerita yang ingin disampaikan. Seperti biasa. Kala dulu kita kalau sering ngobrol, selalu saja jam dinding di rumah terasa berputar kencang. Berisik suara cicak saat dinihari tak pernah kita hiraukan. Tetap saja Bapak asyik dengan segelas besar kopi dihiasi kepulan keretek. Walaupun Saya tidak ikut ikutan mengepul, tapi Saya ikut menikmatinya. Sesekali ada canda tawa. Dan kadang, juga tak jarang urat leher menegang kala berselisih paham.

Heboh wabah Covid 19, Pilkada dimusim pandemi, Vaksin Corona, Undang Undang Omnibuslaw, kehadiran Presiden baru negeri adidaya dan lain sebagainya, adalah diantara sederet hal yang terjadi sepanjang 2020 ini. Saya yakin, pastilah Bapak sesekali ikut mengintip dari kejauhan di sebalik kaca tebal nan bening di sana.

Dan Bapak tak perlu terlalu cemas ya. Namun jangan pula tersenyum sinis dan bahkan cekikikan, walaupun sepintas ada kesan dagelan-nya.

Dulu kalau tidak salah kan Pak, kita pernah meyakini betul, diera modern diabad seperti sekarang ini, manusia dengan kemajuan ilmu pengetahuannya, berbagai hal rasanya mampu untuk diatasi. Segala sesuatu terlayani dengan namanya teknologi yang canggih.

Tapi nyatanya, saat ini, menghadapi kehadiran makhluk super mikro yang ditubuhnya hanya terdiri dari secuil komponen senyawa kimia, toh Kami yang ada di dimensi bernama dunia, kelimpungannya minta ampun. Semua berjibaku dan bahkan menabuh genderang perang kepada si musuh super mikro bernama miss corona/mr covid 19 tersebut.

Jutaan umat manusia terinfeksi. Ratusan ribu meninggal di muka bumi ini olehnya. Bukan cuma itu, ekonomi juga porak peranda dimana mana. Hampir semua negara perekonomiannya tergoncang dengan pertumbuhan yang amat mencemaskan hingga dibawah nol persen.

Negeri kita Indonesia sekarang sedang masuk fase resesi lho, Pak, perekonomiannya. Luar biasa memang efek domino si makhluk mikro tersebut.

Oh iya Pak. Jadi Saya teringat dengan kesepakatan kita yang untuk selalu menaruh rasa optimisme dalam situasi segenting apapun. Sebab dunia tercipta dengan penuh keseimbangan, kata Kita. Diantara hal negatif tetap ada yang positif ikut menyertai.

Benar ternyata memang Pak. Contohnya yang sedang Kami alami saat ini. Setelah hampir tiga dasawarsa mencari dan menunggu, kini satu orang bagian dari keluarga kita yang sering Bapak sebut dulu, kini alhamdulillah sudah hadir. Haru gembira rasanya tak terbendung.

Ia hadir seakan membuat isu isu negatif yang bersliweran sepanjang tahun 2020 ini, tenggelam seketika. Portofolio anjlok dan lain sebagainya, kini dianggap sebagai hal yang biasa. Aneka minus tersebut terimbangi dengan kehadiran si plus. Atau kalau dalam kimiawi, ia adalah ibarat larutan penyangga, yang berfungsi menjaga keseimbangan antara asam dan basa.

Namun sebenarnya juga, bukan hanya soal bertambahnya keluarga tadi Pak-setelah hampir tiga dasawarsa dalam pencarian. Bukan pula plus minus dan juga asam basa. Namun kehadirannya seolah menyiratkan pesan dengan tegas dan jelas kepada Saya, ananda mu ini, bahwasanya “Kuasa Illahi itu benar benar nyata”.

Oh iya Pak.
Untuk sementara, ini dulu uraian isi surat yang bisa Ananda sampaikan. Semoga dilain waktu Saya dapat berkirim surat lagi dan bercerita lebih panjang lebar. Insya Allah, doa Kami semua akan selalu menyertai Bapak di sana.

Berbeda dimensi tentu bukan penghalang bagi Kita untuk terus berkomunikasi, ya Pak. Sembari kita sama sama menunggu, untuk nanti, Insya Allah, tetap bersama, saling berpegangan tangan penuh erat, beriringan melangkah, menuju dimensi berikutnya yaitu alam akhirat yang lebih kekal dan abadi.

Sekali lagi, salam rindu selalu dari Kami ya Pak. Alfatihah..amin.** (Penulis adalah biak Pemangkat dan bekerja di PonTV)

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 556 kali