KKP Terapkan Teknologi Tunnel-SWRO, Produksi Garam Bisa Jalan Sepanjang Tahun

Kementerian Kelautan dan Perikanan menerapkan teknologi Tunnel-Sea Water Reverse Osmosis untuk meningkatkan kualitas dan produksi garam nasional. Teknologi ini memungkinkan panen garam tetap berjalan meski musim hujan. Foto: KKP

KalbarOke.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkenalkan teknologi baru dalam sektor pergaraman nasional melalui penerapan Teknologi Evaporasi Pergaraman Tunnel–Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Inovasi ini memungkinkan produksi garam berkualitas tinggi berlangsung sepanjang tahun, tak lagi sepenuhnya bergantung pada musim kemarau.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, mengatakan teknologi SWRO yang dipadukan dengan sistem tunnel menjadi terobosan pertama di Indonesia dalam industri pergaraman. Selain meningkatkan efisiensi produksi, teknologi ini juga menghasilkan air bersih sebagai produk sampingan yang dapat dimanfaatkan masyarakat pesisir.

“Penerapan SWRO di sektor garam ini yang pertama di Indonesia. Bukan hanya meningkatkan kualitas dan kontinuitas produksi, tetapi juga membantu penyediaan air tawar di wilayah pesisir,” ujar Koswara saat meninjau implementasi teknologi tersebut di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu, 4 Februari.

Menurut Koswara, teknologi SWRO bekerja dengan menyaring air laut melalui proses pemisahan air tawar, senyawa garam, serta zat lain yang tidak dibutuhkan atau berpotensi berbahaya. Hasilnya berupa air laut bersih dengan kandungan natrium klorida (NaCl) murni dan tingkat kepekatan hingga 15 derajat Baume (BE).

Baca :  ICP Desember 2025 Turun ke USD 61,10 per Barel, Tertekan Isu Kelebihan Pasokan Global

“Kualitas bahan baku seperti ini membuat proses kristalisasi garam jauh lebih singkat, sekitar tiga sampai lima hari dalam kondisi normal. Produksi menjadi lebih efisien, hasilnya juga lebih konsisten,” kata Koswara.

Integrasi sistem tunnel dengan teknologi SWRO dinilai mampu menjawab tantangan utama produksi garam nasional, terutama ketergantungan pada cuaca. Selama ini, musim hujan kerap menghentikan aktivitas pergaraman rakyat dan berdampak pada pasokan serta kualitas produk.

Ketua Koperasi Produsen Sae Nalendra Darma Raga, Kabupaten Indramayu, Carmadi, mengakui manfaat langsung teknologi tersebut bagi petambak garam. Ia mengatakan, dengan sistem tunnel dan penggunaan geomembran, proses produksi tetap berjalan meski curah hujan tinggi.

Baca :  Menpar Widiyanti Ajak Industri Samakan Arah Pengembangan Pariwisata Nasional

“Dengan teknologi ini, garam yang dihasilkan lebih putih dan bersih, sesuai standar industri. Dalam waktu sekitar lima hari, kami sudah bisa panen,” ujar Carmadi.

Ia berharap penerapan teknologi SWRO dapat mendorong semangat petambak untuk berproduksi sepanjang tahun, sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka. Menurutnya, kepastian produksi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha pergaraman rakyat.

Penerapan teknologi Tunnel–SWRO sejalan dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yang menekankan modernisasi teknologi, peningkatan kualitas produk, dan pemberdayaan petambak sebagai pilar penguatan produksi dalam negeri. Melalui inovasi yang adaptif dan berkelanjutan, KKP optimistis target swasembada garam nasional dapat dicapai tanpa mengabaikan kesejahteraan masyarakat pesisir. (*/)