PMI Manufaktur RI Turun ke 49,1, Kemenperin Siapkan Insentif Hadapi Tekanan Global

Ilustrasi PMI manufaktur Indonesia turun ke 49,1 pada April 2026. Kemenperin menyiapkan insentif dan strategi untuk menjaga industri dari dampak geopolitik global. Foto: danjoualex dari Pixabay

KalbarOke.com – Kinerja sektor manufaktur Indonesia mengalami perlambatan pada April 2026, seiring meningkatnya tekanan akibat dinamika geopolitik global. Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 49,1 dari 50,1 pada Maret, menandakan kembali masuk fase kontraksi.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan penurunan tersebut dipicu oleh gangguan rantai pasok global, lonjakan harga komoditas, serta kenaikan biaya logistik akibat konflik geopolitik.

“Pelemahan PMI ini merupakan dampak dari dinamika global yang memengaruhi langsung aktivitas produksi industri nasional,” ujar Febri dalam keterangan resmi, Senin, 4 Mei 2026.

Sebagai respons, Kemenperin menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan industri. Di antaranya memperkuat koordinasi rantai pasok, termasuk pada sektor yang terdampak seperti industri plastik, serta mendorong penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) guna mengurangi ketergantungan pada mata uang asing.

Baca :  Prabowo Tiba di Jakarta Usai Lawatan Eropa, Bertemu Putin hingga Macron

Selain itu, pemerintah mempercepat perumusan kebijakan strategis seperti substitusi impor, peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), serta diversifikasi sumber bahan baku dan pasar ekspor.

Upaya ini juga diiringi dengan berbagai program pendampingan bagi pelaku industri, khususnya industri kecil dan menengah (IKM), serta percepatan transformasi digital untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. “Langkah-langkah ini bertujuan menjaga utilisasi produksi dan melindungi tenaga kerja dari potensi pemutusan hubungan kerja,” kata Febri.

Kemenperin juga tengah menyiapkan usulan insentif baru dan kebijakan perlindungan tambahan untuk menghadapi dampak lanjutan dari gejolak global, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Baca :  Aksi Tanam Mangrove dan Lepas Burung Perkuat Komitmen Jaga Lingkungan

Berdasarkan data regional, tekanan terhadap sektor manufaktur tidak hanya dialami Indonesia. Vietnam mencatat PMI sebesar 50,5 dan Malaysia 51,6, sementara Filipina mengalami kontraksi lebih dalam di level 48,3. Dengan capaian PMI 49,1, Indonesia berada pada kategori kontraksi moderat, namun dinilai masih relatif lebih resilien karena ditopang permintaan domestik.

Di sisi lain, survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) menunjukkan pelaku industri tetap optimistis terhadap prospek enam bulan ke depan, dengan tingkat kepercayaan mencapai 70,1 persen, meski sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya. “Ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk terus memperkuat struktur industri agar lebih tahan terhadap gejolak eksternal,” ujar Febri. (*/)