Pemkot Singkawang Genjot Pengukuran Balita untuk Tekan Stunting, Target Nasional Belum Tercapai

Ilustrasi Pemerintah Kota Singkawang memperkuat program pengukuran serentak balita guna menekan angka stunting yang meningkat pada 2025 dan mengejar target nasional cakupan pengukuran 85 persen. Foto: PublicDomainPictures dari Pixabay

KalbarOke.com – Pemerintah Kota Singkawang mulai mengoptimalkan program percepatan penurunan stunting melalui pelaksanaan Pengukuran Serentak Balita sebagai bagian dari Program Prioritas Pencegahan dan Penurunan Stunting Tahun 2026.

Program tersebut resmi dimulai melalui kegiatan persiapan intervensi yang digelar Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Kota Singkawang di Ruang Basement Kantor Wali Kota Singkawang, Selasa, 12 Mei 2026.

Staf Ahli Wali Kota Singkawang Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Antin Suprihatin, mengatakan persoalan stunting masih menjadi perhatian utama pemerintah daerah sehingga berbagai upaya penguatan layanan kesehatan masyarakat terus dilakukan, termasuk melalui posyandu.

Menurut Antin, berdasarkan data elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), cakupan pengukuran balita di Kota Singkawang pada 2025 baru mencapai 48,35 persen. Sementara pada triwulan pertama 2026, capaian tersebut berada di angka 39,99 persen atau masih jauh di bawah target nasional sebesar 85 persen.

Di sisi lain, prevalensi stunting di Kota Singkawang juga mengalami peningkatan. Pada 2025, persentase balita stunting tercatat sebesar 15,68 persen, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 13,65 persen.

Baca :  Yan Machmud Siapkan Single “SAMAWA”, Hadirkan Romantisme Cinta Abadi Bersama Sultan Syarif Melvin Alkadri dan Hendri Lamiri

“Persiapan yang dilakukan ini diharapkan dapat meningkatkan cakupan pengukuran balita di Kota Singkawang sehingga dapat mencapai target nasional sebesar 85 persen dan menurunkan angka stunting di Kota Singkawang menjadi di bawah 18 persen,” kata Antin.

Ia menilai keberhasilan program tersebut tidak dapat dilakukan pemerintah secara sendiri. Karena itu, dukungan lintas sektor mulai dari perangkat daerah, tenaga kesehatan, kader posyandu hingga masyarakat dinilai menjadi faktor penting.

“Dalam melaksanakan kegiatan program prioritas tentu saja tidak bisa dilakukan sendiri. Kami mengajak seluruh stakeholder serta masyarakat melalui kader posyandu untuk bersama-sama mewujudkan dan mendukung program ini,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan dan KB Kota Singkawang, dr Achmad Hardin, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut Program Prioritas Kota Singkawang Bidang Kesehatan Tahun 2026 sekaligus menindaklanjuti Surat Edaran Gubernur Kalimantan Barat Nomor 400.7/3/RO-Kesra/AB Tahun 2026 tentang Percepatan Penurunan Stunting di Kalimantan Barat.

Menurut Hardin, salah satu fokus utama program adalah pengukuran balita secara rutin setiap bulan melalui posyandu, puskesmas, hingga kunjungan rumah. “Kegiatan ini menjadi upaya penguatan program yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, salah satu kegiatannya yaitu pengukuran balita secara rutin setiap bulan baik di posyandu, puskesmas maupun kunjungan rumah,” katanya.

Baca :  Polda Metro Jaya Bongkar Lab Narkoba Vape Etomidate, WN Malaysia Ditangkap

Ia menambahkan, pengukuran rutin sangat penting untuk mendeteksi secara dini masalah gizi pada anak sehingga penanganan dapat segera dilakukan sebelum berkembang menjadi stunting. “Dengan pengukuran yang merata, apabila ditemukan permasalahan gizi pada balita, maka penanganan dapat segera dilakukan sehingga risiko stunting dapat ditekan sedini mungkin,” ujar Hardin.

Saat ini, Kota Singkawang memiliki 173 posyandu yang tersebar di lima kecamatan dan 26 kelurahan. Seluruh posyandu tersebut melayani 14.843 balita yang telah terdata dalam aplikasi e-PPGBM. Namun hingga Maret 2026, cakupan pengukuran balita masih berada di angka 39,99 persen sehingga menjadi tantangan yang harus segera diatasi bersama.

“Ini menjadi suatu tanggung jawab besar kita bersama, jadi mohon support dan dukungan semua pihak agar tahun ini data pengukuran balita dapat capaiannya lebih baik,” kata Hardin. (*/)