Sarah Lois Dora: Film Menjadi Jalan Masyarakat Adat Kalimantan Merebut Kembali Suara dan Identitas

Sutradara asal komunitas adat Kalimantan, Sarah Lois Dora, menilai film menjadi pintu awal bagi generasi muda mengenal identitas, tanah adat, dan memperkuat suara masyarakat adat di tengah tekanan investasi. Foto Deli Borneo

KalbarOke.com – Di tengah derasnya arus investasi perkebunan dan pertambangan yang kerap bersinggungan dengan wilayah adat, sineas perempuan asal komunitas adat Kalimantan yang kini bermukim di Malaysia, Sarah Lois Dora, meyakini bahwa perjuangan masyarakat adat tidak hanya dilakukan melalui aksi di lapangan.

Film dan karya seni, menurutnya, mampu menjadi pintu awal bagi generasi muda untuk mengenali kembali identitas sekaligus memperkuat posisi masyarakat adat dalam menentukan masa depan mereka sendiri. Hal itu disampaikan Sarah disela Rainforest Youth Summit (RAYS) 2026 yang digelar di Kuching, Sarawak, Malaysia, pada 24–26 Juni 2026 lalu.

Sarah dikenal sebagai sutradara yang konsisten mengangkat kehidupan masyarakat adat Sarawak, khususnya suku Kelabit. Lewat karya-karya seperti Songs of the Highlands maupun video musik Warrior Spirit milik Alena Murang, ia menghadirkan cerita tentang hubungan manusia, budaya, dan tanah adat kepada khalayak yang lebih luas.

Baginya, masyarakat adat Indonesia dan Malaysia memiliki ikatan sejarah yang jauh melampaui batas negara modern. “Hari ini saya memakai baju asal Indonesia. Sebab saya mau mengatakan bahwa kami sebenarnya satu, satu tanah, satu masyarakat, satu daratan,” tegasnya.

Menurut Sarah, pembangunan dan pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak mengabaikan pengetahuan yang telah diwariskan masyarakat adat selama ratusan bahkan ribuan tahun.

“Iya. Dan saya rasa walaupun kami mau—apa kata—membangun, tapi sebenarnya dalam masyarakat adat ada banyak informasi atau pengetahuan yang sangat berguna dalam membentuk ekonomi. Sebab kami masyarakat yang sudah ada berzaman-zaman. Jadi banyak pengetahuan yang memang ada dalam adat kami.”

Ia mengkritik pendekatan yang selama ini hanya menjadikan masyarakat adat sebagai sumber pengetahuan, tanpa memberi ruang bagi mereka untuk menentukan sendiri arah pembangunan.

Baca :  Kenapa Sarawak Jadi Tuan Rumah 700 Pemuda ASEAN di RAYS 2026? Ini Alasannya

“Tapi yang pentingnya, kami memberikan suara kepada masyarakat adat untuk—apa—ekspresi dalam cara mereka sendiri. Banyak, banyak, banyak kali orang lain yang cakap, ‘Oh, kami pergi kepada satu masyarakat, kami ambil pengetahuan kamu, dan kami membentuk sesuatu.’

Tetapi tidak, tidak boleh begitu. Kita mesti memberi kuasa balik kepada masyarakat adat untuk mereka secara direct (langsung), untuk membentuk sistem-sistem ekonomi untuk lebih membangun bersama.”

Pernyataan itu menjadi refleksi atas situasi yang juga terjadi di banyak wilayah Kalimantan, ketika investasi skala besar di sektor perkebunan maupun pertambangan kerap memicu konflik dengan masyarakat adat yang mempertahankan tanah leluhur mereka.

Film Sebagai Titik Awal Mengenal Tanah Adat

Bagi Sarah, film bukan tujuan akhir perjuangan budaya, melainkan pemantik rasa ingin tahu generasi muda terhadap akar identitas mereka. Ia mengaku pernah mengalami kegelisahan yang sama saat tumbuh di lingkungan modern dan mulai mempertanyakan arti tanah adat bagi dirinya.

“Memang saya rasa itu film jadi titik permulaan untuk mendapatkan rasa curiosity tentang adat mereka atau tanah mereka. Sebab ya kalau saya juga generasi saya, saya lahir di kantor. Tapi bila saya semakin dewasa, saya menanyakan apa sebenarnya pentingnya tanah adat kita kepada saya, apa sebenarnya identitas saya.” Ungkap Sarah dengan kental logat Bahasa Malay.

Sarah Lois Dora, Sineas Perempuan Asal Komunitas Adat Kalimantan di Malaysia. Foto Deli Borneo

Rasa ingin tahu itu kemudian membawanya kembali kepada orang tua dan para tetua adat untuk mencari jawaban. “And then, bila bila saya mula adanya pertanyaan yang itu, saya tanya, ‘Eh, siapa saya mau tanya pasal benda ini?’ So then, saya kena pergi kepada ibu bapak atau nenek moyang kalau ada, duduk di sana dan tanya, ‘Kenapa ini penting? Kenapa itu penting?’ Dari situ baru kita boleh dapat rasa itu apa kenapa kami harus jaga benda itu.”

Baca :  Timberland Medical Centre Ekspansi Rumah Sakit 200 Kamar, Sediakan Layanan Jemput dari PLBN Entikong dan Aruk

Sarah mengakui tidak semua generasi muda akan kembali hidup seperti leluhur mereka. Namun, setiap orang tetap dapat berkontribusi sesuai kemampuan yang dimiliki. “Dan mungkin kami tidak boleh menanam macam mereka, tapi kami boleh buat benda yang lain. Kami boleh naikkan awareness atau kami boleh—apa tu—tolong sedikit, tapi kita dapat itu experience. Dan dan kita dapat tengok apa itu sebenarnya connection dengan tanah dengan kita sebenarnya.”

Menurutnya, hubungan emosional dengan tanah adat hanya bisa dipahami ketika seseorang bersedia mengalami dan berinteraksi langsung dengan komunitasnya. Karena itu, ia menilai seni dan film hanyalah langkah awal. Upaya pelestarian budaya harus dilanjutkan melalui keterlibatan nyata sesuai profesi dan keahlian masing-masing.

“Ya, so film atau arts, itu hanya sebagai titik permulaan tapi at some point kita mesti involve juga dalam kapasitas dan skill yang kami ada. Ya, so tidak semestinya mereka kena tinggalkan kantor untuk selama-lamanya, tapi tapi mereka kena ada experience juga dan itu bermula dari relationship bersama dengan kita punya elders. Begitu.”

Melalui karya-karyanya, Sarah Lois Dora terus berupaya memastikan kisah masyarakat adat Kalimantan khususnya di tanah Sarawak tidak hanya menjadi dokumentasi budaya, tetapi juga menjadi pengingat bahwa identitas, pengetahuan lokal, dan hubungan dengan tanah merupakan modal penting dalam membangun masa depan yang lebih berkelanjutan. (deL)