Menjaga Napas Rumah Panjang Orang Ulu, Kisah Tradisi Pedalaman Sarawak Bertahan di Tengah Modernisasi

Rumah panjang Orang Ulu di Sarawak bukan sekadar tempat tinggal, tetapi simbol persatuan dan identitas budaya yang tetap dijaga di tengah arus modernisasi. Kisahnya hadir di Rainforest World Music Festival 2026. Foto: Deli Borneo

KalbarOke.com – Rumah panjang berdiri menjulang dengan ukiran menyerupai pucuk pakis di bagian depan. Di balik arsitektur kayu yang sederhana itu tersimpan kisah panjang tentang kehidupan masyarakat pedalaman Sarawak Malaysia yang hingga kini masih berusaha menjaga akar budayanya.

Suasana itulah yang diperkenalkan Kerin, pemerhati budaya di stan Rumah Adat Orang Ulu, Sarawak Cultural Village, dalam rangkaian Rainforest World Music Festival (RWMF) 2026. Sambil menyajikan aneka hidangan tradisional kepada pengunjung, ia bercerita mengenai filosofi rumah panjang yang menjadi identitas masyarakat Orang Ulu.

“Motif seperti pucuk pakis di bagian depan rumah menjadi penanda bahwa itu adalah rumah masyarakat Orang Ulu,” ujar Kerin.

Menurutnya, Orang Ulu bukanlah satu suku, melainkan sebutan kolektif bagi berbagai komunitas yang mendiami wilayah pedalaman Sarawak. Di antaranya suku Kayan, Kenyah, Kelabit, Penan, Lun Bawang hingga Kajang yang sejak lama hidup di kawasan hulu sungai dan pegunungan.

Sebagian besar komunitas itu tersebar di wilayah Baram, Belaga, Bario hingga kawasan Sungai Asap. Daerah-daerah tersebut dikenal sebagai pusat kehidupan masyarakat pedalaman Sarawak dengan rumah panjang yang masih berdiri hingga sekarang.

Rumah panjang bukan hanya bangunan tempat tinggal, melainkan pusat kehidupan sosial masyarakat. Dalam satu rumah dapat dihuni sekitar 50 hingga 100 keluarga.

Setiap keluarga memiliki satu unit ruang pribadi lengkap dengan dapur sendiri. Sementara bagian depan rumah berupa beranda memanjang dimanfaatkan sebagai ruang bersama untuk bermusyawarah, menggelar pesta adat hingga merayakan hari besar.

Baca :  Satgas Pamtas Gagalkan Penyelundupan 21,4 Kilogram Sabu dari Malaysia di Entikong

“Kalau ada pesta atau perayaan, semua warga berkumpul di ruang depan rumah panjang. Tetapi untuk memasak sehari-hari, setiap keluarga memiliki dapur masing-masing,” kata Kerin.

Keunikan rumah panjang mencerminkan cara hidup masyarakat yang mengedepankan kebersamaan tanpa menghilangkan ruang privat setiap keluarga.

Selain terkenal dengan rumah panjangnya, masyarakat Orang Ulu juga dikenal sebagai perajin yang terampil. Kaum perempuan secara turun-temurun membuat anyaman bakul, topi, pakaian tradisional hingga kerajinan manik-manik yang kini menjadi salah satu cendera mata khas Sarawak.

Di bidang pertanian, mereka menanam padi bukit yang menjadi bahan utama berbagai makanan tradisional. Salah satu kuliner khas Orang Ulu adalah pulut yang dibungkus menggunakan daun senapik, daun hutan yang menjadi ciri khas masyarakat pedalaman. Hidangan itu biasanya disajikan bersama ayam pansuh, pucuk ubi dan berbagai masakan tradisional lainnya.

Berbeda dengan masyarakat lain yang membungkus makanan menggunakan daun pisang, Orang Ulu mempertahankan penggunaan daun senapik sebagai bagian dari tradisi kuliner mereka. Meski modernisasi terus berkembang, Kerin mengatakan rumah panjang di pedalaman Sarawak masih dihuni oleh banyak keluarga.

Sebagian generasi muda memang memilih bekerja di kota-kota besar seperti Miri maupun Kuching. Namun ketika Hari Gawai atau Natal tiba, mereka akan kembali ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga di rumah panjang. “Rumah panjang masih ada dan masih menjadi tempat berkumpul keluarga besar ketika ada perayaan,” ujar Kak Irni sapaan akrabnya.

Baca :  Kenapa Sarawak Jadi Tuan Rumah 700 Pemuda ASEAN di RAYS 2026? Ini Alasannya

Tradisi adat juga masih dijaga meski sebagian besar masyarakat Orang Ulu kini memeluk agama Kristen. Beberapa ritual lama tetap dipertahankan oleh para tetua adat sebagai warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Perkampungan asli Orang Ulu saat ini juga telah menjadi tujuan wisata budaya di Sarawak. Wisatawan domestik maupun mancanegara datang untuk melihat langsung kehidupan masyarakat pedalaman, mempelajari rumah panjang hingga melakukan penelitian mengenai adat dan tradisi Orang Ulu.

Kehidupan masyarakat Orang Ulu sendiri masih sangat dekat dengan alam. Mereka tinggal di kawasan pegunungan maupun tepian sungai, sehingga mata pencaharian utamanya berasal dari bercocok tanam dan menangkap ikan di sungai.

Sementara itu, aturan perkawinan yang dahulu cukup ketat kini mulai berubah mengikuti perkembangan zaman. Jika sebelumnya perkawinan dianjurkan berlangsung dalam komunitas yang sama untuk menjaga identitas budaya, kini masyarakat Orang Ulu telah terbuka terhadap perkawinan lintas etnis.

“Bila dulu lebih banyak menikah sesama komunitas, sekarang sudah bebas. Kawin campur sudah menjadi hal yang biasa,” tutur Kerin.

Melalui stan budaya di RWMF 2026, kisah tentang Orang Ulu tidak hanya diperkenalkan lewat rumah adat atau makanan tradisional, tetapi juga menjadi pengingat bahwa di balik derasnya modernisasi, masih ada komunitas yang terus menjaga rumah panjang sebagai simbol persatuan, identitas, dan memori kolektif masyarakat pedalaman Sarawak. (deL)