KalbarOke.com – Riuh musik dari berbagai penjuru dunia di Rainforest World Music Festival (RWMF) 2026 ternyata hanya menjadi satu sisi cerita di Sarawak Cultural Village. Di balik kemeriahan panggung, terdapat puluhan eco station yang menjadi garda depan pengelolaan sampah sekaligus sarana edukasi lingkungan bagi ribuan pengunjung.
Setiap eco station ditempatkan di sejumlah titik strategis kawasan festival. Di lokasi tersebut tersedia lima kategori tempat sampah, yakni logam (metals), kaca (glass), kertas (paper), plastik (plastics), serta sampah umum (general waste). Sistem ini memudahkan pengunjung memilah sampah sejak awal sebelum diproses lebih lanjut.
Seluruh sampah yang terkumpul kemudian dibawa menuju tempat penampungan sementara di bagian belakang kawasan Sarawak Cultural Village. Sampah bernilai ekonomi ditimbang sebelum dikirim ke perusahaan daur ulang, sedangkan limbah organik disalurkan kepada petani untuk diolah menjadi kompos.
Menurut Pengelola EcoGreen Sarawak Tourism Board, Kevin Nila Nangai Christopher, sistem tersebut lahir dari evaluasi pengelolaan sampah festival pada tahun-tahun sebelumnya.
“Dulu semua sampah dikumpulkan lalu langsung dibawa ke tempat pelupusan. Setelah dikaji, kami melihat ada cara yang lebih baik, yaitu melakukan pemilahan antara plastik, kertas, kaca, aluminium, hingga sisa makanan. Dengan begitu, tidak semua sampah harus dibuang ke tempat pelupusan karena sebagian masih bisa didaur ulang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, aluminium bekas minuman, botol kaca, kertas, hingga beberapa jenis plastik masih memiliki nilai ekonomi sehingga dapat dimanfaatkan kembali. Sementara sisa makanan diproses menjadi bahan kompos untuk mendukung pertanian.
Selain fasilitas pemilahan sampah, setiap eco station juga dilengkapi papan edukasi yang menjelaskan pentingnya memilah limbah sejak dari sumbernya. Pengelolaan lingkungan tersebut merupakan bagian dari program ecoGreen, inisiatif pariwisata berkelanjutan milik Sarawak Tourism Board yang melekat pada penyelenggaraan Rainforest World Music Festival.

Program ini tidak hanya menghadirkan eco station, tetapi juga mengembangkan kawasan Green Ruai, melibatkan relawan Green Warriors, menyediakan stasiun isi ulang air minum gratis, hingga menerapkan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai selama festival berlangsung.
Panitia juga mendorong pengunjung menggunakan layanan shuttle bus gratis dari pusat Kota Kuching menuju lokasi festival guna menekan emisi kendaraan pribadi. Kevin mengungkapkan, efektivitas sistem pemilahan sampah mulai terlihat dari hasil penyelenggaraan festival sebelumnya.
“Tahun lalu selama tiga hari festival dengan sekitar 26 ribu pengunjung, total sampah mencapai sekitar 4,5 ton. Dengan sistem pengasingan sampah, kami berhasil mengurangi sekitar 1,5 ton atau sekitar 31 persen sampah yang masuk ke tempat pelupusan,” ungkapnya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari meningkatnya kesadaran pengunjung yang sudah terbiasa menggunakan eco station sesuai jenis sampah masing-masing. Petugas dan relawan Green Warriors turut berjaga di berbagai titik untuk membantu pengunjung menentukan kategori sampah yang benar.
“Saat pengunjung datang, staf kami akan menunjukkan tempat sampah yang sesuai. Kami sangat berterima kasih karena para pengunjung cukup disiplin dan tidak membuang sampah sembarangan,” katanya.
Kesadaran lingkungan juga terlihat dari perilaku para perokok selama festival berlangsung. Mereka memilih menggunakan area merokok yang telah disediakan panitia. Di setiap smoking area tersedia batang bambu yang difungsikan sebagai tempat penampungan puntung rokok sehingga tidak mencemari kawasan hutan.
Di sela-sela pertunjukan musik, relawan Green Warriors rutin berkeliling memungut sampah yang tertinggal sekaligus mengosongkan bambu penampung puntung rokok. Bagi Sarawak Tourism Board, keberhasilan RWMF tidak hanya diukur dari jumlah penonton maupun penampilan musisi internasional, tetapi juga dari keberhasilannya membangun budaya baru dalam mengelola sampah.
“Harapannya festival ini bukan hanya tentang musik, tetapi juga menjadi sarana pendidikan lingkungan. Orang datang menikmati festival, namun tetap menjaga alam di sekitarnya,” tutur Kevin.
Melalui pendekatan tersebut, RWMF 2026 menunjukkan bahwa festival berskala internasional dapat berjalan berdampingan dengan upaya pelestarian lingkungan, menjadikan kawasan hutan hujan Kalimantan tetap terjaga di tengah ramainya kunjungan wisatawan. (deL)







