Tragis di Jalur Tikus Perbatasan: 84 Burung Kacer Diselundupkan dari Malaysia, Puluhan Mati Meringkuk

Satgas Pamtas dan Karantina Kalbar menggagalkan dugaan penyelundupan 84 ekor burung kacer di perbatasan RI-Malaysia, Jagoi Babang. 28 ekor ditemukan mati. Foto: dok Karantina Kalbar

KalbarOke.com — Jalur-jalur gelap di perbatasan Indonesia–Malaysia kembali menjadi saksi bisu maraknya perdagangan satwa liar secara ilegal. Petugas gabungan yang berpatroli di kawasan perbatasan Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, berhasil mencegat upaya pengangkutan puluhan ekor burung kacer (Copsychus saularis). Sayang, tak semua satwa eksotis itu selamat sampai tujuan.

Pengungkapan ini bermula dari patroli bersama prajurit Satgas Pamtas RI-MLY Yonarmed 19/Bogani Pos Kumba Semunying dan tim Satgas BAIS TNI di medan rawan perbatasan. Mendapati adanya pergerakan mencurigakan yang mengangkut satwa liar tanpa dokumen karantina resmi, petugas langsung mengamankan barang bukti dan menyerahkannya ke Badan Karantina Indonesia melalui Karantina Kalbar Satuan Pelayanan (Satpel) Jagoi Babang.

Di kantor Satpel Jagoi Babang, potret muram perdagangan satwa ilegal terhampar. Dokter Hewan Karantina, Nandhardi Adiyasa dan Septiadi Yusuf Sulaiman, bersama tim medis langsung melakukan pendataan dan pemeriksaan fisik. Hasilnya, dari total 84 ekor burung kacer yang berhasil disita, sebanyak 28 ekor ditemukan telah mati membusuk—diduga akibat stres, dehidrasi, dan pengemasan yang menyiksa selama perjalanan. Hanya 56 ekor yang berhasil bertahan hidup dalam kondisi lemas.

Baca :  Kalbar Perketat Pengawasan Lalu Lintas Ternak, Tim Terpadu Dibentuk Cegah Wabah Penyakit Hewan

Proses serah terima resmi kemudian digelar di Kantor BKSDA Resort Sanggau Ledo Pos Jagoi Babang, dihadiri perwakilan Yonarmed 19/Bogani Letda CPL Alfian Frayoga Simbolin, Serma Casis dari BAIS TNI, serta Kepala Resort KSDA Sanggau Ledo Ardiyansah, Selasa (28/7/2026).

“Sinergi ketat antarinstansi di perbatasan merupakan kunci utama dalam menjaga keamanan sumber daya alam hayati kita. Kami memastikan seluruh proses pemeriksaan medis dan pendataan administrasi berjalan ketat sesuai SOP sebelum diserahterimakan ke BKSDA,” tegas Penanggung Jawab Satpel PLBN Jagoi Babang, Noval Isnaeni.

Baca :  Menelusuri Jejak Sultan Tengah: Kisah Pemersatu Sejarah Sarawak, Sukadana, dan Sambas Versi Jiran

Kini, puluhan burung kacer yang tersisa berada di bawah penanganan BKSDA Resort Sanggau Ledo untuk perawatan medis intensif, karantina pemulihan, dan persiapan pelepasliaran kembali ke habitat aslinya. Polisi dan otoritas perbatasan masih mendalami jalur penyelundupan ini guna mengejar pihak-pihak yang bertanggung jawab di balik bisnis haram lintas negara tersebut. (*/)