KalbarOke.com – Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk menunggu sesuatu yang bagi sebagian orang merupakan kebutuhan sehari-hari. Namun bagi warga Desa Sejowet, Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, penantian itu akhirnya berakhir pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Lampu menyala. Tangis haru dan sukacita pecah ketika program Listrik Desa (Lisdes) akhirnya masuk ke wilayah mereka. Rumah-rumah yang selama bertahun-tahun mengandalkan penerangan terbatas kini mulai diterangi listrik. Bagi warga Sejowet, cahaya itu bukan sekadar soal lampu. Ia menjadi penanda bahwa pembangunan akhirnya menjangkau wilayah yang berada jauh dari pusat kota.
Momen tersebut juga terasa istimewa karena berlangsung pada bulan kemerdekaan. Di tengah perayaan kemerdekaan, warga Sejowet merasakan bentuk lain dari arti pemerataan: menikmati fasilitas dasar yang selama ini lebih mudah ditemukan di wilayah perkotaan.
Perjuangan menghadirkan listrik ke Sejowet telah dimulai sejak Juni 2023. Perjalanan itu tidak selalu mulus. Kondisi geografis, dinamika di lapangan, hingga proses administrasi menjadi bagian dari panjangnya proses menuju elektrifikasi desa. Namun pemerintah desa dan masyarakat tidak berhenti mengawal rencana tersebut.
Tiga tahun kemudian, tepat pada Agustus 2026, harapan itu berubah menjadi kenyataan. Semboyan “Desa Sejowet Terang” yang selama ini menjadi harapan warga kini bukan lagi sekadar kalimat.
Kepala Desa Sejowet, Siel, mengatakan masuknya listrik merupakan bagian dari perjuangan untuk mewujudkan pemerataan hak masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di pedalaman. “Mimpi saya adalah adanya pemerataan hak bagi seluruh warga negara dan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Siel.
Ia berharap masyarakat pedalaman dapat menikmati fasilitas yang selama ini identik dengan kehidupan di perkotaan. “Apa yang dinikmati masyarakat di kota, kiranya juga dapat dinikmati oleh masyarakat yang berada di pedalaman dan pelosok negeri,” ujarnya.
Siel mengakui perjalanan menuju hadirnya listrik di Sejowet penuh tantangan. Namun masyarakat memilih bertahan dan terus mengawal prosesnya. “Kami melewati arus yang begitu deras, tetapi Puji Tuhan, semua perjuangan itu akhirnya boleh terjawab. Terang itu datang pada waktunya,” katanya.
Penyalaan listrik menjadi momen yang sekaligus menghapus penantian panjang tersebut. Warga yang menyaksikan langsung lampu menyala di rumah-rumah mereka menyambutnya dengan sukacita.
Bagi sebagian warga, pengalaman itu sulit diterjemahkan dalam kata-kata. “Kami sangat bersyukur dan berbahagia. Penantian selama bertahun-tahun akhirnya terwujud,” ujar seorang warga. Selama ini, kata dia, warga hanya bisa berharap dan berdoa agar jaringan listrik masuk ke desa mereka. Kini, mereka melihat sendiri cahaya tersebut menerangi rumah-rumah.
Warga tidak ingin listrik hanya berakhir sebagai penerangan rumah. Mereka berharap energi listrik membuka jalan bagi perubahan yang lebih besar. Sektor pendidikan menjadi salah satu yang paling diharapkan mendapat manfaat.
Dengan penerangan yang lebih baik, anak-anak dapat belajar pada malam hari tanpa bergantung pada sumber cahaya terbatas. Akses terhadap teknologi dan informasi juga semakin terbuka.
Listrik juga diharapkan memberi ruang bagi usaha masyarakat untuk berkembang. Aktivitas ekonomi yang sebelumnya terbentur keterbatasan energi kini memiliki peluang untuk dijalankan lebih lama dan lebih produktif.
“Semoga dengan adanya listrik ini, anak-anak kami semakin terbantu dalam belajar pada malam hari, kegiatan ekonomi masyarakat dapat berkembang, dan kesejahteraan warga semakin meningkat,” kata warga tersebut.
Bagi masyarakat Sejowet, jaringan listrik PLN yang kini masuk ke desa mereka memiliki arti lebih besar daripada sekadar infrastruktur. Setelah tiga tahun menunggu, warga akhirnya mendapatkan fasilitas dasar yang selama ini mereka perjuangkan.
Cahaya itu juga membawa harapan baru: pendidikan yang lebih baik, usaha yang lebih berkembang, akses informasi yang lebih luas, dan kehidupan masyarakat yang semakin mandiri. Warga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah desa dan seluruh pihak yang ikut mengawal hadirnya listrik di Sejowet. Kini, setelah tiga tahun menanti, Desa Sejowet benar-benar terang.
Lampu yang menyala pada 6 Agustus itu mungkin hanya terlihat sebagai cahaya kecil di tengah luasnya pedalaman Landak. Namun bagi warga Sejowet, cahaya tersebut menandai satu hal penting: harapan dari pelosok pun bisa sampai pada waktunya. (dRi)






