KalbarOke.com – Jemari itu bergerak pelan menyusuri senar-senar kayu. Nada demi nada mengalir lembut, mengisi ruang Rumah Adat Orang Ulu di Sarawak Cultural Village, Sentubong. Di tengah riuh ribuan pengunjung Rainforest World Music Festival (RWMF), alunan sape justru menghadirkan suasana hening. Seolah mengajak setiap orang berhenti sejenak untuk mendengarkan suara hutan yang telah diwariskan turun-temurun.
Bentuknya menyerupai perahu kecil. Dipahat dari sebatang kayu utuh, sape menjadi salah satu alat musik paling ikonik milik masyarakat Orang Ulu, terutama suku Dayak Kayan dan Kenyah yang hidup di pedalaman Sarawak dan Kalimantan.
Dahulu, alat musik petik ini bukan sekadar hiburan. Sape dipercaya memiliki nilai spiritual dan hanya dimainkan dalam ritual penyembuhan serta upacara adat. Kini, perannya berubah mengikuti zaman.
Di panggung-panggung festival dunia, sape dapat berpadu dengan bass, keyboard, hingga instrumen elektronik. Namun, di sudut Rumah Adat Orang Ulu, suara sape tetap dimainkan dalam bentuk paling tradisional.
“Kalau di Bungan Creative, kami masih mempertahankan musik tradisional. Memang ada yang sudah dimodernisasi, tetapi yang kami ajarkan kepada murid tetap alunan tradisional,” kata Lucinda Lucas, pengajar dari Bungan Creative Sarawak.
Menurut Lucinda, sape awalnya hanya boleh dimainkan oleh laki-laki Orang Ulu. Tradisi itu perlahan berubah seiring regenerasi. “Sekarang lelaki dan perempuan sama-sama belajar bermain sape sejak usia muda. Dulu hanya lelaki yang boleh memainkannya,” ujarnya.
Perubahan itu menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi tetap hidup tanpa kehilangan akar budayanya. Meski demikian, tantangan lain muncul. Di kawasan pedalaman seperti Bario, banyak generasi muda Orang Ulu memilih merantau ke kota untuk sekolah maupun bekerja.
“Anak-anak memang banyak yang pindah ke Bandar. Tetapi orang tua sekarang tetap mengajarkan budaya kepada mereka. Banyak yang mulai belajar bermain sape walaupun tinggal di kota,” katanya.
Upaya pelestarian sape juga dilakukan oleh Bungan Creative Sarawak, Malaysia. Managing Director Bungan Creative, Elizabeth Bungan Peter, mengatakan pihaknya membangun sekolah seni yang mengajarkan musik dan tari tradisional kepada anak-anak sejak usia dini.
Sekitar 50 pelajar belajar memainkan alat musik tradisional, termasuk sape, sementara belasan lainnya mempelajari tarian khas Orang Ulu. “Sape adalah alat musik yang menceritakan tradisi masyarakat Orang Ulu. Dahulu namanya sape Bali dengan dua senar dan digunakan dalam ritual penyembuhan. Kemudian berkembang menjadi enam senar untuk hiburan,” kata Elizabeth.

Selain sape, para siswa juga dikenalkan dengan alat musik tradisional lain seperti lutong, jatung utang, dan selingut, yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Orang Ulu.
Perkembangan teknologi membuat banyak sape kini diproduksi dalam versi elektrik sehingga lebih mudah dipadukan dengan musik modern. Namun bagi Elizabeth, modernisasi hanyalah pintu masuk. Tradisi tetap menjadi tujuan utama.
“Kami menjangkau anak-anak melalui musik yang lebih modern terlebih dahulu. Setelah mereka jatuh cinta kepada sape, barulah kami bawa mereka kembali kepada alunan tradisional,” ujarnya, seraya berharap strategi itu dinilai akan efektif mengenalkan budaya kepada generasi yang tumbuh di era digital.
Meski sama-sama berasal dari rumpun Dayak, setiap komunitas memiliki karakter permainan sape yang berbeda. Elizabeth menjelaskan, sape milik masyarakat Kayan, Kenyah, dan Kelabit memiliki pola melodi tersendiri. Sementara masyarakat Iban mengenal alat musik serupa dengan nama berbeda dan karakter permainan yang juga tidak sama.
“Kalau Iban mempunyai melodinya sendiri. Orang Kayan dan Kenyah memiliki banyak alunan yang berkaitan dengan tradisi mereka,” katanya.
Di sejumlah wilayah pedalaman Kalimantan, menurut Elizabeth, sape dua senar yang digunakan dalam ritual adat masih dapat ditemukan dan dimainkan oleh masyarakat setempat. Sedangkan di Rainforest World Music Festival, sape bukan hanya menjadi bagian dari pertunjukan musik.
Instrumen ini menjadi pintu bagi wisatawan untuk mengenal identitas masyarakat Orang Ulu, Sarawak, Malaysia, sekaligus menyaksikan bagaimana sebuah tradisi mampu bertahan di tengah arus globalisasi.
Di balik denting nadanya yang lembut, sape menyimpan kisah tentang leluhur, hutan, ritual, dan perjalanan panjang sebuah budaya yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Yah, di Rumah Adat Orang Ulu, kaki bukit Sentubong, suara itu masih terdengar. Mengalun pelan nan merdu menusuk kalbu. Namun cukup kuat untuk mengingatkan bahwa warisan budaya tidak selalu bertahan karena dipajang di museum, melainkan karena terus dimainkan. (deL)







