Suara 41 Anak TK Menggema di Kantor Wali Kota Singkawang, Pancasila Jadi Panggung Pertama

Sebanyak 41 anak TK dan PAUD mengikuti lomba pembacaan Pancasila di Singkawang. Kegiatan menjadi pembuka Gebyar HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Foto: dok Humas Pemkot Singkawang

KalbarOke.com – Sebanyak 41 anak TK dan PAUD bergantian membacakan lima sila Pancasila di Basement Kantor Wali Kota Singkawang, Selasa, 11 Agustus 2026. Suara mereka yang masih polos menjadi pembuka rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Singkawang.

Di hadapan Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Singkawang Asmadi, anak-anak itu tampil dengan semangat. Bagi pemerintah kota, lomba tersebut bukan sekadar perlombaan menyambut hari kemerdekaan.

Panggung itu menjadi cara mengenalkan Pancasila kepada anak-anak sebelum nilai-nilainya mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Tjhai Chui Mie mengaku bangga melihat anak-anak Singkawang mulai mengenal nilai kebangsaan sejak usia dini.

“Saya sangat bangga karena Dinas Pendidikan dan Kebudayaan konsisten menggelar perlombaan yang membangkitkan rasa nasionalisme anak-anak sejak usia dini di setiap HUT Kemerdekaan Republik Indonesia,” kata Tjhai Chui Mie.

Menurut Tjhai Chui Mie, pendidikan kebangsaan tidak cukup berhenti pada hafalan atau teori di ruang kelas. Nilai-nilai Pancasila, kata dia, perlu diperkenalkan melalui kegiatan yang membuat anak berinteraksi sekaligus belajar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, rangkaian Gebyar HUT ke-81 RI di Singkawang tidak hanya menghadirkan lomba pembacaan teks Pancasila. Ada pula lomba membaca teks Proklamasi dan cerdas cermat bertema wawasan kebangsaan.

Baca :  Lima Santri Kuttab Al Kayyis Pontianak Lulus Khotmul Qur'an dan Imtihan Tartil Metode Ummi

Tjhai Chui Mie meminta guru dan orang tua ikut mengambil peran dalam proses tersebut. “Saya mengajak seluruh guru dan orang tua aktif membimbing anak-anak agar senantiasa mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia menilai Pancasila bukan hanya simbol atau ideologi negara, tetapi juga menjadi fondasi untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat. “Pancasila bukan sekadar ideologi bangsa, tetapi juga menjadi alat perekat persatuan dan kesatuan bangsa,” katanya.

Lomba pembacaan Pancasila menjadi awal dari rangkaian kegiatan yang disiapkan Pemerintah Kota Singkawang untuk memperingati HUT ke-81 RI. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang Asmadi mengatakan pembukaan resmi Gebyar HUT Kemerdekaan akan berlangsung Rabu, 12 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut dibuka melalui Senam Cinta Tanah Air Indonesia di halaman Kantor Wali Kota Singkawang. Pesertanya tidak hanya anak sekolah. Tenaga pendidik, pelajar, aparatur sipil negara, TNI dan Polri juga dilibatkan. Setelah senam, suasana perayaan akan bergeser ke permainan tradisional.

Baca :  Herman Hofi Desak Transparansi Bandara Singkawang, Minta Polemik Dijawab dengan Dokumen Bukan Narasi

Bagi Asmadi, pilihan itu bukan sekadar upaya membuat perayaan kemerdekaan lebih meriah. Permainan tradisional dianggap sebagai salah satu cara menjaga warisan budaya yang mulai jarang dimainkan anak-anak.

“Perlombaan permainan tradisional merupakan upaya Pemkot Singkawang merawat warisan budaya bangsa sekaligus mengajarkan generasi muda, khususnya pelajar, untuk lebih mengenal permainan tradisional,” ujar Asmadi.

Permainan tradisional juga dipandang memiliki nilai pendidikan yang tidak kalah penting dengan lomba yang berorientasi pada pengetahuan. Di dalam permainan, anak-anak belajar bekerja dalam kelompok, mengikuti aturan, saling membantu, dan menerima hasil permainan bersama.

Asmadi mengatakan nilai tersebut sejalan dengan karakter yang ingin ditanamkan melalui pendidikan kebangsaan. “Permainan tradisional banyak mengandung nilai-nilai kebersamaan, gotong royong dan kerja sama yang merupakan identitas bangsa Indonesia,” katanya.

Di Singkawang, perayaan kemerdekaan tahun ini pun dimulai dari hal-hal sederhana: 41 anak berdiri membacakan Pancasila, lalu generasi yang lebih besar diajak kembali bermain permainan tradisional. Pesannya sama—kemerdekaan bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk diwariskan melalui karakter, kebersamaan dan rasa memiliki terhadap Indonesia. (*/)