Ratusan Relawan Pancasila di Kubu Raya Disiapkan Hadapi Banjir Informasi dan Hoaks

Komisi XIII DPR RI dan BPIP memperkuat kapasitas ratusan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila di Kubu Raya untuk menghadapi hoaks dan banjir informasi digital. Foto: Jackmus

KalbarOke.com — Pancasila tak hanya diuji di ruang kelas atau forum kenegaraan. Di tengah banjir informasi dari media sosial, nilai-nilai itu diuji setiap kali masyarakat menerima sebuah kabar: mempercayainya, memeriksanya, atau ikut menyebarkannya.

Persoalan itu menjadi salah satu perhatian dalam pelatihan dan penguatan kapasitas ratusan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Jumat petang, 11 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Kubu Raya tersebut digelar Komisi XIII DPR RI bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Peserta berasal dari berbagai kelompok masyarakat. Ada kepala desa, pemuda, tokoh agama, hingga organisasi wanita. Anggota Komisi XIII DPR RI Franciscus Maria Agustinus Sibarani mengatakan para relawan perlu memiliki pemahaman yang kuat mengenai Pancasila sekaligus kemampuan menerjemahkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

“Sebagai miniaturnya Indonesia, kader-kader terbaik di Kabupaten Kubu Raya yang tergabung dalam Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila ini diharapkan mampu membangun dan menjaga ideologi Pancasila yang lebih baik ke depannya,” kata Sibarani.

Menurut dia, tantangan terhadap nilai Pancasila semakin kompleks seiring perkembangan teknologi informasi. Media sosial memungkinkan sebuah informasi menyebar dalam hitungan detik, termasuk informasi yang belum teruji kebenarannya.

Baca :  BKPSDM Landak Kejar Target 100 Persen Arsip Digital ASN, Skor DMS Baru 63,5 Persen

Karena itu, Sibarani meminta relawan tidak berhenti pada pemahaman teoritis mengenai Pancasila. Mereka diharapkan menjadi penggerak di lingkungan masing-masing untuk membantu masyarakat memilah informasi.

“Di sinilah diperlukan peran Gerakan Relawan Kebajikan Pancasila untuk memberikan pemahaman dan edukasi kepada masyarakat, sehingga masyarakat memiliki kecerdasan, kemampuan dan kapasitas dalam mengkaji, mereview, memilah dan memilih informasi yang benar,” ujarnya.

Ia berharap relawan dapat membantu menangkal hoaks sekaligus membangun kebiasaan masyarakat untuk memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurut dia, keberadaan relawan menjadi penting di tengah globalisasi dan derasnya arus informasi digital. Masyarakat, kata dia, membutuhkan edukasi agar tidak mudah menerima informasi yang belum jelas kebenarannya, terlebih kemudian menyebarkannya kepada orang lain.

Pemateri Gerakan Relawan Kebajikan Pancasila, Uray Emma Yaniaries, mengatakan Pancasila tidak cukup ditempatkan sebagai teori. Nilai-nilainya harus hadir dalam perilaku sehari-hari.

“Pesatnya perkembangan zaman dan kemajuan teknologi saat ini berdampak semakin tergerusnya nilai-nilai Pancasila. Setiap individu memiliki tugas untuk menyadarkan masyarakat bahwa nilai-nilai Pancasila ini merupakan kompas bagi bangsa ini,” ujar Emma.

Baca :  Tertinggal 16-19, Yeremia/Patra Bangkit di Ujung Laga dan Lolos ke Final Polytron Pontianak International Challenge

Menurut dia, keterlibatan berbagai unsur masyarakat dapat memperluas gerakan tersebut. Kepala desa dapat bergerak di tingkat pemerintahan desa. Pemuda menjadi penggerak di komunitasnya. Tokoh agama dapat memberikan pemahaman di lingkungan keagamaan. Organisasi wanita juga dapat mengambil peran di tengah keluarga dan masyarakat.

Selain pelatihan, Sibarani menyerahkan bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Kubu Raya berupa 20.000 masker dan 150 tabung oksigen portabel. Bantuan tersebut diberikan di tengah kondisi lingkungan dan kualitas udara yang menjadi perhatian masyarakat Kubu Raya. Sementara pelatihan Pancasila diarahkan untuk membangun ketahanan masyarakat menghadapi tantangan informasi.

Bagi para relawan, tugas itu pada akhirnya bukan sekadar menghafal lima sila. Mereka dituntut menjadikan Pancasila sebagai pedoman ketika menghadapi persoalan sehari-hari, termasuk ketika berhadapan dengan informasi yang berseliweran di layar telepon genggam.

Di tengah derasnya arus digital, kemampuan untuk berhenti sejenak, memeriksa fakta, dan tidak ikut menyebarkan kabar palsu menjadi bagian dari praktik nilai kebangsaan. (J-Mus)