KalbarOke.com — Final ganda campuran POLYTRON Pontianak International Challenge 2026 nyaris tak memberi ruang untuk bernapas. Dejan Ferdinansyah/Apriyani Rahayu harus melewati gim kedua yang berlangsung hingga 27-25 sebelum akhirnya menaklukkan pasangan China Taipei, Sheng Ming Lin/Liang Ching Sun, dalam tiga gim di GOR Terpadu Ahmad Yani, Pontianak, Minggu, 30 Agustus 2026.
Dejan/Apriyani menang dengan skor 19-21, 27-25, 21-19. Gelar tersebut menjadi trofi pertama mereka sejak dipasangkan. Pertandingan berjalan ketat sejak awal. Pada gim pertama, kedua pasangan terlibat jual beli serangan. Tidak ada pasangan yang mampu benar-benar meninggalkan lawan hingga memasuki poin-poin akhir.
Lin/Sun akhirnya lebih tenang ketika tekanan meningkat. Pasangan China Taipei itu mengamankan gim pertama dengan skor 21-19. Dejan/Apriyani tidak membiarkan pertandingan berakhir cepat. Gim kedua justru berubah menjadi pertarungan panjang yang menguras konsentrasi kedua pasangan.
Indonesia sempat tertinggal dua angka pada awal gim, tetapi mampu menyamakan kedudukan 10-10. Dejan/Apriyani kemudian berbalik unggul 12-11 sebelum Lin/Sun kembali menyamakan skor. Momentum kembali berpindah ketika pasangan China Taipei unggul 16-13. Dejan/Apriyani merespons dengan permainan yang lebih berani. Mereka mengejar hingga berbalik memimpin 17-16.
Sebuah smash keras Sheng Ming Lin menghentikan laju pasangan Indonesia dan membuat skor kembali 17-17. Drama semakin panjang setelah kedua pasangan sama-sama mencapai 19 angka. Skor kembali imbang 20-20 dan pertandingan harus memasuki deuce. Setelah itu, kejar-kejaran angka berlangsung tanpa henti. 21-21, 22-22, hingga 23-23.
Dukungan penonton yang memenuhi GOR Terpadu Ahmad Yani menjadi energi tambahan bagi Dejan/Apriyani. Mereka akhirnya mendapatkan kesempatan memimpin 26-25 sebelum menutup gim kedua 27-25. Skor pertandingan berubah menjadi 1-1.
Gim Ketiga Jadi Penentu
Memasuki gim penentuan, Dejan/Apriyani langsung mengambil inisiatif. Mereka membuka keunggulan 3-1 dan terus menekan hingga unggul 7-3. Lin/Sun mulai kehilangan kendali. Sejumlah pengembalian yang tidak sempurna menghasilkan kesalahan sendiri. Situasi itu dimanfaatkan Dejan/Apriyani untuk memperlebar jarak menjadi 10-4.
Saat interval, pasangan Indonesia masih memimpin 11-6. Namun, keunggulan itu belum menjadi jaminan. Lin/Sun bangkit dan perlahan memangkas selisih angka. Tekanan kembali membuat pertandingan seimbang ketika pasangan China Taipei berhasil menyamakan kedudukan 12-12.
Dejan/Apriyani tidak panik. Mereka kembali menaikkan tempo permainan dan membangun keunggulan hingga 19-16. Tiga angka terakhir menjadi penentuan. Di tengah sorakan penonton, Dejan/Apriyani akhirnya menutup gim ketiga 21-19. Mereka menang 2-1 dan memastikan diri sebagai juara ganda campuran POLYTRON Pontianak International Challenge 2026.
Dejan: Fokus pada Diri Sendiri

Dejan mengakui tekanan final sempat memengaruhi penampilannya. Namun, dukungan penonton dan keberadaan pelatih di arena membuatnya mampu mengembalikan kepercayaan diri. “Saya sih lebih fokus ke diri saya sendiri aja dulu, karena di sini suporternya juga banyak, terus ada pelatih juga, itu juga menambah kepercayaan diri untuk saya,” kata Dejan.
Setelah kehilangan gim pertama, Dejan/Apriyani berusaha mengubah pola permainan. Mereka lebih fokus mencari celah di pertahanan lawan dan tidak terburu-buru mengejar angka. Perubahan itu akhirnya membuahkan hasil. “Alhamdulillah bisa membuahkan hasil,” ujar Dejan.
Bagi Dejan, kemenangan di Pontianak bukan sekadar trofi. Ini merupakan gelar pertama sejak dirinya dipasangkan dengan Apriyani.
Apriyani Berterima Kasih kepada Penonton Pontianak

Apriyani memberikan apresiasi khusus kepada masyarakat Pontianak yang memenuhi arena pertandingan. Menurut dia, suara penonton bahkan begitu keras hingga menenggelamkan suara pertandingan. “Terima kasih buat para penonton yang ada di Pontianak ini, warga-warga Pontianak yang udah sampaikan suara ini sampai tadi kita main pun gak kedengeran sama sekali,” kata Apriyani.
Atmosfer tersebut, kata Apriyani, memberikan energi tambahan bagi pemain yang bertanding di lapangan. Ia berharap antusiasme masyarakat tidak berhenti di turnamen International Challenge. Pekan depan, Pontianak kembali menjadi tuan rumah turnamen level Super 100.
Apriyani pun mengajak masyarakat untuk kembali memenuhi arena. “Sekiranya terus melanjut sampai Super 100 untuk minggu depan, untuk warga Pontianak terus ramaikan,” ujarnya.
Gelar Dejan/Apriyani akhirnya lahir dari final yang panjang dan penuh perubahan momentum. Mereka sempat kehilangan gim pertama, menyelamatkan diri lewat gim kedua yang berakhir 27-25, lalu menyelesaikan pekerjaan pada gim ketiga. Di hadapan publik Pontianak, pasangan baru itu pun mengawali perjalanan mereka dengan cara yang sulit dilupakan: langsung menjadi juara. (deL)






