Api Kecil di Lahan Gambut, Ancaman Besar di Sungai Duri

Dua hotspot terdeteksi di Desa Sungai Duri, Bengkayang. Kapolres memimpin pemadaman lahan gambut seluas sekitar 3 hektare dan memperkuat kesiapsiagaan Karhutla. Foto: dok Humas Polri

KalbarOke.com — Dua titik panas yang terdeteksi dari citra satelit membawa tim gabungan menuju sebuah kawasan gambut di Desa Sungai Duri, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Di lokasi itu, api memang belum membesar. Namun bara yang masih menyala di tengah vegetasi kering membuat potensi kebakaran meluas tak bisa diabaikan.

Kapolres Bengkayang AKBP Syahirul Awab memimpin langsung verifikasi sekaligus pemadaman titik panas tersebut pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Temuan itu bermula dari pemantauan Aplikasi Lancang Kuning dan Sipongi pada Selasa, 11 Agustus 2026. Dua hotspot terdeteksi di Desa Sungai Duri berdasarkan data Lancang Kuning dan satelit NASA-SNPP dengan tingkat kepercayaan atau confidence kategori sedang.

Alih-alih hanya mengandalkan data satelit, tim gabungan langsung bergerak memastikan kondisi di lapangan. Hasil pengecekan mengarah ke Dusun Melapis. Di sana, petugas menemukan bekas lahan terbakar dengan api yang masih menyala sekitar 10 meter dari koordinat hotspot.

Lahan yang terbakar masing-masing diperkirakan seluas 1,5 hektare. Dengan demikian, total area terdampak mencapai sekitar 3 hektare. Kondisinya cukup rawan. Lahan berupa semak belukar dan anak kayu dengan karakteristik tanah gambut. Di sejumlah bagian, vegetasi terlihat kering dan menguning. Lokasi kebakaran juga berbatasan dengan perkebunan milik masyarakat.

Tim gabungan pun tak menunggu api membesar. Pemadaman dan pendinginan segera dilakukan untuk memastikan bara yang berada di dalam lahan gambut tidak kembali menyala.

Baca :  Polsek Sebangki Perketat Patroli di SPBU, Polisi Ingatkan Warga Waspada Curanmor

“Begitu mendapatkan informasi adanya hotspot, kami langsung melakukan verifikasi ke lapangan. Yang paling penting adalah memastikan tidak ada bara yang tersisa dan melakukan pendinginan secara menyeluruh agar api tidak kembali muncul,” kata Syahirul.

Penanganan kebakaran di lahan gambut membutuhkan perhatian lebih. Api yang terlihat kecil di permukaan dapat menyisakan bara di bawah tanah dan kembali muncul ketika kondisi memungkinkan. Karena itu, setelah api berhasil dikendalikan, personel melakukan penyisiran untuk mencari titik bara dan sumber api lain yang berpotensi memicu kebakaran susulan.

Syahirul mengatakan penanganan Karhutla tidak boleh berhenti pada pemadaman. Upaya pencegahan jangka panjang juga diperlukan, terutama untuk memastikan ketersediaan sumber air ketika kebakaran kembali terjadi.

“Nanti kita coba berdiskusi setelah pemadaman, bagaimana caranya penanggulangan secara berkelanjutan Karhutla ini, seperti pembuatan sumber air atau embung,” ujarnya.

Menurut dia, keberadaan sumber air menjadi salah satu kebutuhan penting. Di sekitar lokasi memang terdapat sumber air, tetapi kapasitasnya terbatas apabila kebakaran terjadi dengan cakupan lebih luas.

Dalam penanganan tersebut, Polres Bengkayang melibatkan unsur TNI, Polsek Sungai Raya, Manggala Agni, BPBD Kabupaten Bengkayang, Damkar Mensacosa, Masyarakat Peduli Api (MPA), Destana Desa Sungai Duri serta warga setempat.

Kapolres juga menyerahkan mesin pompa air berbahan bakar bensin dan masker kepada Tim MPA. Peralatan tersebut diharapkan memperkuat kemampuan masyarakat melakukan penanganan awal ketika menemukan api atau asap di wilayah mereka.

Baca :  ASN Dinas PKPLH Bengkayang Tewas di Depan Cafe Texas, Dugaan Perkelahian Jadi Tanda Tanya

Selain memadamkan api, tim gabungan menyampaikan edukasi kepada warga. Masyarakat diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Bagi polisi, keterlibatan warga menjadi bagian penting karena masyarakat merupakan pihak yang paling dekat dengan kawasan rawan kebakaran.

Dua titik hotspot akhirnya berhasil dikendalikan. Namun, pekerjaan belum sepenuhnya selesai. Vegetasi kering yang masih berada di sekitar lokasi membuat kawasan tersebut tetap memiliki potensi terbakar. Personel gabungan karena itu masih melakukan pemantauan dan memastikan tidak ada bara yang tersisa.

Syahirul mengingatkan bahwa penanganan Karhutla seharusnya dimulai sebelum api muncul. Deteksi dini, verifikasi, pemadaman, pendinginan dan pengawasan masyarakat harus berjalan beriringan. “Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama mencegah Karhutla. Jangan membuka lahan dengan cara membakar dan segera laporkan apabila menemukan titik api atau asap,” katanya.

Polres Bengkayang bersama instansi terkait akan meningkatkan pemantauan, terutama pada wilayah dengan vegetasi kering dan karakteristik lahan gambut.

Bagi kawasan seperti Sungai Duri, dua titik panas yang ditemukan kali ini menjadi pengingat bahwa kebakaran besar bisa bermula dari api yang terlihat kecil. Respons cepat menjadi pembeda antara lahan yang segera dipadamkan dan kebakaran yang telanjur meluas. (*/)