KalbarOke.Com — Di tengah gempuran modernisasi digital, sebuah ruang pendidikan nonformal di Dusun Tahak, Desa Balai Pinang, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, terus konsisten merawat warisan leluhur. Lembaga tersebut adalah Sekolah Adat Arus Kualant, sebuah rumah bagi generasi muda Dayak untuk belajar, tumbuh, dan mencintai adat istiadat mereka.
Lahir dari sebuah keresahan mendalam akan kian memudarnya pengetahuan adat di kalangan generasi muda, sekolah ini memegang teguh filosofi luhur: “Alam raya adalah sekolah dan setiap orang adalah guru”. Sejak didirikan pada tahun 2014, sekolah adat ini mengajarkan esensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar calistung (baca, tulis, hitung).
Pendiri Sekolah Adat Arus Kualant, Dellyana Winki—yang akrab disapa Deli—mengungkapkan bahwa perjalanan mengawal lembaga ini telah memasuki usia 11 tahun. Metode pembelajaran yang diterapkan pun sangat unik karena memadukan ruang kelas konvensional dengan ekosistem alam terbuka.
“Kegiatan yang kami lakukan itu belajar tentang adat-adat, budaya, dan kearifan lokal. Kami belajarnya melalui dua tempat, yaitu di dalam ruangan dan juga di hutan. Bagi kami, hutan itu bertindak sebagai perpustakaan kami. Di sana kami belajar bersama orang tua, mengenal jenis obat-obatan tradisional, hingga seni menganyam,” ujar wanita berusia 24 tahun tersebut.
Di Arus Kualant, anak-anak diajak menyusuri derasnya arus sungai, mengenali jenis tumbuhan hutan, serta mendengarkan petuah luhur dari kisah para tetua adat. Secara praktis, mereka diajarkan keterampilan meramu obat tradisional, memasak menggunakan media bambu, menganyam, memainkan alat musik tradisional Sape’, hingga membawakan tarian adat Dayak.
Kendati kental dengan nuansa tradisional, kelas literasi modern seperti membaca, menulis, bahasa Inggris, hingga pengoperasian komputer tetap diberikan secara seimbang. Formula ini sengaja dirancang agar para siswa memiliki wawasan global namun tetap kokoh berpijak pada akar kebudayaan lokal.
Kekhasan sistem pendidikan berbasis alam ini mendapat pujian langsung dari Rustini Muhaimin Iskandar, Ketua Dewan Pembina DPP Perempuan Bangsa sekaligus Pendamping Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, saat mengunjungi sekolah tersebut pada Kamis (9/7/2026). Ia menilai sistem di Arus Kualant jauh lebih berkualitas dalam membentuk karakter dibanding sekolah formal dengan fasilitas mewah.
“Saya berharap anak-anak di sini jangan berkecil hati hanya gara-gara berada di tengah hutan. Di sini adalah pendidikan terbaik karena anak-anak mendapatkan jati dirinya. Mereka belajar ilmu pengetahuan dan ditumbuhkan karakternya untuk mencintai alam serta budaya. Kalian memiliki kelebihan belajar langsung pada medianya. Ada hutan sebagai rumah kehidupan dan kepala suku sebagai guru nilai luhur,” ungkap Rustini kagum.
Rustini meyakini, pola asuh dan pola didik di Arus Kualant akan melahirkan generasi yang memiliki integritas tinggi serta berkarakter hebat. Menurutnya, anak-anak ini kelak dapat mendunia justru karena mereka memiliki keunikan adat istiadat dan kecintaan yang kuat terhadap alam sekitar.
Senada dengan hal tersebut, Ketua DPW PKB Kalbar, Mulyadi Tawik, yang juga merupakan Anggota DPRD Provinsi Kalbar menegaskan bahwa eksistensi sekolah adat ini merupakan bukti konkret kegigihan putra-putri daerah dalam menjaga warisan nenek moyang. Kehadiran ruang pendidikan seperti ini diharapkan dapat menjadi pemantik bagi peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di kawasan pedalaman serta daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) di Kalimantan Barat.
Ringkasan Berita:
- Sekolah Adat Arus Kualant di Kecamatan Simpang Hulu, Ketapang, telah berdiri selama 11 tahun (sejak 2014) untuk membentengi generasi muda Dayak dari lunturnya pengetahuan adat.
- Proses belajar mengajar memanfaatkan hutan sebagai perpustakaan hidup untuk mempelajari obat tradisional, seni menganyam, musik Sape’, menari, sekaligus mempelajari bahasa Inggris dan komputer.
- Pendamping Menko Pemberdayaan Masyarakat, Rustini Muhaimin, memuji kualitas karakter anak-anak Arus Kualant yang dinilainya sukses memadukan wawasan modern tanpa kehilangan akar budaya






