SEPERTI APA SISTEM PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN?

PONTIANAK, KB1 – Konsep pertanian yang berkelanjutan sudah lama digaungkan oleh pakar-pakar pertanian di Indonesia. Ide utama dari konsep tersebut adalah menciptakan sistem pertanian dengan produktifitas yang stabil dalam jangka panjang sehingga hasilnya dapat dinikmati oleh para pengusaha tani dengan lebih baik. Dalam konsep ini, kegiatan eksploitasi sumber daya untuk mendapatkan hasil melimpah dalam waktu singkat sangat tidak dianjurkan. Menurut Pakar Pertanian Untan, Dr Iwan Sasli, SP, M.Si, konsep pertanian berkelanjutan sangat identik dengan konsep pertanian ramah lingkungan. “Konsep pertanian berkelanjutan erat kaitannye dengan ramah lingkungan, disitu berarti dalam bertani kita tidak hanya mempertimbangkan faktor ekonomi, tapi fokus juga pada kelestarian lingkungan agar hasil pertanian berkesinambungan, bukan hasil besar tapi hanya dapat dinikmati dalam waktu yang singkat” jelasnya kepada kalbarsatu.
Dengan menerapkan konsep pertanian berkelanjutan, produktifitas pertanian relatif dapat dijaga agar stabil. Satu diantara penerapannya adalah dengan cara menggunakan input pertanian yang alami, metode membuka lahan yang lestari dan panen yang ramah lingkungan. “Dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan, maka keberlangsungan pertanian dapat dijaga, misalnya dengan menekan penggunaan pupuk (input) anorganik dan membuka lahan dengan cara yang lestari”, lanjut Iwan.
Penyiapan lahan dengan cara yang bijaksana dikatakan Iwan juga merupakan bentuk penerapan konsep pertanian yang berkelanjutan, sekaligus ramah lingkungan. Membuka lahan dengan cara membakar menurutnya adalah salah satu bentuk eksploitasi yang mengancam keberlangsungan proses pertanian itu sendiri. “Membakar lahan dengan alasan praktis itu bentuk pelanggaran konsep pertanian berkelanjutan, itu eksploitasi apalagi kalau skala besar, jelas akan mengancam keberlangsungan kegiatan pertanian” ujarnya.
Kegiatan pertanian yang tidak memperhatikan konsep pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan justru akan merugikan para pengusaha tani itu sendiri. Sebab proses perusakan lingkungan dan sumber daya alam akan menurunkan produktifitas pertanian. Membakar lahan selain mengakibatkan kerusakan lingkungan, secara tidak langsong juga akan mengurangi produktifitas lahan karena menurunkan daya dukung lingkungan. Untuk itu tatacara manual dikatakan lebih cocok dengan konsep pertanian yang berkelanjutan. (tan/06).

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 1528 kali