KalbarOke.com — Persaingan di Polytron Pontianak Indonesia Masters Super 100 2026 tak hanya menjadi ujian bagi para pebulutangkis Indonesia. Turnamen yang berlangsung di GOR Terpadu Ahmad Yani, Pontianak, itu juga menjadi panggung untuk mengukur sejauh mana pemain muda mampu bersaing di level internasional.
Ketua Panitia Pelaksana Polytron Pontianak Indonesia Masters Super 100, Yuni Kartika, mengatakan status turnamen sebagai ajang BWF Super 100 membuat persaingan semakin ketat. Sejumlah wakil Indonesia pun harus bekerja keras untuk menembus babak-babak akhir. “Karena ini turnamen Super 100, persaingannya memang semakin tidak mudah bagi wakil-wakil Indonesia,” kata Yuni.
Meski demikian, dia bersyukur masih ada sejumlah wakil Indonesia yang mampu bertahan hingga perempat final. Menurut Yuni, peluang menuju partai puncak tetap terbuka meski persaingan semakin sulit. Yuni mengatakan peluang wakil Indonesia melaju ke final tidak mudah diprediksi. Kehadiran banyak pemain muda membuat persaingan berjalan relatif terbuka.
Menurut dia, sebagian pemain yang tampil bukan merupakan unggulan utama. Karena itu, hasil pertandingan bisa berubah di luar perkiraan. “Kalau kita melihat banyak pemain muda yang tampil di sini, peluang menang dan kalah bisa dibilang 50:50,” ujarnya.
Yuni berharap pengalaman pemain yang lebih senior bisa menjadi pembeda. Dia menyebut beberapa nama yang masih diharapkan mampu membawa Indonesia menuju partai puncak, di antaranya pasangan Praveen/Dejan serta Bagas dan Indah.
Bagas dan Indah menjadi perhatian karena keduanya relatif baru dipasangkan di nomor ganda campuran. Namun, pengalaman yang mereka miliki diharapkan dapat membantu menghadapi tekanan pertandingan. “Kami berharap pengalaman dan senioritas mereka dapat membawa Indonesia ke partai puncak,” kata Yuni.
Jika pada akhirnya tak ada wakil Indonesia yang mampu mencapai final, Yuni menilai hasil tersebut harus diterima sebagai bagian dari proses. Bagi panitia sekaligus penyelenggara, hasil pertandingan juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pembinaan dan penyelenggaraan turnamen berikutnya.
Di luar persaingan di lapangan, antusiasme masyarakat Pontianak menjadi cerita lain dalam Indonesia Masters 2026. Yuni mengatakan tiket pertandingan untuk Jumat, Sabtu, dan Minggu yang dijual secara daring telah habis.
Meski begitu, panitia masih membuka penjualan melalui ticket box dengan jumlah tiket terbatas. “Kami tetap akan melakukan penjualan, meskipun jumlahnya tentu terbatas dan tidak sebanyak tiket yang dijual secara daring,” ujar dia.
Panitia juga menyiapkan strategi khusus untuk pertandingan pada Minggu. Tempat duduk tambahan atau on-court seating akan disediakan di dalam lapangan. Kursi tersebut dialokasikan untuk sponsor, PBSI, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Dengan memindahkan sebagian tamu ke area lapangan, kursi tribun yang sebelumnya digunakan dapat kembali dijual kepada penonton.
Langkah tersebut dilakukan agar lebih banyak masyarakat Pontianak bisa menyaksikan pertandingan secara langsung. “Intinya, kami ingin sebanyak mungkin masyarakat Pontianak datang dan menyaksikan pertandingan secara langsung,” kata Yuni.
Menurut Yuni, penyelenggaraan Indonesia Masters Super 100 di Indonesia memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar menghadirkan pertandingan internasional. Turnamen ini menjadi kesempatan bagi pemain muda Indonesia untuk memperoleh pengalaman bertanding tanpa harus selalu mengikuti kompetisi di luar negeri.
Para pemain yang ingin berkompetisi di luar negeri menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari persyaratan ranking hingga biaya perjalanan. Kehadiran turnamen Super 100 di dalam negeri memberi mereka ruang untuk bertanding di hadapan publik sendiri sekaligus mengukur kemampuan.
“Mereka bisa mendapatkan kesempatan bertanding sekaligus melihat sejauh mana perkembangan mereka dan bagaimana perbedaan level permainan mereka dengan pemain dari luar negeri,” ujarnya.
Turnamen ini sekaligus menjadi Indonesia Masters Super 100 pertama yang diselenggarakan pada 2026. Karena itu, Yuni menilai hasil turnamen akan memberikan banyak bahan evaluasi, baik untuk penyelenggaraan, prestasi atlet, maupun pembinaan.
Para pelatih juga dapat menyaksikan langsung performa pemain muda selama turnamen. Dari sana, mereka dapat mengidentifikasi perkembangan, kekurangan, dan kebutuhan pemain untuk menghadapi kompetisi berikutnya.
Dengan demikian, Indonesia Masters Super 100 di Pontianak bukan sekadar perebutan gelar. Turnamen ini juga menjadi semacam ruang uji bagi generasi berikutnya untuk mengetahui seberapa jauh mereka mampu berdiri sejajar dengan pemain dari negara lain. (deL)






