Tujuh Rumah Adat Dayak Akan Dibangun di Mempawah, Jadi Ruang Budaya untuk Generasi Muda

Pemimpin Besar Pasukan Merah TBBR, Agustinus Jilah atau Panglima Jilah. Foto: Hendri Marcelleno

KalbarOke.com — Pelestarian adat Dayak di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, akan diarahkan tidak hanya melalui kegiatan seremonial. Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) menyiapkan pembangunan tujuh rumah adat yang ditargetkan mulai dikerjakan pada 2027.

Rumah-rumah adat tersebut dirancang sebagai ruang bersama bagi masyarakat untuk menjalankan tradisi, menggelar kegiatan adat, mengembangkan seni, sekaligus menjadi tempat generasi muda belajar tentang kebudayaan mereka.

Pemimpin Besar Pasukan Merah TBBR, Agustinus Jilah atau Panglima Jilah, mengatakan tujuh rumah adat itu akan dibangun di dua kawasan di Kabupaten Mempawah. Empat rumah direncanakan berada di kawasan Takong, Keramat Patih Patinggi. Tiga lainnya akan dibangun di Desa Sambora, Kecamatan Toho, di kawasan lereng Bukit Raya.

“Rumah adat yang akan kita bangun itu ada tujuh buah. Empat di Takong di Keramat Patih Patinggi, tiga di Sambora, lereng Bukit Raya,” ujar Panglima Jilah saat ditemui di Desa Sambora, Rabu, 30 September 2026.

Menurut dia, rumah adat tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai bangunan tradisional. Kehadirannya diharapkan menyediakan ruang permanen bagi masyarakat untuk menjalankan kehidupan adat dan budaya.

Selama ini, sejumlah kegiatan adat masih dilakukan dengan menyiapkan tempat atau menyewa lokasi tertentu. Dengan adanya rumah adat, masyarakat diharapkan memiliki ruang yang dapat digunakan secara berkelanjutan.

“Harapannya ke depan supaya setiap kegiatan adat tidak lagi harus bikin rumah adat, tidak lagi repot-repot kita harus sewa tempat atau apa, tapi ada suatu wadah bagaimana kita berbudaya, beradat, dan bertradisi,” katanya.

Rumah tersebut nantinya dapat digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari rapat masyarakat, pesta padi, kegiatan adat hingga perhelatan budaya berskala besar. “Jadi tempat ini nantinya akan kita gunakan untuk rapat, untuk pesta padi, untuk acara-acara adat, acara-acara adat besar, terutama acara Bahaupm Bide padi,” ujar dia.

Panglima Jilah mengatakan fungsi rumah adat tidak akan berhenti pada kegiatan masyarakat yang bersifat tradisional. Ruang tersebut juga disiapkan sebagai tempat tumbuhnya kreativitas generasi muda.

Saat ini, kegiatan sanggar seni dan budaya telah berjalan. Sejumlah sanggar juga dibina untuk mendekatkan anak-anak muda dengan kesenian dan tradisi mereka. “Ya, kita memang sudah gunakan itu, kita punya sanggar sendiri juga. Banyak sanggar yang kita bina sekarang untuk saat ini,” ujarnya.

Menurut Panglima Jilah, keberadaan adat dan budaya dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter generasi muda. Karena itu, ia mengajak masyarakat tetap menjalankan kehidupan yang berakar pada adat, tradisi, dan budaya. “Ajakan ke masyarakat tetaplah hidup beradat, bertradisi, dan berbudaya,” tegasnya.

Ia mengatakan adat dan tradisi bukan hanya warisan masa lalu. Nilai-nilai di dalamnya, menurut dia, dapat membantu membentuk tatanan sosial sekaligus mengajarkan penghormatan terhadap sesama dan alam.

“Karena adat, budaya, tradisi itu mengatur tatanan sosial manusia agar menjadi manusia yang lebih baik, agar menjadi manusia yang tahu budi pekerti dan bagaimana cara menghargai alam itu sendiri,” katanya.

Pesan khusus juga disampaikan kepada generasi muda. Panglima Jilah mengingatkan agar adat dan budaya tidak dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan kehidupan modern. Menurut dia, kehidupan adat justru dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter anak muda agar memiliki aktivitas positif.

“Buat generasi anak muda, sebenarnya adat itu tidak menghilangkan kegiatan mereka sehari-hari, malah membentuk karakter mereka agar tidak ke hal-hal negatif,” ujarnya.

Ia mendorong anak muda memperkenalkan dan mengembangkan kebudayaan melalui berbagai bidang, mulai dari seni tari, musik hingga kerajinan anyaman. Menurut dia, pengembangan budaya tidak hanya berkaitan dengan pelestarian identitas. Kreativitas tersebut juga berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi generasi muda.

“Kita harus banyak memperkenalkan budaya adat tradisi itu sendiri, terutama di bidang anyaman, seninya, tariannya, musiknya. Dan itu akan punya nilai ekonomi juga untuk anak-anak muda,” kata Panglima Jilah.

Ia menilai kreativitas menjadi faktor penting agar kebudayaan tidak sekadar dipertahankan, tetapi juga berkembang mengikuti zaman. “Sebenarnya tergantung anak mudanya punya kreativitas apa di situ. Justru ini mereka akan positif karena banyaknya nilai-nilai yang tertanam di situ dan bisa menambah pengalaman,” ujarnya.

Pembangunan tujuh rumah adat tersebut ditargetkan dimulai pada 2027. Namun, Panglima Jilah belum menetapkan kapan seluruh bangunan akan selesai karena pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap. “2027 mulainya,” kata dia.

Saat ditanya mengenai target penyelesaian, ia menjawab, “Targetnya selesai, enggak tahu. Pokoknya dilaksanakan, ya.” Tujuh rumah adat itu juga tidak dibangun dalam satu kawasan. Empat berada di Takong dan tiga lainnya di Sambora. “Iya, terpisah,” ujarnya.

Rencana tersebut pada akhirnya menempatkan rumah adat bukan sekadar sebagai bangunan tradisional. Ruang-ruang itu diharapkan menjadi tempat masyarakat berkumpul, menjalankan tradisi, mengembangkan kesenian, sekaligus mewariskan nilai budaya kepada generasi berikutnya.

Bagi anak muda, rumah adat juga dapat menjadi ruang belajar dan berkarya. Dari tari, musik hingga anyaman, kekayaan budaya Dayak diharapkan dapat menjadi sumber kreativitas sekaligus membuka peluang ekonomi tanpa kehilangan akar tradisinya. (dRi)