Konflik Global Picu Ketidakpastian Energi, Indonesia Andalkan Sawit dan Singkong untuk Swasembada

Ilustrasi di tengah konflik global AS–Israel dan Iran, Indonesia memperkuat swasembada energi melalui sawit dan singkong. Produksi CPO 2025 mencapai 51,6 juta ton. Foto: Brett Hondow dari Pixabay

KalbarOke.com — Ketegangan geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi dan energi dunia. Di tengah situasi tersebut, Indonesia memilih memperkuat fondasi domestik dengan mempercepat agenda swasembada pangan dan energi berbasis sumber daya nasional.

Strategi tersebut tidak hanya bertumpu pada komoditas utama seperti minyak sawit, tetapi juga membuka peluang bagi komoditas lain seperti singkong yang diproyeksikan menjadi bahan baku energi masa depan. Dengan basis produksi yang besar serta pasar ekspor yang masih berjalan, Indonesia dinilai memiliki bantalan ekonomi yang relatif kuat menghadapi gejolak global.

Produksi Sawit Naik

Salah satu komoditas yang menjadi penopang utama adalah minyak sawit. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan produksi crude palm oil (CPO) nasional pada 2025 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Produksi sawit kita pada 2025 naik. Produksi CPO sekitar 51 juta ton, sementara jika ditambah palm kernel oil totalnya sekitar 56 juta ton,” kata Eddy pada Rabu, 11 Maret 2026.

Data industri menunjukkan produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 51,6 juta ton atau naik sekitar 7,5 persen dibandingkan 2024 yang tercatat sebesar 48,16 juta ton. Peningkatan ini dipengaruhi kondisi cuaca yang relatif baik serta harga sawit yang sebelumnya tinggi sehingga mendorong petani lebih intensif merawat kebun.

Baca :  Dampak Konflik Timur Tengah, Pasokan Energi Nasional Disebut Aman

Ekspor Tetap Berjalan

Permintaan global terhadap minyak sawit juga masih kuat. Sepanjang 2025, volume ekspor sawit Indonesia tercatat meningkat 9,5 persen dari 29,5 juta ton menjadi 32,3 juta ton.

Meski konflik global memicu lonjakan biaya logistik dan asuransi pengiriman hingga sekitar 50 persen, ekspor sawit Indonesia dinilai tetap bertahan. “Dengan kondisi global seperti ini kita bersyukur sawit masih jalan. Walaupun biaya logistik dan asuransi naik sampai sekitar 50 persen,” ujar Eddy.

Menurut dia, meskipun ada indikasi penurunan permintaan baru akibat kenaikan biaya transportasi, kontrak ekspor yang sudah berjalan tetap dipenuhi. Pengiriman masih berlangsung ke sejumlah pasar utama seperti India dan China.

Dorong Program Biodiesel

Di dalam negeri, konsumsi minyak sawit juga meningkat terutama untuk program biodiesel. Sepanjang 2025, konsumsi domestik sawit mencapai sekitar 24,7 juta ton atau naik 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Konsumsi untuk biodiesel bahkan meningkat lebih tinggi hingga mencapai 12,7 juta ton, atau naik sekitar 10,9 persen.

Program biodiesel menjadi bagian penting dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor. Saat ini implementasi program berada pada bauran B40 dan diproyeksikan meningkat ke level lebih tinggi seperti B50 dalam jangka panjang.

Eddy mengatakan peningkatan program biodiesel harus diimbangi dengan kenaikan produksi sawit agar tidak mengganggu keseimbangan pasokan ekspor.

Baca :  Prabowo: Danantara Jadi Pilar Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis Global

Singkong Jadi Sumber Bioetanol

Selain sawit, pemerintah juga mulai mengoptimalkan komoditas lain sebagai sumber energi alternatif, salah satunya singkong yang berpotensi menjadi bahan baku bioetanol.

Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia Arifin Lambaga mengatakan potensi singkong nasional cukup besar untuk mendukung ketahanan energi. Menurut dia, risiko gangguan pasokan energi global akibat konflik geopolitik membuat pemerintah berupaya mengoptimalkan seluruh sumber energi domestik.

Produksi singkong nasional saat ini mencapai sekitar 14 juta ton per tahun. Dengan peningkatan produktivitas dan penggunaan varietas unggul, angka tersebut dinilai masih dapat meningkat secara signifikan.

Arifin menjelaskan kebutuhan bioetanol nasional untuk campuran bahan bakar mencapai sekitar 1,4 juta kiloliter per tahun. Jika seluruh kebutuhan itu dipenuhi dari singkong, diperlukan sekitar 10 juta ton singkong segar. “Konversinya rata-rata satu liter bioetanol membutuhkan lima sampai tujuh kilogram singkong segar,” ujarnya.

Perkuat Ketahanan Nasional

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia juga meminta pelaku industri dan petani menyiapkan rencana produksi agar singkong dapat menjadi bagian dari ekosistem energi nasional.

Dengan kekuatan pada sektor pangan, energi nabati, serta basis produksi komoditas yang besar, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam menghadapi ketidakpastian global. Ketika konflik geopolitik mengganggu rantai pasok energi dan pangan dunia, kekuatan sumber daya domestik dipandang menjadi benteng utama menjaga stabilitas ekonomi nasional. (*/)