Landak  

Evaluasi Penanganan TBC, Karolin Margret Natasa Ingatkan Bahaya Putus Obat bagi Pasien

Bupati Landak Karolin Margret Natasa mengevaluasi capaian penanganan TBC yang belum optimal dan mendorong peningkatan deteksi dini anggota keluarga serumah. (FOTO: Ist.)

KalbarOke.Com — Tingginya angka kasus Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, menjadi perhatian serius Bupati Karolin Margret Natasa. Evaluasi tajam tersebut disampaikan Karolin saat membuka Seminar Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2026 yang diinisiasi oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Landak, Jumat (24/4/2026).

Di hadapan para tenaga medis, Karolin secara terbuka menilai kinerja pemerintah daerah dan puskesmas dalam penanganan TBC masih perlu ditingkatkan. Ia menyoroti penemuan kasus yang belum mencapai target, terutama pada pemeriksaan kontak erat atau anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien.

“Kasus TBC di Kabupaten Landak masih cukup tinggi. Evaluasi menunjukkan penemuan kasus dan pengobatan, khususnya pada keluarga serumah, belum optimal,” ujar Karolin Margret Natasa.

Karolin menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah minimnya kesadaran masyarakat karena gejala TBC tidak selalu berupa batuk berkepanjangan. Kondisi ini sering kali menyebabkan keterlambatan diagnosis, terutama pada anak-anak yang gejalanya lebih sulit diidentifikasi secara kasat mata.

Baca :  Pertahankan Tanah Warisan, Ratusan Warga Desa Sehe Lusur Landak Gelar Aksi Perlawanan Adat

Selain masalah deteksi dini, Bupati Landak ini juga memberikan peringatan keras terkait fenomena putus obat yang masih sering terjadi di tengah masyarakat.

“Yang sering terjadi adalah putus minum obat. Ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan resistensi atau kebal terhadap obat (MDR-TB),” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa pengobatan TBC minimal membutuhkan waktu enam bulan secara disiplin agar bisa sembuh total.

Sejalan dengan tema “Sinergis dan Kolaboratif Menuju Indonesia Bebas Tuberkulosis Tahun 2030”, Karolin mendorong adanya penyempurnaan Standar Operasional Prosedur (SOP) di tingkat puskesmas dan rumah sakit daerah guna mencegah kelalaian pelayanan.

Di tengah upaya penekanan angka TBC, Karolin juga membawa kabar baik mengenai peningkatan fasilitas kesehatan di daerahnya. Saat ini, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Landak telah mengoperasikan layanan Hemodialisa (cuci darah) yang telah terintegrasi dengan BPJS Kesehatan, sehingga masyarakat tidak perlu lagi keluar daerah untuk mendapatkan tindakan medis tersebut.

Baca :  Lindungi Pekerja Risiko Tinggi, 38 Sopir dan Juru Parkir di Landak Terima Kartu Kepesertaan BPJS

Menutup pernyataannya, Karolin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling peduli dan tidak memberikan stigmata kepada penderita TBC.

“Jika ada keluarga atau teman yang terkena TBC, obati sampai sembuh. Dengan pengobatan yang tepat dan disiplin, TBC bisa disembuhkan,” pungkasnya.


Ringkasan Berita:

  • Bupati Landak Karolin Margret Natasa mengevaluasi kinerja puskesmas yang dinilai belum optimal dalam menemukan kasus baru TBC.
  • Fokus utama saat ini adalah peningkatan kapasitas deteksi dini terhadap anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita.
  • Karolin mengingatkan bahaya resistensi obat akibat pasien yang tidak disiplin menjalani pengobatan selama enam bulan.
  • Pemkab Landak tengah menyempurnakan SOP layanan kesehatan guna meningkatkan kualitas penanganan pasien di Puskesmas dan RSUD.
  • RSUD Landak kini telah menyediakan layanan cuci darah (Hemodialisa) yang didukung BPJS Kesehatan sebagai bagian dari perluasan akses medis masyarakat.