Pro-(tong)-kol

Oleh : Mursalin

0

Hampir setiap hari kata ini diucapkan. Entahkah itu dalam forum resmi, setengah resmi, hingga ke jamaah warung kopi sekalipun. “Maaf Pak, harus sesuai protokol,” ujar seorang pelayan warkop di kawasan Tanjungpura Pontianak.

Bukan cuma mengingatkan protokol kesehatan, si Mbak kemudian menembakkan alat pengukur suhu tubuh ke lengan dan memberi cairan pembasmi kuman ke telapak tangan setiap pengunjung yang datang. Tidak lupa juga, si pelayan warkop juga menenteng kantong berisi masker. Seandainya pengunjung tak bawa masker, maka akan dikasih dan dikenakan cas dua ribu rupiah per maskernya.

Pandemi memang benar benar membawa kebiasaan baru. Apa yang dilakukan di salah satu warkop tadi tentu sebagai suatu yang sangat baik. Budaya hidup bersih memang sudah menjadi keharusan, baik dalam suasana pandemi maupun normal, agar tetap sehat.

“Kasihan, si pemilik warkop kapok.” Lho kok kapok? Rupanya belum lama ini mereka mendapat warning dari petugas satgas Covid Kota Pontianak. Gegaranya aktivitas warkop dianggap melanggar protokol kesehatan. Saat swab dadakan pernah dilakukan, dijumpai pengunjung positif corona. Tak ayal, kegiatan  warkop dihentikan. Setelah sempat ditutup sekian hari, akhirnya diperbolehkan buka kembali-dengan syarat harus mematuhi protokol kesehatan.

Kisah di salah satu warkop tersebut hanyalah secuil dari ribuan pernak pernik cerita di musim pandemi yang melanda dunia dan juga negeri kita sepanjang tahun 2020 ini. Dan karena ceritanya pendemi maka padanan yang selalu menyertai adalah protokol kesehatan.

Semakin sering disebut atau diucapkan, kini seolah ungkapan protokol kesehatan sebagai penghias untaian setiap kalimat. “Pilkada harus sesuai protokol kesehatan.” “Pesta pernikahan jangan lupa protokol covid.” “Belanja ke pasar tetap jaga protokol ya!” “Kegiatan ibadah boleh saja namun jangan lupa protokol.” Pokoknya apapun ungkapan, tanpa kata protokol, seolah terasa kurang pas jadinya. Dan bahkan, bisa bisa menjadi masalah bahkan.

Sesuai dengan makna atau arti dari protokol itu sendiri, di Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan salah satu arti protokol yaitu tata aturan. Maka ketika dipadankan dalam hal kesehatan, maka bunyinya menjadi protokol kesehatan.  Kalau demikian maknanya yaitu tata aturan, berarti betapa sering kita menyaksikan paradoks dari protokol kesehatan di sekitar kita saat ini.

Dalam konteks pilkada misalnya. Sering kita menyaksikan pelanggaran dilakukan oleh para calon kontestan. Mereka berkerumunan tanpa mengindahkan social distancing atau jaga jarak, tak memakai masker, padahal dalam protokol kesehatan mutlak menyaratkan hal tersebut (jaga jarak-pakai masker-cuci tangan). Dan celakanya lagi, bakal pasangan calon yang notabene adalah incumben, pun ikut ikutan juga melakukan pelanggaran protokol kesehatan tersebut. Padahal kita tahu, Gubernur, Bupati dan Wali Kota adalah pemimpin Satuan Gugus Tugas penanganan Covid di wilayahnya masing masing.

Melihat kenyataan ini, wajar jika para ahli epidomologi mengungkap bahwa ledakan Covid belakangan ini di tanah air dikarenakan adanya ketidakpatuhan dalam protokol kesehatan. Dan tak tanggung tanggung, kalau melihat apa yang dilakuan incumben tadi, ketidakpatuhan malah dimulai oleh mereka para pemangku kepentingan yang dipercaya negara untuk mengurus Covid.

Kondisi ini jelas tak boleh dibiarkan berlarut. Namanya juga musim wabah, jika lengah, maka akibatnya akan menjadi parah. Semua harus kembali kepada protokol kesehatan yang sudah digariskan oleh para ahli kesehatan.

Protokol adalah tata aturan. Ia hadir untuk ditaati, bukannya hanya sekadar sebagai pelengkap naskah pidato atau penghias kalimat semata.

Dan juga perlu diingat, karena sering diucapkan, jangan sampai pula sekali kali keliru mengucapkanya menjadi pro-tong-kol. Dan atau bahkan lebih parah lagi, kalau bahkan juga kebolak balik, seperti pernah kejadian seorang anak saat acara bincang bersama Presiden yang sempat menghebohkan beberapa waktu lalu-jauh sebelum pandemi Covid mampir ke planet bumi..wkwkwkwk..** (Penulis adalah Direktur PonTV)

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 379 kali