Libur Nataru Dongkrak Ekonomi Kreatif, Sumbang Rp 24,46 Triliun ke PDB Nasional

Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat kontribusi ekonomi kreatif mencapai Rp 24,46 triliun terhadap PDB nasional selama libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Kuliner dan fesyen jadi penopang utama. Foto: Kemenekraf

KalbarOke.com — Momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 memberi dorongan signifikan bagi sektor ekonomi kreatif. Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif mencatat kontribusi langsung sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai Rp 24,46 triliun, dari total tambahan PDB sebesar Rp 48,56 triliun selama periode liburan.

Data tersebut diolah Direktorat Kajian Manajemen Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif. Angka itu menegaskan peran ekonomi kreatif sebagai penggerak konsumsi masyarakat saat puncak musim liburan.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan dampak Nataru terhadap sektor ekonomi kreatif tidak bersifat musiman semata. Menurut dia, pola konsumsi selama libur panjang justru menunjukkan potensi strategis yang bisa dikelola secara berkelanjutan.

“Ekonomi kreatif tidak hanya terdorong oleh momentum libur panjang, tetapi dapat menjadi tulang punggung perputaran ekonomi jika dirancang sebagai strategi tahunan yang terintegrasi,” kata Teuku Riefky, Jumat, 9 Januari 2026.

Baca :  Video Asusila Viral! Dua Pemeran Diringkus Polisi

Kajian Kementerian Ekraf menunjukkan perubahan perilaku konsumen yang semakin mengarah pada produk dan layanan kreatif. Kuliner lokal, fesyen, kriya, serta hiburan dan seni menjadi pilihan utama masyarakat selama periode liburan. Tren ini membuka peluang perluasan pasar bagi jenama lokal, terutama di daerah tujuan wisata.

Jejak digital konsumen yang dipantau melalui Google Trends memperlihatkan lonjakan minat terhadap kuliner pada 28 Desember 2025. Pencarian terkait hotel meningkat tajam pada 31 Desember 2025, sementara minat terhadap hiburan keluarga, termasuk bioskop, mencapai puncaknya pada 25–26 Desember 2025. Pola tersebut menunjukkan konsumsi ekonomi kreatif mengikuti ritme liburan dan dapat dipetakan untuk mendukung strategi promosi dan distribusi.

Dampak positif juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha. Survei Kementerian Ekraf mencatat 76,93 persen responden mengalami peningkatan penjualan, dan 73,08 persen melaporkan kenaikan keuntungan selama Nataru. Mayoritas pelaku berada pada skala usaha mikro, dengan subsektor kuliner, fesyen, dan kriya menjadi kontributor utama lonjakan transaksi.

Baca :  Jadwal Lengkap Puasa Rajab 1447 Hijriah 2025–2026 Beserta Niat dan Keutamaannya

Dari sisi belanja wisatawan, pengeluaran terbesar masih terserap pada transportasi dan akomodasi. Namun, belanja produk kreatif—seperti makanan, cinderamata, dan ritel—mencapai rata-rata Rp 858 ribu per orang. Angka ini menunjukkan ruang pertumbuhan yang besar bagi produk ekonomi kreatif dalam rantai konsumsi pariwisata.

Kontribusi terbesar terhadap PDB ekonomi kreatif selama Nataru berasal dari subsektor kuliner sebesar Rp 19,9 triliun. Fesyen menyumbang Rp 3,9 triliun, disusul kriya sebesar Rp 0,24 triliun. Data ini menegaskan pentingnya penguatan rantai pasok, kapasitas produksi, dan akses pembiayaan agar pelaku mampu merespons lonjakan permintaan.

“Jika momentum seperti Nataru dikelola secara sistematis melalui penguatan pasar ekonomi kreatif dan integrasi ekosistem, dampaknya tidak hanya mendorong PDB, tetapi juga memperkuat daya saing jenama lokal secara berkelanjutan,” ujar Teuku Riefky. (*/)