KalbarOke.com – Di balik pesona alam Sarawak yang dikenal dengan hutan hujan tropisnya, terdapat sebuah kawasan yang menyimpan kisah panjang peradaban Asia Tenggara. Taman Arkeologi Santubong menjadi saksi bagaimana wilayah di pesisir barat laut Pulau Borneo pernah menjadi simpul perdagangan internasional sekaligus pusat pertemuan berbagai budaya sejak berabad-abad silam.
Berjarak sekitar 40 menit dari Bandar Udara Internasional Kuching, kawasan ini menawarkan pengalaman wisata yang berbeda. Pengunjung tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga diajak menyelami sejarah melalui empat lokasi utama, yakni Wallace Centre, Sungai Jaong, Bongkissam, dan Bukit Maras.
Dalam kunjungan media Indonesia yang dipandu pemandu wisata resmi Kementerian Pelancongan, Industri Kreatif dan Seni Persembahan Sarawak, Mohd Nurnazmi, Senin (29/6/2026), perjalanan dimulai dari Wallace Centre.
Galeri tersebut dibangun untuk mengenang kiprah naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, yang menetap di Sarawak pada 1854 hingga 1856. Selama tinggal di wilayah ini, Wallace menulis karya ilmiah terkenal berjudul The Sarawak Law, yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan teori evolusi.

Tak hanya itu, Wallace juga berhasil mengidentifikasi berbagai spesies baru, mulai dari burung, mamalia, reptil, serangga hingga krustasea yang memperkaya kajian sejarah alam di kawasan Kepulauan Melayu.
Di dalam galeri, pengunjung diajak mengikuti kembali perjalanan ekspedisi Wallace menuju Gunung Serumbu, Simunjan, hingga Santubong. Selama penelitian tersebut, Wallace didampingi seorang warga lokal bernama Ali yang menjadi sahabat sekaligus penunjuk jalan dalam menjelajahi kekayaan biodiversitas Sarawak.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Bongkissam dan Bukit Maras, dua situs arkeologi yang mengungkap peran Santubong sebagai pelabuhan penting dalam jalur perdagangan antara India dan China pada masa lampau.
Menurut Nurnazmi, aktivitas perdagangan internasional tersebut ikut membawa pengaruh budaya sekaligus penyebaran agama Hindu-Buddha ke berbagai wilayah Nusantara, termasuk Pulau Borneo. Bukti sejarah itu ditemukan melalui berbagai artefak arkeologi yang berhasil digali di kedua lokasi.
Di Bongkissam, arkeolog menemukan sebuah tempat pemujaan yang menyimpan kotak ritual berbahan perak berisi 142 figur emas tipis yang menggambarkan tradisi Hindu-Buddha. Selain itu ditemukan pula batu semi mulia, manik-manik, serta sebuah arca kecil.
Sementara di Bukit Maras, para peneliti menemukan manik-manik berbentuk bulat dan sebuah figur gajah kecil berwarna biru kehijauan yang menjadi salah satu temuan paling unik dari kawasan tersebut. “Para penyelidik juga telah menemui ratusan seramik dari Dinasti Sung, Yuan, Tang dan Qing di tapak-tapak ini,” ujar Nurnazmi.
Penemuan keramik dari berbagai dinasti Tiongkok tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa Santubong pernah menjadi pusat perdagangan maritim yang ramai di kawasan Asia Tenggara.
Lokasi lain yang tak kalah menarik adalah Sungai Jaong. Situs ini berada di tengah hutan dipterokarpa dan kawasan bakau yang masih alami, menjadikannya perpaduan sempurna antara wisata sejarah dan ekowisata.
Sungai Jaong dikenal sebagai kawasan yang menyimpan berbagai artefak dari abad ke-9 hingga ke-14, saat kaki Gunung Santubong berkembang sebagai pusat aktivitas manusia sekaligus industri peleburan besi.
Daya tarik utama kawasan ini adalah petroglyph atau ukiran batu purba berupa figur manusia yang dipahat langsung pada permukaan batu besar. Ukiran tersebut diyakini merekam tradisi spiritual dan kehidupan masyarakat yang mendiami kawasan Santubong pada masa lampau.

“Sungai Jaong menawarkan keindahan alam semula jadi bersama jejak warisan purba Sarawak, menjadikannya destinasi menarik untuk pecinta alam, peminat sejarah dan pelancong yang penuh rasa ingin tahu akan kehidupan masa lalu,” kata Nurnazmi.
Keempat lokasi tersebut kini dikelola sebagai satu kesatuan Taman Arkeologi Santubong melalui kolaborasi Kementerian Pelancongan, Industri Kreatif dan Seni Persembahan Sarawak bersama Jabatan Muzium Sarawak.
Pengembangan kawasan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga memperkuat pelestarian warisan budaya Sarawak. Berbagai galeri informasi disiapkan agar pengunjung dapat memahami nilai sejarah, budaya, dan arkeologi secara lebih mendalam.
Perpaduan antara lanskap alam, peninggalan arkeologi, hingga kisah ilmuwan dunia menjadikan Taman Arkeologi Santubong sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman wisata berbeda. Bagi pencinta sejarah, arkeologi, maupun pelancong yang ingin mengenal jejak awal peradaban di Borneo, kawasan ini menjadi salah satu tujuan yang layak masuk dalam daftar perjalanan saat berkunjung ke Sarawak. Nah bagi anda yang suka traveling, apa juga penasaran dan tertarik untuk ke sini? (deL)






