Proyek Kilang Balikpapan Pertamina Gerakkan Ekonomi UMKM Lokal

Pembangunan Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina di Kilang Balikpapan tak hanya memperkuat pasokan energi, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal dan UMKM di Kalimantan Timur. Foto: Pertamina

KalbarOke.com – Pembangunan Infrastruktur Energi Terintegrasi PT Pertamina (Persero) di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, tidak hanya diarahkan untuk memperkuat pasokan energi nasional. Proyek strategis ini juga memicu perputaran ekonomi di tingkat lokal, terutama bagi pelaku usaha mikro dan kecil di sekitar kawasan kilang.

Proyek terintegrasi dari hulu hingga hilir tersebut mencakup pembangunan Pipa Gas Senipah, tangki penyimpanan raksasa di Lawe-lawe, Crude Distillation Unit (CDU), fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex, hingga Terminal BBM Tanjung Batu. Seluruh infrastruktur itu diproyeksikan menjadi tulang punggung distribusi energi di kawasan Indonesia Timur.

Dampak langsung proyek dirasakan warga sekitar. Yanti, pemilik warung makan di sekitar lokasi kilang, mengatakan aktivitas usahanya meningkat sejak proyek berjalan. Setiap hari, warung sederhana yang menyajikan menu rumahan itu melayani para pekerja proyek.

“Alhamdulillah, sehari-hari perputaran ada. Mudah-mudahan pekerja Pertamina dan mitra tetap datang ke warung sekitar sini meski pembangunan sudah selesai,” ujar Yanti.

Baca :  Pertamina Dorong UMKM Naik Kelas, Fasilitasi 5.888 Sertifikasi Sepanjang 2025

Kondisi serupa dirasakan Tuti, pemilik Warung Kube Mandiri di kawasan Mekar Sari. Pada jam makan siang, warungnya kerap dipenuhi pekerja proyek pembangunan kilang. “Kalau makan siang ramai sekali, kadang tempat duduk juga kurang. Proyek ini sangat membantu. Harapannya bisa terus berjalan,” katanya.

Cerita para pelaku usaha tersebut menggambarkan bagaimana proyek energi berskala besar turut menggerakkan roda perekonomian daerah, terutama sektor UMKM yang bergantung pada aktivitas masyarakat sekitar proyek.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan keberadaan proyek kilang di Kalimantan Timur membuka lapangan kerja sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Pada fase konstruksi, proyek strategis nasional ini menyerap sekitar 24 ribu tenaga kerja, sebagian besar merupakan tenaga kerja dalam negeri. Sementara pada fase operasi, kilang Balikpapan diproyeksikan melibatkan sekitar 2.000 tenaga kerja secara langsung, disertai efek berganda berupa peluang usaha dan lapangan kerja tidak langsung di berbagai sektor pendukung.

Baca :  Nelayan Optimistis Kampung Nelayan Merah Putih Akan Sejahterakan Desa

“Proyek yang dikembangkan Pertamina tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan multiplier effect yang nyata bagi masyarakat,” ujar Baron.

Ia menambahkan, keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok proyek, jasa pendukung, logistik, hingga kebutuhan konsumsi selama masa konstruksi dan operasi turut memberi kontribusi positif terhadap perekonomian Kalimantan Timur.

Menurut Baron, Pertamina juga menjaga realisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri pada kisaran 35 persen dalam pembangunan kilang. Kebijakan ini ditujukan untuk memperkuat industri nasional, baik sektor manufaktur maupun jasa, agar tumbuh seiring dengan proyek strategis negara.

Melalui optimalisasi TKDN, Pertamina berharap proyek Kilang Balikpapan tidak hanya menjadi simbol kemandirian energi, tetapi juga katalis penguatan ekosistem industri dan ekonomi nasional. (*/)