Bukan Sekadar Gemuk, PERKENI Kalbar Sebut Obesitas Pintu Masuk Kanker Hingga Gangguan Kesuburan

Ketua PERKENI Kalbar dr. Amanda Trixie menekankan pentingnya deteksi dini obesitas sebagai pemicu penyakit endokrin dalam simposium di Pontianak, Sabtu (4/4/2026). (Foto: Ilustrasi Obesitas/Freepik)

KalbarOke.Com — Kasus obesitas di Indonesia yang terus melonjak kini menjadi perhatian serius kalangan medis. Kondisi ini dinilai bukan lagi sekadar persoalan penampilan, melainkan pintu masuk utama bagi berbagai penyakit endokrin, termasuk diabetes yang prevalensinya kini menembus angka 11 persen secara nasional.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Cabang Kalimantan Barat (Kalbar), dr. Amanda Trixie Hardigaloeh, Sp.PD, K-EMD, FINASIM. Pernyataan ini disampaikan dalam simposium yang dirangkaikan dengan pelantikan pengurus PERKENI Cabang Kalbar di Hotel Ibis Pontianak pada Sabtu (4/4/2026).

Menurut dr. Amanda, masyarakat harus mengubah sudut pandang karena obesitas telah resmi ditetapkan sebagai penyakit. Dampaknya sangat luas terhadap kesehatan jangka panjang jika tidak segera ditangani secara medis.

“Prevalensi obesitas sudah mencapai sekitar 30 persen dan terus meningkat. Ini menjadi faktor risiko utama berbagai penyakit endokrin, terutama diabetes,” ujar dr. Amanda pada Sabtu (4/4/2026).

Dokter yang bertugas di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak ini menjelaskan bahwa obesitas berkaitan erat dengan hipertensi, kolesterol tinggi, hingga penurunan fungsi kognitif. Bahkan, kondisi ini bisa memicu penyakit berat seperti kanker dan infertilitas.

Oleh karena itu, pencegahan harus dilakukan sedini mungkin melalui pengaturan pola makan yang ketat. Pengendalian asupan karbohidrat menjadi kunci utama di samping peningkatan aktivitas fisik untuk membakar energi yang masuk ke tubuh.

Baca :  Respon Kritik Jalan Rusak di Momen Misa Paskah, Krisantus Minta Umat Bijak

“Gaya hidup sedentari atau kurang gerak harus dihindari. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki atau bersepeda sudah sangat membantu,” jelas dr. Amanda menambahkan.

Namun, bagi mereka yang sudah mengidap obesitas dan diabetes, aktivitas fisik ringan saja dinilai belum cukup. Diperlukan latihan fisik yang terstruktur dan terencana di bawah pengawasan ahli guna mencapai hasil kesehatan yang optimal.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Bidang Penelitian PERKENI Cabang Kalbar, dr. Izzudin Fathoni, Sp.KO, menyebutkan banyak penyakit metabolik bermula dari tumpukan lemak tubuh. Mulai dari gangguan jantung, stroke, hingga sindrom ovarium polikistik (PCOS) pada wanita.

“Berat badan bukan sekadar ukuran, tetapi sudah menjadi indikator penting dalam kesehatan, bahkan bisa dikatakan sebagai tanda vital tambahan,” kata dr. Izzudin.

Ia juga menyoroti paradigma lama di masyarakat yang menganggap anak gemuk adalah anak yang sehat. Menurutnya, anggapan tersebut sudah tidak relevan dan justru berisiko menyimpan bom waktu kesehatan bagi sang anak di masa depan.

Deteksi dini jauh lebih mudah ditangani dibandingkan ketika sudah terjadi komplikasi kronis. Masyarakat diimbau untuk lebih kritis terhadap berat badan sendiri dan tidak ragu berkonsultasi dengan dokter jika berada di atas kategori normal.

Baca :  Pererat Silaturahmi di Bulan Ramadhan, APJII Kalbar Salurkan Bantuan Sosial ke Yayasan Pendidikan Qur’an

Sebagai informasi, PERKENI Cabang Kalbar merupakan salah satu cabang terbaru dari 21 cabang yang ada di seluruh Indonesia. Kehadiran organisasi ini di Bumi Khatulistiwa diharapkan mampu memperkuat kualitas layanan kesehatan, khususnya dalam menangani kelainan hormon dan metabolisme.

Saat ini, jumlah dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin di Indonesia masih sangat terbatas, yakni hanya sekitar 171 orang. Keberadaan PERKENI di Kalbar menjadi langkah strategis untuk menekan angka penyakit endokrin yang terus menunjukkan tren peningkatan.


Ringkasan Berita

PERKENI Cabang Kalbar resmi dilantik di Pontianak pada Sabtu (4/4/2026) sekaligus menggelar simposium mengenai penyakit endokrin.

Ketua PERKENI Kalbar dr. Amanda Trixie memperingatkan bahwa prevalensi obesitas di Indonesia telah mencapai 30 persen dan menjadi pemicu diabetes.

Obesitas kini dikategorikan sebagai penyakit yang dapat menyebabkan komplikasi serius seperti kanker, stroke, hingga gangguan kesuburan (PCOS).

Ahli medis menekankan pentingnya menghindari gaya hidup sedentari dan mengatur asupan karbohidrat sebagai langkah pencegahan utama.

PERKENI Kalbar hadir untuk memperkuat pelayanan spesialis hormon dan metabolisme mengingat terbatasnya jumlah konsultan endokrin di Indonesia.