KalbarOke.com – Angin segar datang dari sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia. Penemuan sumber daya gas dalam jumlah besar di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur, dinilai menjadi sinyal kuat bagi penguatan ketahanan energi nasional.
Sumur eksplorasi Geliga-1 yang berada di Wilayah Kerja (WK) Ganal dilaporkan mengandung potensi gas sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) serta 300 juta barel kondensat. Blok tersebut dioperasikan perusahaan energi asal Italia, ENI, dengan kepemilikan 82 persen, sementara sisanya dimiliki oleh Sinopec.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyambut positif temuan tersebut. Ia menilai keberhasilan eksplorasi ini mempertegas bahwa potensi migas Indonesia masih sangat besar, khususnya di kawasan Cekungan Kutai.
“Di tengah kondisi global di mana banyak negara menahan cadangan energinya, kita patut bersyukur atas penemuan ini. Ini menjadi bagian dari upaya menjalankan arahan Presiden untuk mencari sumber-sumber energi baru,” ujar Bahlil di Jakarta, 20 April 2026 lalu.
Menurut dia, produksi gas dari proyek yang dikelola ENI diproyeksikan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Pada 2028, produksi diperkirakan mencapai 2.000 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), naik dari produksi saat ini sekitar 600–700 MMSCFD. Angka tersebut bahkan ditargetkan meningkat hingga 3.000 MMSCFD pada 2030.
Selain gas, produksi kondensat juga diproyeksikan mencapai sekitar 90 ribu barel per hari pada 2028 dan meningkat hingga 150 ribu barel per hari pada periode 2029–2030.
Sumur Geliga-1 sendiri dibor hingga kedalaman sekitar 5.100 meter pada kedalaman laut sekitar 2.000 meter. Penemuan ini memperpanjang daftar keberhasilan eksplorasi ENI di kawasan tersebut, setelah sebelumnya menemukan cadangan besar di Geng North pada 2023 dan sumur Konta-1 pada 2025.
Pengembangan proyek ini akan terintegrasi dengan proyek North Hub yang memanfaatkan fasilitas terapung atau Floating Production Storage and Offloading (FPSO) berkapasitas 1 miliar kaki kubik gas per hari serta 90 ribu barel kondensat per hari. Selain itu, pengolahan gas juga akan didukung fasilitas eksisting seperti Kilang LNG Bontang.
Bahlil menambahkan, sebelumnya juga ditemukan potensi besar dari Sumur Gula dengan estimasi 2 TCF gas dan 75 juta barel kondensat. Secara gabungan, kedua temuan tersebut berpotensi menambah produksi hingga 1.000 MMSCFD gas dan 90 ribu barel kondensat per hari.
Ia optimistis peningkatan produksi ini akan membantu memenuhi kebutuhan energi domestik sekaligus mengurangi ketergantungan impor minyak. Selain itu, temuan ini juga membuka peluang percepatan pembangunan infrastruktur gas terintegrasi di dalam negeri.
“Ini bukan hanya soal cadangan, tapi juga bagaimana kita mempercepat monetisasi dan memberikan nilai tambah maksimal bagi negara,” kata Bahlil. (*/)







