Kenapa Sarawak Jadi Tuan Rumah 700 Pemuda ASEAN di RAYS 2026? Ini Alasannya

Dato Sri Haji Abdul Karim Rahman Hamzah, Menteri Pariwisata, Industri Kreatif, dan Seni Pertunjukan Sarawak, bersama sejumlah tamu kehormatan menghadiri peluncuran resmi penyelenggaraan Rainforest Youth Summit (RAYS) 2026 edisi ketiga di Kuching, Sarawak. Foto: Ist

KalbarOke.com – Rainforest Youth Summit (RAYS) 2026 kembali digelar di Kuching, Sarawak, Malaysia, pada 24–26 Juni 2026. Memasuki penyelenggaraan ketiga, forum internasional tersebut mempertemukan hampir 700 pemuda dari seluruh negara ASEAN bersama peserta dari berbagai kawasan dunia untuk merumuskan solusi menghadapi perubahan iklim, perlindungan keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan.

Mengusung tema “Youth: Many Ways, One Planet”, RAYS 2026 menekankan pentingnya kolaborasi lintas budaya, disiplin ilmu, dan negara dalam menghadapi tantangan lingkungan global.

Penyelenggara menyebut forum ini dibangun di atas keberhasilan dua penyelenggaraan sebelumnya yang telah melibatkan sekitar 1.700 peserta muda, lebih dari 50 pembicara, serta lebih dari 80 organisasi dari 37 negara.

Tahun ini, peserta berasal dari seluruh 11 negara ASEAN, ditambah delegasi dari berbagai negara lain. Mereka terdiri atas mahasiswa, peneliti, aktivis lingkungan, pemimpin muda, pegiat komunitas, pelaku industri kreatif, hingga calon pembuat kebijakan.

“Anak muda datang bukan hanya untuk menerima pengetahuan, tetapi juga membagikan pengalaman dan membangun jejaring yang dapat menghasilkan perubahan nyata,” jelas Menteri Pariwisata, Industri Kreatif, dan Seni Pertunjukan Sarawak, Dato Sri Haji Abdul Karim Rahman Hamzah.

Sebab di sini, lanjut Abdul Karim, para peserta tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi juga sebagai kontributor yang membawa pengalaman, gagasan, serta solusi dari komunitas masing-masing. “Masa depan tidak dapat dibangun untuk generasi muda tanpa melibatkan generasi muda,” tegasnya.

Pemilihan Sarawak sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Wilayah di Pulau Kalimantan tersebut memiliki salah satu ekosistem hutan hujan tropis tertua di dunia, lengkap dengan kawasan gambut yang berfungsi sebagai penyerap karbon alami dalam jumlah besar.

“Sarawak memiliki posisi strategis sebagai lokasi penyelenggaraan RAYS karena masih mempertahankan sekitar 65 persen wilayahnya dalam tutupan hutan,” ungkap Abdul Karim, seraya menilai kawasan hutan hujan tropis dan lahan gambut di Sarawak disebut berperan penting dalam menyimpan karbon sekaligus menjaga keanekaragaman hayati dunia.

Melalui penyelenggaraan RAYS, para peserta tidak hanya berdiskusi di ruang konferensi, tetapi juga diajak melihat langsung hubungan antara pelestarian alam, kehidupan masyarakat lokal, serta pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Baca :  RAYS 2026 di Sarawak Satukan Pemuda ASEAN Bahas Krisis Iklim dan Masa Depan Bumi

Seluruh kegiatan dipusatkan di voco Kuching by IHG, hotel yang menerapkan berbagai prinsip ramah lingkungan seperti efisiensi energi, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, hingga pemanfaatan material berkelanjutan.

18 Pembicara dari Berbagai Negara

Sebanyak 18 pembicara dari Asia, Afrika, Eropa, Timur Tengah hingga Amerika Latin mengisi berbagai sesi. Mereka berasal dari beragam latar belakang, mulai dari aktivis perubahan iklim, ilmuwan konservasi, tokoh masyarakat adat, pengusaha sosial, sineas, hingga pakar pembangunan berkelanjutan.

Beberapa nama yang tampil antara lain aktivis iklim asal Kenya Elizabeth Wathuti, penasihat perubahan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa Ashley Lashley dari Barbados, aktivis lingkungan Tori Tsui dari Inggris-Hong Kong, hingga pegiat konservasi beruang madu Borneo Wong Siew Te dari Malaysia.

Selain pembicara internasional, forum juga menghadirkan tokoh-tokoh asal Sarawak yang bergerak di bidang kuliner tradisional, kerajinan masyarakat adat, perfilman, hingga pelestarian budaya lokal.

Sarah Lois Dora, seorang sineas perempuan dari komunitas adat asal Kalimantan berbasis di Malaysia, dikenal luas atas dedikasinya dalam mengangkat narasi masyarakat adat Sarawak, khususnya warisan budaya suku Kelabit. Foto: Anwar Coff

Satu di antara pembicara yang cukup menyita perhatian peserta yakni Sarah Lois Dora, seorang sineas perempuan dari komunitas adat asal Kalimantan yang berbasis di Malaysia. Ia dikenal luas atas dedikasinya dalam mengangkat narasi masyarakat adat Sarawak, khususnya warisan budaya suku Kelabit.

Sarah telah memberikan kontribusi penting bagi pelestarian budaya Sarawak dan perkembangan seni di Malaysia. Seperti karyanya sebagai sutradara film dan video musik yang mampu memadukan keindahan visual dengan kekayaan budaya.

Beberapa karya terkenalnya antara lain Songs of the Highlands dan video musik Warrior Spirit milik Alena Murang. Melalui karya-karyanya, ia berupaya mengedukasi masyarakat sekaligus mengangkat suara komunitas adat Kalimantan di panggung yang lebih luas. “Ini mempertegas Identitas diri kita, dari mana kita berasal, serta seperti apa budaya Masyarakat kita,” ungkapnya.

Dalam upaya melestarikan bahasa Kelabit yang terancam punah, Sarah bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata, Industri Kreatif, dan Seni Pertunjukan Sarawak (MTCP) menerbitkan tiga buku cerita anak. Proyek tersebut bertujuan mewariskan bahasa dan budaya Kelabit kepada generasi muda agar tetap lestari.

Salah satu inovasi pada RAYS 2026 adalah peluncuran Planet Futures Forum, sebuah simulasi tata kelola perubahan iklim yang mengajak peserta merasakan langsung proses pengambilan keputusan dalam kebijakan lingkungan.

Baca :  Pelatihan Ecoprint Ramah Lingkungan DWP Karantina Kalbar Bangun Kreativitas dan Peluang Usaha Anggota

Peserta akan mengikuti simulasi negosiasi, penyusunan strategi, hingga proses kompromi sebagaimana yang terjadi dalam forum internasional mengenai perubahan iklim. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan berpikir sistem, kepemimpinan kolaboratif, negosiasi, serta penyusunan solusi yang realistis.

Hasil diskusi akan menjadi dasar penyusunan RAYS Youth Declaration, dokumen yang memuat aspirasi dan rekomendasi generasi muda terhadap agenda pembangunan berkelanjutan. Selain forum utama, penyelenggara juga memperkenalkan RAYS Fellowship Programme, yaitu program pengembangan kepemimpinan selama 12 bulan bagi 10 hingga 15 peserta terpilih.

Para peserta akan mengikuti pembelajaran daring setiap bulan, menyusun rekomendasi tata kelola lingkungan, bekerja bersama komunitas lokal dan masyarakat adat, serta mengembangkan proyek nyata yang berkaitan dengan perubahan iklim. Program ini diharapkan menjadi wadah pembinaan jangka panjang agar gagasan yang muncul selama konferensi tidak berhenti setelah acara selesai.

Belajar Langsung di Hutan Hujan Sarawak

RAYS 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan luar ruang yang memperkenalkan kekayaan alam Sarawak. Delegasi dapat mengikuti kunjungan ke Semenggoh Wildlife Centre untuk melihat orangutan semi-liar di habitat alaminya, serta menjelajahi hutan kota Kuching melalui kegiatan Jungle Night Walk guna mengenal satwa nokturnal.

Selain itu, seluruh peserta dijadwalkan menghadiri pembukaan Rainforest World Music Festival 2026, festival musik internasional yang mengangkat hubungan antara budaya, konservasi alam, dan pemberdayaan masyarakat lokal.

RAYS 2026 diselenggarakan oleh Pemerintah Negara Bagian Sarawak bersama Sarawak Tourism Board. Forum ini mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata, Industri Kreatif dan Seni Pertunjukan Sarawak, Kementerian Pemuda, Olahraga dan Pembangunan Wirausaha Sarawak, serta mitra strategis seperti ASEAN, Pacific Asia Travel Association (PATA), dan UN Tourism.

Selain itu, sejumlah organisasi internasional turut menjadi mitra pengetahuan, di antaranya WWF Malaysia, Sustainable Development Solutions Network (SDSN), Sunway Centre for Planetary Health, serta Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS).

Penyelenggara berharap RAYS 2026 tidak hanya menjadi konferensi tahunan, tetapi berkembang menjadi ekosistem pembinaan pemimpin muda yang mampu menghasilkan solusi nyata bagi perlindungan hutan hujan, ketahanan iklim, dan pembangunan berkelanjutan di kawasan ASEAN maupun dunia. (deL)