RAYS 2026 di Sarawak Satukan Pemuda ASEAN Bahas Krisis Iklim dan Masa Depan Bumi

RAYS 2026 resmi dibuka di Kuching, Sarawak, Malaysia, mempertemukan delegasi muda dari seluruh ASEAN dan berbagai negara untuk membahas kepemimpinan iklim, pelestarian biodiversitas, dan pembangunan berkelanjutan. Foto: Delli Borneo

KalbarOke.com – Rainforest Youth Summit (RAYS) 2026 resmi dibuka di Kuching, Sarawak, Malaysia, Rabu, 24 Juni 2026. Forum internasional yang memasuki penyelenggaraan ketiga ini mempertemukan ratusan pemuda dari seluruh negara ASEAN bersama peserta dari berbagai belahan dunia untuk membahas solusi terhadap perubahan iklim, perlindungan keanekaragaman hayati, hingga pembangunan berkelanjutan.

Mengusung tema “Youth: Many Ways, One Planet”, RAYS 2026 berlangsung selama tiga hari, 24–26 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi bagi pemimpin muda, peneliti, akademisi, aktivis lingkungan, pelaku industri kreatif, mahasiswa, hingga calon pembuat kebijakan untuk merumuskan langkah nyata menghadapi tantangan lingkungan global.

Penyelenggara menyebut partisipasi tahun ini semakin beragam dengan kehadiran delegasi dari seluruh 11 negara ASEAN, termasuk untuk pertama kalinya peserta dari Timor-Leste. Selain itu, peserta juga berasal dari berbagai latar belakang budaya, disiplin ilmu, dan pengalaman sosial yang berbeda.

Menteri Pariwisata, Industri Kreatif, dan Seni Pertunjukan Sarawak sekaligus Menteri Pemuda, Olahraga, dan Pembangunan Wirausaha Sarawak, Dato Sri Haji Abdul Karim Rahman Hamzah, mengatakan generasi muda harus menjadi bagian utama dalam membangun masa depan.

“Masa depan tidak bisa dibangun untuk generasi muda tanpa melibatkan generasi muda. RAYS 2026 menjadi titik temu antara kepemimpinan pemuda, pelestarian lingkungan, pengetahuan masyarakat adat, ilmu pengetahuan, kreativitas, kebijakan, budaya, dan komunitas,” ujarnya saat membuka acara.

Menurut dia, forum tersebut diharapkan mampu mendorong kaum muda bergerak dari sekadar memiliki kepedulian terhadap lingkungan menjadi pelaku perubahan yang menghadirkan solusi nyata.

Baca :  Satgas Pamtas Gagalkan Penyelundupan 21,4 Kilogram Sabu dari Malaysia di Entikong

RAYS 2026 diselenggarakan oleh Sarawak Tourism Board (STB) dengan dukungan Pemerintah Negara Bagian Sarawak. Forum ini sekaligus memperkuat posisi Sarawak sebagai salah satu pusat dialog kepemudaan, pariwisata berkelanjutan, serta pengelolaan lingkungan di kawasan Asia Tenggara.

Selama tiga hari, peserta mengikuti berbagai agenda seperti dialog utama, diskusi pleno, lokakarya, forum yang dipimpin pemuda, pertukaran budaya, sesi jejaring, hingga kegiatan lapangan yang dirancang untuk mengubah gagasan menjadi aksi nyata.

Chief Executive Officer Sarawak Tourism Board, Dr. Sharzede Datu Haji Salleh Askor, mengatakan RAYS bukan sekadar konferensi tahunan. “RAYS merupakan jalur pembelajaran, kepemimpinan, dan aksi bersama. Para peserta tidak hanya datang untuk menerima pengetahuan, tetapi juga berbagi pengalaman, membangun jejaring, dan membawa komitmen tersebut setelah forum berakhir,” katanya.

Salah satu agenda utama tahun ini adalah Planet Futures Forum, sebuah simulasi tata kelola perubahan iklim yang memungkinkan peserta merasakan langsung kompleksitas proses pengambilan keputusan dalam kebijakan lingkungan.

Melalui simulasi tersebut, peserta diajak memahami berbagai tantangan negosiasi, kompromi, dan tanggung jawab bersama dalam menghadapi krisis iklim. Program ini juga bertujuan meningkatkan kemampuan berpikir sistem, negosiasi, dan penyusunan solusi kolaboratif.

Hasil diskusi akan menjadi dasar penyusunan RAYS Youth Declaration, dokumen berisi aspirasi, rekomendasi, dan komitmen generasi muda terhadap pembangunan yang lebih berkelanjutan. RAYS 2026 juga menjadi momentum peluncuran RAYS Fellowship Programme, sebuah program pengembangan kepemimpinan selama 12 bulan bagi pemuda terpilih.

Baca :  Lapor Sejak Mei Belum Ada Kejelasan, Warga Samalantan Tagih Kepastian Hukum Kasus Pencurian Rumah

Program tersebut akan membekali peserta dengan pengalaman dalam tata kelola iklim, kepemimpinan kolaboratif, penyusunan rekomendasi kebijakan, serta penerapan solusi berbasis masyarakat dan pengetahuan lokal.

Melalui program ini, peserta akan mengikuti pembelajaran rutin setiap bulan, mengembangkan proyek nyata, serta bekerja sama dengan komunitas lokal dan masyarakat adat dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Selain forum diskusi, para delegasi juga dijadwalkan mengikuti berbagai kegiatan budaya dan wisata yang memperkenalkan hubungan erat antara hutan hujan tropis, masyarakat lokal, dan tradisi Sarawak.

Peserta turut menghadiri pembukaan Rainforest World Music Festival 2026, salah satu festival musik internasional terbesar di kawasan yang mengangkat tema pelestarian budaya dan lingkungan.

Penyelenggara berharap rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat.

RAYS 2026 didanai Pemerintah Negara Bagian Sarawak dan diselenggarakan oleh Sarawak Tourism Board dengan dukungan Kementerian Pariwisata, Industri Kreatif dan Seni Pertunjukan Sarawak, Kementerian Pemuda, Olahraga dan Pembangunan Wirausaha Sarawak, serta sejumlah mitra strategis seperti ASEAN, Pacific Asia Travel Association (PATA), dan UN Tourism.

Forum tersebut akan ditutup pada 26 Juni 2026 dengan peluncuran resmi RAYS Youth Declaration, yang diharapkan menjadi acuan bagi keterlibatan generasi muda dalam kebijakan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di tingkat regional maupun global. (deL)