KalbarOke.com — Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, meminta PT PLN dan PT Pertamina memperkuat langkah mitigasi di tengah status tanggap darurat kekeringan dan kabut asap. Pemerintah khawatir bencana tidak hanya memicu krisis air, tetapi juga menimbulkan persoalan baru berupa kelangkaan bahan bakar hingga gangguan listrik.
Bupati Kubu Raya Sujiwo mengatakan kondisi masyarakat sudah cukup berat akibat kabut asap, kekeringan, serta keterbatasan air bersih dan air minum. Karena itu, ia meminta pasokan kebutuhan dasar tidak ikut terganggu.
“Jangan sampai BBM antre di SPBU, LPG langka atau harganya mahal. Itu pasti akan menambah berat penderitaan masyarakat,” kata Sujiwo dalam rapat koordinasi kondisi darurat Kubu Raya.
Menurut dia, Pertamina perlu memastikan distribusi BBM dan LPG tetap lancar. Sementara PLN diminta mengantisipasi gangguan listrik yang berpotensi memperburuk situasi masyarakat. “Jangan sampai kabut asap, air minum susah, air bersih susah, kemudian listrik juga padam. Ini akan menambah derita masyarakat dan bisa menambah kepanikan,” ujarnya.
Sujiwo mengatakan kondisi darurat membutuhkan langkah pencegahan sebelum persoalan berkembang menjadi krisis yang lebih besar. Ia meminta PLN dan Pertamina tidak hanya bertindak ketika gangguan sudah terjadi. Pengawasan distribusi energi juga harus dilakukan bersama pemerintah daerah dan aparat terkait.
“Makanya pengawasan dari Pertamina maupun PLN kita minta dilakukan bersama. Inilah namanya kolaborasi,” kata dia.
Menurut Sujiwo, situasi bencana juga berpotensi dimanfaatkan pihak tertentu untuk mencari keuntungan. Karena itu, pengawasan terhadap distribusi kebutuhan pokok dan energi perlu diperketat. Pemerintah daerah ingin memastikan masyarakat tetap mendapatkan BBM, LPG dan listrik tanpa harus menghadapi antrean panjang, kelangkaan, atau kenaikan harga yang tidak wajar.
Di tengah ancaman kekeringan, pemerintah juga mempercepat pemetaan sumber air baku yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga. Sejumlah waduk disebut memiliki potensi sebagai cadangan air, termasuk waduk di kawasan Taman Makam Pahlawan dan Batalyon Para.
Pemerintah daerah menyiapkan sarana water treatment agar air dari sumber yang tersedia dapat diolah menjadi air yang layak digunakan masyarakat. Dukungan peralatan pengolahan air juga datang dari sejumlah unsur, antara lain Brimob, Kodim, BPBD/BPBK, dan Batalyon Para.
Sarana tersebut diharapkan menjadi penyangga kebutuhan air apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dan sumber air masyarakat semakin terbatas. Sujiwo meminta masyarakat tetap tenang menghadapi kekeringan dan kabut asap. Ia mengajak seluruh pihak menghindari saling menyalahkan dan memilih memperkuat kerja sama.
Menurut dia, pemerintah, TNI, Polri, PLN, Pertamina, dan masyarakat harus saling mendukung dalam menghadapi kondisi darurat. Ia juga meminta pengawasan terhadap depot air minum diperketat. Pemerintah ingin memastikan air yang dikonsumsi masyarakat memenuhi standar keamanan.
Sujiwo mengatakan air dengan rasa payau masih dapat digunakan sepanjang terbebas dari bakteri dan kandungan berbahaya. “Walaupun sekarang ada air yang rasanya payau, tidak apa-apa. Yang penting bebas dari bakteri dan kandungan berbahaya lainnya,” katanya.
Ia mengingatkan keterbatasan air jangan sampai membuat masyarakat mengonsumsi air yang tidak layak dan kemudian menghadapi persoalan kesehatan baru.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, penanganan bencana kali ini bukan hanya soal memadamkan api atau mencari sumber air. Pasokan energi, keamanan air minum, dan ketenangan masyarakat juga harus dijaga agar kekeringan dan kabut asap tidak berubah menjadi krisis berantai. “Ketika kita menghadapinya bersama-sama, saya yakin kita akan kuat,” ujar Sujiwo. (J-Mus)






