KalbarOke.com – Pemerintah mempercepat hilirisasi sektor perkebunan sebagai strategi utama memperkuat kemandirian energi sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas domestik di tengah tekanan global dan ketergantungan pada energi fosil.
Kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong transformasi ekonomi melalui penguatan industri hilir serta pengurangan impor energi. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan paradigma pembangunan perkebunan harus bergeser dari sekadar produksi bahan mentah menuju pengolahan bernilai tambah tinggi.
“Hasil perkebunan harus naik kelas. Tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk turunan bernilai tinggi, termasuk bioenergi,” ujar Amran dalam keterangannya, Jumat, 24 April 2026.
Sejumlah komoditas strategis seperti kelapa sawit, tebu, jagung, dan singkong kini diarahkan menjadi tulang punggung pengembangan bahan bakar nabati, baik biodiesel maupun bioetanol. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat bauran energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Di sektor hulu, pemerintah terus meningkatkan produksi dan produktivitas melalui percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan sarana produksi, serta penguatan pengawasan perizinan dan sertifikasi keberlanjutan seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Untuk komoditas tebu, pemerintah menargetkan percepatan swasembada gula sekaligus pengembangan bioetanol melalui program bongkar ratoon dan perluasan areal tanam hingga 200.000 hektare secara nasional.
Selain itu, pembenahan data dan sistem informasi perkebunan menjadi prioritas guna memastikan perencanaan yang lebih presisi dalam mendukung pasokan bahan baku industri bioenergi.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, menilai hilirisasi memberikan dampak signifikan bagi perekonomian nasional. “Hilirisasi perkebunan akan menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat industri berbasis komoditas, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan pekebun,” kata Ali.
Ia menambahkan, pengembangan komoditas ke depan tidak hanya difokuskan pada kebutuhan pangan dan industri konvensional, tetapi juga diarahkan sebagai sumber energi terbarukan yang prospektif.
Pemerintah juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, mulai dari produksi di tingkat hulu, pengolahan industri, hingga kebijakan energi nasional, guna memastikan kesinambungan pasokan bahan baku.
Dengan integrasi dari hulu hingga hilir, hilirisasi perkebunan diharapkan menjadi fondasi strategis dalam memperkuat ketahanan energi dan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. (*/)







