KalbarOke.com – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) mempercepat langkah pemulihan ekspor sarang burung walet ke China setelah otoritas setempat menghentikan sementara pengiriman dari sejumlah eksportir Indonesia. Penghentian ini dipicu temuan kandungan aluminium yang melebihi ambang batas yang ditetapkan.
Dalam forum China-Indonesia Bird’s Nest Trade Summit, Kemendag mempertemukan 20 pelaku usaha nasional dengan pembeli asal China guna memperkuat akses pasar sekaligus merespons temuan dari General Administration of Customs China terkait kandungan aluminium di atas 100 ppm.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, mengatakan diskusi tersebut juga membahas dampak suspensi terhadap 18 perusahaan Indonesia. “Kami memperkuat komitmen bersama untuk menjaga akses pasar, sekaligus menindaklanjuti temuan GACC terkait kandungan aluminium,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa, 14 April 2026.
China selama ini menjadi pasar utama dengan porsi 80,15 persen dari total ekspor sarang burung walet Indonesia. Namun, pada 2025 nilainya tercatat sebesar USD 380,20 juta atau sekitar Rp6,08 triliun (asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS), turun 11,33 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, tren lima tahun terakhir masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 2,66 persen.
Puntodewi menegaskan pemerintah bersama pemangku kepentingan telah menyiapkan langkah strategis, termasuk memperkuat diplomasi perdagangan dan teknis dengan otoritas China. Langkah ini bertujuan memastikan transparansi dan akuntabilitas metode pengujian yang digunakan oleh GACC.
Ia juga mengapresiasi respons cepat para eksportir yang melakukan audit internal dan memperbaiki sistem produksi, terutama dalam penguatan kontrol kualitas. Pemerintah akan terus mengawal proses verifikasi agar perusahaan yang terkena suspensi dapat segera kembali mengekspor.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag, Miftah Farid, menambahkan bahwa pemerintah mendorong pelaku usaha lain untuk mengisi peluang pasar yang kosong akibat suspensi sementara tersebut. “Ada potensi kekosongan ekspor sekitar 300 ton yang bisa dimanfaatkan eksportir yang telah memenuhi standar,” katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), selain China, pasar ekspor sarang burung walet Indonesia pada 2025 mencakup Hong Kong sebesar USD 36,26 juta (sekitar Rp580 miliar), Singapura USD 19,75 juta (sekitar Rp316 miliar), Vietnam USD 15,48 juta (sekitar Rp247 miliar), dan Amerika Serikat USD 12,77 juta (sekitar Rp204 miliar).
Secara global, Indonesia masih menjadi pemasok terbesar sarang burung walet dengan nilai ekspor mencapai USD 551,56 juta atau sekitar Rp8,82 triliun pada 2025, berkontribusi 58,31 persen terhadap pasar dunia.
Namun tekanan masih terasa pada awal 2026. Nilai ekspor Januari–Februari tercatat USD 83,04 juta atau sekitar Rp1,33 triliun, turun 10,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sepanjang 2025, total ekspor juga menurun menjadi USD 474,35 juta atau sekitar Rp7,59 triliun, turun 16,27 persen dibandingkan 2024.
Kemendag menilai pemulihan kepercayaan pasar menjadi kunci agar kinerja ekspor sarang burung walet Indonesia kembali pulih di tengah ketatnya standar kualitas global. (*/)







