Kemenperin Dorong Kemasan Ramah Lingkungan, Industri Mamin Tahan Tekanan Harga Plastik Global

Kemenperin mendorong inovasi kemasan ramah lingkungan di tengah tekanan harga plastik global. Industri mamin dinilai tetap tangguh dan kompetitif. Foto: dok Kemenperin

KalbarOke.com – Kementerian Perindustrian menegaskan industri agro nasional, khususnya sektor makanan dan minuman, tetap mampu menjaga keberlanjutan produksi di tengah dinamika global yang memengaruhi harga bahan baku plastik. Pemerintah pun mendorong percepatan pengembangan bahan kemasan alternatif guna memperkuat daya saing industri nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah, berpotensi mengganggu rantai pasok bahan baku kemasan. Menurut dia, situasi ini justru menjadi momentum untuk mendorong inovasi kemasan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

“Industri makanan dan minuman menjadi salah satu sektor yang banyak memanfaatkan produk plastik untuk berbagai kebutuhan kemasan. Situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini menjadi peluang untuk memacu peningkatan efisiensi sekaligus mempercepat inovasi kemasan alternatif yang lebih berkelanjutan,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 23 April 2026.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menambahkan, pelaku industri telah mulai melakukan diversifikasi material kemasan. Alternatif yang digunakan meliputi kertas, kaca, logam, hingga plastik daur ulang seperti recycled PET (rPET).

Baca :  Dua Restoran Indonesia Masuk Asia’s 50 Best 2026, Kemenpar Dorong Wisata Gastronomi

Untuk kemasan berbasis kertas, Putu menyebut industri pulp dan kertas nasional memiliki fondasi kuat. Hingga 2025, terdapat 113 perusahaan dengan kapasitas produksi pulp mencapai 14,48 juta ton per tahun dan kertas 25,37 juta ton per tahun. Nilai ekspornya mencapai 8,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp131 triliun, serta menyerap sekitar 1,48 juta tenaga kerja.

“Potensi pengembangan kemasan berbasis kertas sangat besar, terutama untuk kebutuhan ritel, industri makanan minuman, e-commerce, dan logistik. Saat ini kami juga fokus pada pengembangan aseptic packaging untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok dingin,” ujar Putu.

Ia menambahkan, inovasi lanjutan seperti barrier paper, paper bottle, nano-cellulose coating, hingga active paper packaging perlu terus diperkuat melalui riset dan investasi.

Baca :  Indonesia-Polandia Perkuat Kerja Sama Pertanian, Fokus Ketahanan Pangan dan Investasi

Selain itu, Kemenperin juga mendorong pengembangan bioplastik berbasis bahan hayati seperti singkong dan rumput laut. Sejumlah pelaku industri dalam negeri telah memulai produksi kemasan ramah lingkungan dari pati singkong maupun bahan berbasis rumput laut.

Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri ini, mengingat posisinya sebagai salah satu produsen utama ubi kayu dan rumput laut dunia. Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), kapasitas industri bioplastik berbahan baku ubi kayu mencapai 8 ribu ton per tahun, sedangkan berbasis rumput laut sekitar 28 ton per tahun.

Kementerian Perindustrian menegaskan akan terus memantau perkembangan global sekaligus memfokuskan kebijakan pada penguatan struktur industri nasional. Langkah tersebut mencakup diversifikasi bahan baku, penguatan sektor hulu, serta pengembangan produk kemasan inovatif.

Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat ketahanan industri agro Indonesia dalam menghadapi tekanan eksternal. (*/)