Harmoni Budaya di HUT Sanggau: Ritual Adat Dayak dan Melayu Bersatu Mohon Keselamatan Daerah

Peringatan Hari Jadi Kota Sanggau ke-410 tahun 2026 diwarnai ritual adat sakral Pedagi Macant Nyawi dan Bebuang sebagai wujud syukur dan pelestarian budaya. (Foto: Hms)

KalbarOke.Com — Momentum Hari Jadi Kota Sanggau ke-410 tahun 2026 diperingati dengan serangkaian ritual adat sakral yang mencerminkan kekayaan budaya lokal. Perayaan dimulai dengan pelaksanaan ritual adat Dayak, Pedagi Macant Nyawi dan Nek Lanai, yang digelar di Rumah Betang Dori’ Mpulor, Desa Sungai Mawang, Senin (13/4/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh Staf Ahli Bupati Sanggau Yakobus, jajaran Forkopimda, serta tokoh adat. Ritual ini merupakan wujud penghormatan terhadap leluhur dan upaya menjaga jati diri masyarakat Dayak agar tetap relevan bagi generasi muda.

“Ritual Pedagi Macant Nyawi dan Nek Lanai bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan asal-usul Kota Sanggau,” tegas Yakobus dalam sambutannya mewakili Bupati Sanggau.

Ritual ini memiliki makna spiritual mendalam sebagai permohonan keselamatan, keberkahan, dan perlindungan bagi seluruh masyarakat Bumi Daranante. Selain aspek spiritual, kegiatan ini menjadi sarana mempererat hubungan sosial dan sinergi antara pemerintah dengan para pemangku adat.

Baca :  Korlantas Longgarkan Syarat Pajak STNK 2026, Tak Perlu KTP Pemilik Lama

Tradisi Bebuang di Keraton Surya Negara

Sebelumnya, nuansa sakral juga menyelimuti kawasan Keraton Surya Negara Sanggau pada Jumat (10/4/2026) sore. Raja Keraton Sanggau, Pangeran Ratu Surya Negara Gusti Arman, memimpin langsung ritual adat Bebuang atau Tolak Ajong, Ruah Rasul, dan Doa Tolak Bala.

Gusti Arman menjelaskan bahwa Bebuang memiliki makna simbolis untuk membuang segala bentuk kesialan dan marabahaya. Tradisi ini menjadi elemen penting dalam menjaga keseimbangan hidup dan keharmonisan sosial masyarakat Sanggau yang heterogen.

“Ruah Rasul merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan, sementara Doa Tolak Bala menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan bagi seluruh warga,” ujar Raja Sanggau tersebut.

Keraton Surya Negara Sanggau gelar ritual adat Bebuang atau Tolak Ajong, Ruah Rasul, dan Doa Tolak Bala.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sanggau, Aswin Khatib, yang hadir dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa warisan budaya leluhur ini sarat akan kearifan lokal yang harus dijaga kelestariannya. Ia berharap momentum usia ke-410 ini menjadi pemacu semangat pembangunan daerah.

Baca :  Fakta Pilu Kecelakaan Bus Damri di Penyeladi: Sopir Keluhkan Rem Sedari Sambas, Perusahaan ‘Paksa’ Jalan

“Semoga momentum Hari Jadi Kota Sanggau dapat memperkuat persatuan masyarakat serta mendorong semangat pembangunan agar Sanggau semakin maju dan berdaya saing,” tutup Aswin Khatib.

Perpaduan ritual dari berbagai etnis ini membuktikan bahwa Kota Sanggau tetap kokoh dalam balutan toleransi dan kearifan lokal meski telah berusia lebih dari empat abad.


Ringkasan Berita

  • Ritual adat Pedagi Macant Nyawi dan Nek Lanai dilaksanakan di Rumah Betang Dori’ Mpulor sebagai bagian dari HUT Sanggau ke-410.
  • Keraton Surya Negara menggelar ritual Bebuang (Tolak Ajong) dan Doa Tolak Bala untuk memohon keselamatan daerah.
  • Kegiatan dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Sanggau, TNI-Polri, serta tokoh lintas adat sebagai simbol persatuan.
  • Seluruh ritual menekankan pada penghormatan sejarah, rasa syukur kepada Tuhan, dan penguatan identitas budaya bagi generasi muda.
  • Pemerintah berharap nilai-nilai kearifan lokal ini mampu menjadi pondasi dalam membangun Sanggau yang lebih maju dan harmonis.