KalbarOke.com – Pemerintah Kota Singkawang mulai menyusun masterplan tata ruang dan pengembangan pusat kota baru sebagai langkah strategis untuk mengarahkan pembangunan kota yang lebih terintegrasi, modern, dan berkelanjutan.
Pembahasan program tersebut dipimpin langsung Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, bersama Wakil Wali Kota Muhammadin dalam rapat kerja di Kantor Wali Kota Singkawang, Selasa, 2 Juni 2026.
Tjhai Chui Mie mengatakan masterplan tata ruang akan menjadi acuan utama dalam pengendalian pemanfaatan ruang, pemberian izin pembangunan, hingga penentuan prioritas pembangunan infrastruktur di Kota Singkawang.
“Masterplan ini menjadi landasan penting agar pembangunan kota berjalan terarah, tidak tumpang tindih, serta tetap selaras dengan Rencana Tata Ruang Wilayah,” kata Tjhai Chui Mie.
Dalam pemaparan awal, tim arsitek menawarkan sejumlah konsep pengembangan wilayah yang mengusung pendekatan compact city atau kota kompak dengan dukungan sistem transportasi terpadu dan ramah lingkungan.
Kajian tersebut juga mencakup proyeksi pertumbuhan penduduk hingga 20 tahun ke depan serta analisis daya dukung lingkungan. Salah satu fokus utama yang dibahas adalah rencana pembangunan pusat kota baru yang diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, pelayanan publik, dan aktivitas masyarakat modern di Singkawang.
Menurut Tjhai Chui Mie, kawasan baru tersebut harus dirancang dengan mempertimbangkan tata ruang yang terintegrasi, konektivitas antarwilayah, ketersediaan infrastruktur, hingga pengembangan ekonomi daerah. Ia menegaskan pusat kota baru wajib mengadopsi konsep smart city dan kota inklusif.
“Ketersediaan ruang terbuka hijau minimal 30 persen, sistem drainase berwawasan lingkungan, jalur pedestrian yang nyaman, serta akses ramah disabilitas harus menjadi bagian penting dalam perencanaan,” ujarnya.
Pemkot Singkawang menilai pembangunan kawasan baru itu penting untuk mendukung pemerataan pembangunan sekaligus mengurangi kepadatan di kawasan inti kota. Ke depan, kawasan tersebut direncanakan dilengkapi pusat pemerintahan baru, area perdagangan dan jasa, hunian terjangkau, ruang publik, hingga simpul transportasi yang terhubung dengan wilayah penyangga.
Pemerintah daerah optimistis proyek itu dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru melalui peningkatan investasi dan penciptaan lapangan kerja. Selain membahas masterplan tata ruang, rapat juga menyoroti pradesain Bundaran Tirta Cakra Mahkota yang disiapkan menjadi ikon baru Kota Singkawang.
Bundaran tersebut dirancang tidak hanya sebagai simpul lalu lintas, tetapi juga landmark kota yang merepresentasikan identitas dan keberagaman masyarakat Singkawang. Tim arsitek memaparkan konsep desain yang mengangkat harmoni tiga etnis besar di Singkawang melalui ornamen budaya lokal.
Kawasan bundaran juga direncanakan dilengkapi air mancur, taman tematik, dan pencahayaan artistik untuk memperkuat daya tarik wisata perkotaan pada malam hari.
Tjhai Chui Mie meminta proses penyempurnaan desain melibatkan tokoh budaya, akademisi, dan komunitas kreatif agar nilai-nilai lokal tetap terakomodasi. “Targetnya, ikon baru ini dapat menjadi destinasi wisata perkotaan sekaligus memperkuat citra Kota Singkawang,” katanya.
Untuk mempercepat realisasi program, Pemerintah Kota Singkawang meminta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang segera menuntaskan kajian teknis dan menyiapkan tahapan sosialisasi kepada masyarakat.
Pemkot memastikan seluruh proses pembangunan akan dilakukan secara bertahap dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan dan pembangunan yang inklusif. (*/)







