KalbarOke.com — Anak-anak berhadapan dengan pilihan yang tampak sederhana: layar gadget atau permainan bersama teman. Di tengah semakin lekatnya kehidupan anak dengan gawai, Pemerintah Kota Singkawang mencoba menarik mereka kembali ke permainan yang lebih tua dari teknologi digital.
Permainan tradisional dihidupkan kembali dalam rangkaian Gebyar Kemerdekaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Halaman Kantor Wali Kota Singkawang, Rabu, 12 Agustus 2026. Kegiatan tersebut dibuka Sekretaris Daerah Kota Singkawang Dwi Yanti.
Bagi Dwi, permainan tradisional bukan sekadar hiburan untuk memeriahkan perayaan kemerdekaan. Ada sesuatu yang perlahan hilang ketika anak terlalu lama bermain sendiri di depan layar: interaksi langsung dengan teman sebaya. “Permainan tradisional sarat dengan nilai sosial. Anak-anak bisa bermain bersama, berinteraksi dan membangun kebersamaan,” kata Dwi.
Perkembangan teknologi membuat permainan tradisional semakin jarang dikenal anak-anak. Game online dan berbagai permainan digital menawarkan hiburan yang dapat dimainkan kapan saja melalui perangkat pribadi. Namun, pola tersebut juga membuat kesempatan anak bertemu, berkomunikasi dan bekerja sama secara langsung dengan teman sebaya semakin berkurang.
Dwi menilai momentum peringatan kemerdekaan menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali permainan warisan leluhur kepada generasi muda. “Lewat keseruan permainan tradisional dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI ini, kita berharap pengaruh buruk gadget terhadap anak-anak dapat dikurangi,” ujarnya.
Permainan menjadi pintu masuk untuk mengajarkan sesuatu yang tidak selalu bisa diberikan oleh layar: kerja sama, komunikasi, sportivitas dan kemampuan menerima kemenangan maupun kekalahan.
Gebyar Kemerdekaan di Singkawang tidak berhenti pada permainan tradisional. Kegiatan juga dikemas untuk memperkenalkan sejarah perjuangan bangsa dan memperkuat wawasan kebangsaan anak-anak.
Menurut Dwi, pengenalan nilai perjuangan sejak usia dini penting untuk membangun rasa memiliki terhadap bangsa. “Ini penting untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme dalam diri anak-anak,” katanya.
Dengan cara yang lebih dekat dengan dunia anak, peringatan kemerdekaan diharapkan tidak sekadar menjadi acara seremonial setiap Agustus.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Singkawang Asmadi mengatakan kemerdekaan yang dinikmati generasi sekarang merupakan hasil perjuangan panjang para pahlawan. Karena itu, kemerdekaan tidak boleh berhenti sebagai perayaan tahunan.
“Kemerdekaan yang kita nikmati saat ini adalah buah perjuangan para pahlawan. Karena itu, kemerdekaan wajib kita jaga, pertahankan dan syukuri,” ujar Asmadi.
Menurut dia, Indonesia dibangun dari keberagaman. Negara ini memiliki wilayah luas, belasan ribu pulau, serta ratusan suku, bahasa dan budaya. Perbedaan tersebut, kata Asmadi, seharusnya menjadi kekuatan, bukan alasan untuk terpecah.
“Perbedaan telah membentuk kekuatan dan keutuhan NKRI. Keringat dan darah para pahlawan bangsa jangan sampai dinodai oleh perpecahan yang dapat mengancam keutuhan NKRI,” tegasnya.
Sementara itu, rangkaian perayaan kemerdekaan di Singkawang juga mendapat pengamanan dari kepolisian. Kapolres Singkawang AKBP Dody Yudianto Arruan mengatakan jajaran Polres Singkawang siap mengamankan seluruh kegiatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. “Kami siap mengamankan seluruh rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kota Singkawang,” kata Dody.
Pemantauan keamanan dan ketertiban masyarakat terus ditingkatkan, terutama menjelang upacara peringatan kemerdekaan yang dijadwalkan berlangsung di Kantor Wali Kota Singkawang pada 17 Agustus 2026.
Di tengah persiapan upacara dan berbagai kegiatan resmi itu, permainan tradisional menghadirkan wajah lain perayaan kemerdekaan. Anak-anak tidak hanya diajak mengingat sejarah melalui cerita. Mereka diajak merasakan kembali arti kebersamaan lewat permainan yang membuat mereka harus bertemu, bergerak dan tertawa bersama—tanpa perlu satu pun layar gadget di tangan. (*/)






