KalbarOke.com – Pemerintah terus memperkuat pengembangan sektor industri kerajinan sebagai salah satu pilar strategis pertumbuhan ekonomi nasional. Selain menyerap tenaga kerja lokal, sektor ini juga menjadi produk unggulan Indonesia yang memiliki daya saing di pasar global.
Kinerja industri kerajinan nasional menunjukkan tren positif hingga 2026. Data Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor produk kerajinan pada 2025 mencapai US$806,63 juta atau sekitar Rp12,2 triliun (kurs Rp15.200 per dolar AS). Angka tersebut meningkat 15,46 persen dibandingkan 2024 yang sebesar US$698,62 juta atau sekitar Rp10,6 triliun.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan komitmen pemerintah dalam meningkatkan daya saing pelaku industri kerajinan melalui pembinaan berkelanjutan. Program tersebut mencakup penguatan standardisasi, peningkatan kualitas produk, serta perluasan akses pasar.
“Penguatan industri kerajinan berbasis kearifan lokal merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan bahan baku dalam negeri sekaligus memberdayakan sumber daya manusia di daerah,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis, 30 April 2026.
Sejalan dengan itu, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI), Emmy Suryandari, menyampaikan bahwa melalui unit pelaksana teknis di Yogyakarta, yakni Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik, pemerintah menghadirkan berbagai program peningkatan kapasitas bagi industri kecil dan menengah (IKM).
Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah, BUMN, serta sektor swasta melalui skema Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
“Kami telah menerapkan konsep one stop service untuk sektor kerajinan dan batik, termasuk layanan pelatihan teknis produksi hingga sertifikasi produk, kompetensi SDM, sistem manajemen mutu, halal, dan industri hijau,” kata Emmy.
Kepala BBSPJIKB, Zya Labiba, menambahkan pelatihan yang diberikan mencakup berbagai subsektor, seperti batik, anyaman serat alam, kerajinan kerang, ukir kayu, bambu, rotan, hingga perhiasan logam dan produk wastra seperti tenun, tritik, jumputan, dan ecoprint.
Menurutnya, dalam satu dekade terakhir BBSPJIKB telah melatih sekitar 11.939 sumber daya manusia industri di berbagai wilayah Indonesia. Capaian ini merupakan hasil sinergi antara pemerintah pusat dan daerah di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota.
Pada April 2026, BBSPJIKB kembali menggelar sedikitnya lima program pendampingan bekerja sama dengan sejumlah daerah, termasuk Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Kendal, Kabupaten Ponorogo, hingga Kabupaten Manokwari di Papua Barat.
Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat sinergi lintas sektor guna memperluas jangkauan pembinaan industri kerajinan. Upaya ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan industri kreatif yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi di pasar domestik maupun internasional. (*/)







