Gawe Dayak Naik Dango XXVI Singkawang Ditutup Meriah, Jadi Simbol Pelestarian Budaya dan Kebersamaan

Gawe Dayak Naik Dango XXVI Kota Singkawang resmi ditutup dengan meriah. Pemerintah dan masyarakat menegaskan komitmen melestarikan budaya Dayak sebagai identitas daerah dan perekat persatuan. Humas Pemkot Singkawang

KalbarOke.com – Perhelatan budaya tahunan masyarakat Dayak, Gawe Dayak Naik Dango XXVI Kota Singkawang, resmi ditutup pada Minggu malam, 31 Mei 2026. Acara penutupan yang digelar di Rumah Adat Dayak Kota Singkawang berlangsung meriah dan dihadiri ribuan warga yang memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan rangkaian hiburan terakhir sekaligus menandai berakhirnya pesta budaya masyarakat Dayak.

Wakil Wali Kota Singkawang, Muhammadin, mengatakan Gawe Dayak Naik Dango merupakan warisan budaya yang memiliki nilai penting dalam menjaga identitas dan jati diri masyarakat di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat adat, tetapi juga seluruh elemen masyarakat agar nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Kebudayaan masyarakat adat Dayak di Singkawang harus terus dipertahankan dan dikembangkan. Budaya merupakan bagian penting dari identitas bangsa yang perlu dijaga bersama,” kata Muhammadin saat menghadiri malam penutupan.

Budaya Jadi Perekat Persatuan

Muhammadin mengajak generasi muda untuk lebih mengenal dan mencintai budaya daerah sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan dan kebangsaan. Ia menilai Gawe Dayak Naik Dango tidak hanya menjadi ajang pelestarian tradisi, tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial antarmasyarakat yang berasal dari beragam latar belakang budaya dan suku.

Baca :  Helmi Nasaruddin Umar Motivasi Siswi Inklusi di Pontianak: Jangan Minder dan Terus Bermimpi

Menurutnya, semangat kebersamaan yang tercermin dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut menjadi contoh nyata nilai gotong royong yang masih terpelihara di tengah masyarakat.

“Keberhasilan acara ini merupakan hasil kerja sama banyak pihak. Semangat gotong royong yang terbangun selama kegiatan berlangsung diharapkan dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Antusiasme Pengunjung Tinggi

Ketua Panitia Gawe Dayak Naik Dango XXVI, Andreas Aan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia bersyukur seluruh rangkaian acara berjalan lancar dengan dukungan cuaca yang bersahabat selama pelaksanaan kegiatan.

Aan mengatakan tingginya jumlah pengunjung yang hadir dalam setiap agenda menunjukkan bahwa Gawe Dayak telah berkembang menjadi salah satu agenda budaya penting yang dinantikan masyarakat setiap tahun.

Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan acara juga mencerminkan sikap terbuka, ramah, dan toleran masyarakat Dayak di Kota Singkawang yang mampu menciptakan suasana nyaman bagi para tamu dan pengunjung. “Setiap rangkaian kegiatan selalu dipadati masyarakat. Ini menunjukkan bahwa Gawe Dayak telah menjadi agenda yang mendapat perhatian luas dari masyarakat,” katanya.

Baca :  Sengketa Lahan di Bengkayang, Yayasan Bethesda dan Warga Sepakat Musyawarah

Jadi Agenda Budaya Tahunan yang Dinanti

Seiring berjalannya waktu, Gawe Dayak Naik Dango tidak lagi sekadar menjadi perayaan adat masyarakat Dayak, tetapi juga berkembang menjadi salah satu agenda budaya dan pariwisata unggulan di Kota Singkawang.

Kegiatan tersebut rutin menghadirkan berbagai atraksi seni, budaya, ritual adat, hingga hiburan rakyat yang mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah. Panitia berharap Gawe Dayak Naik Dango terus menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus sarana memperkuat nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk.

Dengan berakhirnya Gawe Dayak Naik Dango XXVI, masyarakat Dayak Singkawang kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup dan relevan bagi generasi masa depan. (*/)