Industri Manufaktur Tumbuh 5,3 Persen, Jadi Motor Utama Ekonomi Nasional

Ilustrasi Kemenperin menyebut industri manufaktur Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan 5,3 persen pada 2025 serta peningkatan investasi dan tenaga kerja. Foto: livia wong dari Pixabay

KalbarOke.com – Kementerian Perindustrian menegaskan kinerja sektor industri manufaktur nasional terus menunjukkan tren positif dan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan sektor manufaktur terbukti solid dan adaptif menghadapi dinamika geopolitik serta perlambatan ekonomi dunia. “Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan hasil yang kuat. Kontribusinya meningkat, penyerapan tenaga kerja bertambah, dan investasi terus tumbuh,” ujar Febri di Jakarta, Jumat, 24 April 2026.

Ia menjelaskan, industri pengolahan nonmigas pada 2025 tumbuh 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. Capaian ini menjadi yang pertama dalam 14 tahun terakhir, di mana pertumbuhan industri kembali lebih tinggi dibanding ekonomi secara keseluruhan.

Dari sisi kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sektor manufaktur juga menunjukkan tren meningkat. Pada Triwulan II 2022, kontribusinya tercatat sebesar 17,92 persen, kemudian naik secara bertahap hingga mencapai 19,20 persen pada Triwulan IV 2025.

Baca :  Baru 6 Hari Menjabat, Ketua Ombudsman Hery Susanto Jadi Tersangka Suap Rp1,5 Miliar Kasus Nikel

Kenaikan sekitar 1,28 poin persentase tersebut menunjukkan peran manufaktur yang semakin dominan sebagai penggerak ekonomi nasional.

Selain pertumbuhan, sektor ini juga mencatat peningkatan signifikan dalam penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan data Sakernas, jumlah tenaga kerja industri pengolahan nonmigas meningkat dari 15,49 juta orang pada 2015 menjadi 20,26 juta orang pada Agustus 2025, yang merupakan level tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Di sisi investasi, data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) per 23 April 2026 mencatat terdapat 633 perusahaan yang tengah membangun fasilitas produksi baru pada Triwulan I 2026. Proyek tersebut berpotensi menyerap 219.684 tenaga kerja dengan nilai investasi mencapai Rp418,62 triliun.

Subsektor industri pengolahan tembakau, minuman, dan makanan menjadi yang paling banyak menambah fasilitas produksi. Sementara dari sisi nilai investasi, industri logam dasar mendominasi dengan nilai sekitar Rp218,04 triliun, diikuti industri kimia sebesar Rp81,22 triliun.

Adapun sektor padat karya seperti industri kulit dan alas kaki mencatat potensi penyerapan tenaga kerja terbesar, mencapai lebih dari 37 ribu orang.

Baca :  Syukuran Hasil Panen, Masyarakat Bengkayang Gelar Tradisi Ngatek Kaja’ Pade Berstatus "Bapuji Ka Nyabata"

Menurut Febri, capaian ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang pro-industri, termasuk reformasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN), penerapan kebijakan non-tarif, pembangunan kawasan industri, serta perlindungan terhadap produk dalam negeri.

Ia menambahkan, arah kebijakan tersebut sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat struktur ekonomi nasional melalui hilirisasi dan peningkatan nilai tambah industri.

Kemenperin optimistis tren positif sektor manufaktur akan terus berlanjut, didukung strategi penguatan industri 4.0, substitusi impor, serta perluasan pasar ekspor nontradisional. “Di tengah ketidakpastian global, industri nasional tetap mampu tumbuh di atas 5 persen. Ini menunjukkan daya tahan dan daya saing yang semakin kuat,” kata Febri.

Pemerintah pun mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk melihat perkembangan sektor manufaktur secara objektif berbasis data, sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi nasional secara berkelanjutan. (*/)