KalbarOke.com – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggelar China-Indonesia Bird’s Nest Trade Summit di Jakarta, Senin, 13 April 2026, sebagai upaya memperkuat kembali akses pasar ekspor sarang burung walet ke China. Forum ini mempertemukan 20 pelaku usaha nasional dengan asosiasi pembeli dari Tiongkok.
Pertemuan tersebut juga menjadi ruang klarifikasi atas temuan General Administration of Customs China terkait kandungan aluminium pada produk sarang burung walet Indonesia yang melebihi ambang batas 100 ppm. Temuan ini berdampak pada penghentian sementara ekspor dari 18 perusahaan Indonesia.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, mengatakan forum ini menegaskan komitmen kedua negara untuk menjaga keberlanjutan perdagangan. “Kami juga mendiskusikan temuan GACC yang berdampak pada suspensi sejumlah perusahaan,” ujarnya.
China masih menjadi pasar utama dengan pangsa 80,15 persen dari total ekspor sarang burung walet Indonesia. Namun pada 2025, nilainya tercatat sebesar USD 380,20 juta atau sekitar Rp6,08 triliun (kurs Rp16.000 per dolar AS), turun 11,33 persen dibandingkan 2024. Meski demikian, tren lima tahun terakhir masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 2,66 persen.
Puntodewi menuturkan pemerintah telah menyiapkan langkah strategis, termasuk memperkuat diplomasi perdagangan dan teknis dengan otoritas Tiongkok guna memastikan transparansi metode pengujian. Ia juga mengapresiasi eksportir yang telah melakukan audit internal dan memperketat kontrol kualitas.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag, Miftah Farid, menyebut terdapat peluang mengisi kekosongan ekspor sekitar 300 ton akibat suspensi tersebut. “Ini peluang bagi pelaku usaha lain yang telah memenuhi standar untuk menjaga pangsa pasar Indonesia di Tiongkok,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, selain China, pasar ekspor walet Indonesia pada 2025 meliputi Hong Kong sebesar USD 36,26 juta (sekitar Rp580 miliar), Singapura USD 19,75 juta (sekitar Rp316 miliar), Vietnam USD 15,48 juta (sekitar Rp247 miliar), dan Amerika Serikat USD 12,77 juta (sekitar Rp204 miliar). Secara global, Indonesia masih menjadi pemasok terbesar dengan nilai ekspor USD 551,56 juta atau sekitar Rp8,82 triliun, setara 58,31 persen pasar dunia.
Namun tekanan masih berlanjut pada awal 2026. Nilai ekspor Januari–Februari tercatat USD 83,04 juta atau sekitar Rp1,33 triliun, turun 10,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sinergi Perbaikan Industri
Direktur Manajemen Risiko Karantina Hewan Badan Karantina Indonesia, Anes Doni Kriswito, mengatakan pemerintah tengah melakukan perbaikan dari hulu ke hilir, termasuk penyesuaian regulasi dan peningkatan pengawasan. Indonesia juga membuka peluang bagi otoritas Tiongkok untuk meninjau langsung proses pengendalian mutu di dalam negeri.
Dari sisi industri, Ketua Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia, Boedi Mranata, optimistis persoalan kadar aluminium dapat diatasi melalui peningkatan teknologi dan konsistensi proses produksi. Ia menekankan pentingnya penyelarasan standar pengujian antara Indonesia dan Tiongkok.
“Produk yang lolos uji di Indonesia belum tentu lolos di Tiongkok. Ini perlu diselaraskan agar tidak menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha,” kata Boedi.
Sementara itu, Presiden perusahaan importir asal Tiongkok, Yan TyTy, Li Li, menyatakan kesiapan menjadi jembatan antara pelaku usaha Indonesia dan pasar Tiongkok. Ia menilai konsistensi kualitas, stabilitas pasokan, dan harga menjadi kunci daya saing produk.
Ketua China Agricultural Wholesale Market Association, Ma Zhengjun, juga mengundang pelaku usaha Indonesia untuk menghadiri forum bisnis di Tiongkok pada musim gugur mendatang guna memperluas kerja sama. “Pelaku usaha Indonesia perlu memahami perkembangan kebutuhan pasar Tiongkok agar peluang kerja sama semakin terbuka,” ujarnya. (*/)







