Sutarmidji Minta Siswa SMK Manfaatkan Peluang Usaha

PONTIANAK, KB1 – Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mendorong siswa-siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk memanfaatkan peluang usaha dengan membentuk kelompok-kelompok usaha sesuai dengan jurusan masing-masing. Kelompok usaha yang dibentuk itu dijalankan oleh siswa-siswa kelas 11 atau 12 sekaligus sebagai wadah mereka menerapkan ilmu yang diperolehnya melalui praktek.

“Saya maunya siswa SMK itu berpikiran kreatif dan inovatif. Dengan demikian mereka bisa mandiri dan setelah selesai pendidikan di SMK kalau mereka tidak melanjutkan kuliah, bisa saja mereka membentuk kelompok usaha,” ujarnya usai memotivasi siswa SMKN 4 menjelang Ujian Nasional, Rabu (1/4) kemarin.
Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak, lanjut Sutarmidji, akan mendukung sekolah-sekolah kejuruan yang membentuk kelompok usaha di sekolahnya dengan memfasilitasi melalui pelatihan-pelatihan dalam rangka pematangan sesuai dengan jurusan masing-masing. “Peralatan yang dibutuhkan juga kita bantu, begitu pula tempatnya kalau ada lahan pemerintah yang bisa digunakan, kita pinjamkan,” katanya.
Banyak jurusan di SMK yang bila dikembangkan dalam bentuk kelompok-kelompok usaha seperti jurusan gambar bangunan, teknik mesin, listrik, elektro dan banyak lagi jurusan lainnya, bukan tidak mungkin dengan dibentuknya kelompok usaha itu akan membuka lapangan kerja bagi siswa-siswa setelah lulus nanti. Midji mencontohkan salah satunya servis Air Conditioner (AC) yang banyak dimiliki gedung perkantoran di lingkungan Pemkot Pontianak. Siswa-siswa SMK yang tergabung dalam kelompok usaha bisa saja menservis AC di kantor-kantor milik Pemkot. “Nah, mereka ini harusnya sudah ada kelompok usaha sejak kelas 2 dan 3 SMK mereka sudah mulai praktek. Prakteknya di kantor-kantor pemerintah misalnya servis AC, kita bayar mereka dengan sistem kontrak,” ungkapnya.
Sutarmidji menambahkan, saat ini juga banyak yang menggunakan solar cell untuk pemanas air. Peluang ini mesti dilirik siswa SMK sebagai peluang usaha dengan memberikan pelayanan perawatan atau servis. “Katakanlah mereka punya pelanggan 100 rumah, rata-rata per bulan bayar Rp 50 ribu. Kan sudah Rp 5 juta yang perolehnya,” tukasnya. (03)

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 1511 kali