Riam Sebopet Keruh Pekat Bak Air Susu, Warga Bengkayang Desak Penertiban Tambang Ilegal

Air Wisata Riam Sebopet Bengkayang berubah keruh pekat diduga akibat aktivitas tambang emas ilegal (PETI) di hulu sungai selama tiga bulan terakhir. (Foto: Rinto A)

KalbarOke.Com — Ikon wisata alam yang selama ini dikenal jernih dan asri, Riam Sebopet, kini berubah drastis. Air sungai yang dahulu bening kini tampak keruh pekat menyerupai susu, memicu kekhawatiran serius di kalangan masyarakat sekitar yang bergantung pada sumber air tersebut.

Selama tiga bulan terakhir, warga di RT Tampe, Kelurahan Sebalo, Kecamatan Bengkayang, terpaksa menghadapi kondisi air yang tidak lagi layak digunakan. Perubahan drastis ini diduga kuat dipicu oleh aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di bagian hulu sungai yang mengalirkan lumpur secara terus-menerus.

Marbun, salah seorang warga setempat, menyampaikan kesedihannya melihat kondisi air yang kini rusak. Ia menjelaskan bahwa lokasi tersebut merupakan tempat wisata andalan serta menjadi sarana belajar berenang bagi anak-anak sekolah dan warga Kota Bengkayang.

“Saya sebagai warga di sini yang merasakan sedih melihat kejadian air di sini. Kita ada sampaikan dulu melalui RT supaya mereka jangan sampai mengotori air ini, sebelum air ini kotor. Di sinilah tempat wisata, kawan-kawan dari Kota Bengkayang, anak-anak sekolah, tempat mandi, tempat aktivitas untuk mereka belajar berenang di sini,” ujar Marbun.

Baca :  Respons Keluhan Jalan Rusak di Medsos, Gubernur Norsan Jelaskan Pembagian Kewenangan Pusat dan Daerah

Ia menambahkan bahwa dampak pencemaran ini sangat merugikan ekonomi warga. Masyarakat kini tidak bisa lagi mengelola kolam ikan, mengairi sawah, hingga menyiram tanaman sayur karena air sungai justru merusak tanaman.

“Saya pribadi dirugikan, saya tidak bisa bikin kolam-kolam ikan, saya nggak bisa berkembang, kami nanam sawah tidak bisa lagi. Dulu airnya ini sempat sangat kental, kalau kita pakai nyiram sayur, malah sayurnya rusak lagi. Kita harap penegak hukum supaya turun ke lapangan, jangan biarkan aktivitas ini,” tegas Marbun.

Meskipun laporan telah disampaikan kepada pihak Camat, Dinas Lingkungan Hidup, hingga ke tingkat Bupati Bengkayang, warga merasa belum ada langkah nyata di lapangan. Padahal, lokasi pencemaran ini hanya berjarak sekitar satu kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Bengkayang.

Dampak buruk ini kini meluas hingga ke kalangan mahasiswa yang tinggal di sekitar lokasi. Warga secara umum telah kehilangan akses terhadap air bersih untuk kebutuhan dasar seperti mandi, mencuci, dan keperluan rumah tangga lainnya.

Masyarakat mendesak adanya pengawasan dan penegakan hukum yang tegas terhadap para pelaku tambang ilegal di hulu sungai. Jika dibiarkan, kerusakan ini tidak hanya menghilangkan fungsi wisata Riam Sebopet, tetapi juga mematikan ekosistem sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Baca :  Respons Edaran Mendagri, Pemprov Kalbar Bakal Tata Ulang Kegiatan Retret dan Efisiensi Perjalanan Dinas

“Kini biarlah mereka yang tahu hukum menindak tegas mereka yang nggak mau berubah. Karena air ini sangat diperlukan masyarakat banyak, terutama masyarakat sekitar Sebopet sampai keliling Kota Bengkayang ini sering mandi ke sini,” pungkas Marbun.


Ringkasan Berita:

  • Air wisata Riam Sebopet di Bengkayang berubah keruh pekat menyerupai susu selama tiga bulan terakhir akibat dugaan aktivitas PETI di hulu.
  • Warga RT Tampe merasa sangat dirugikan karena tidak bisa lagi mengairi sawah, kolam ikan, maupun menggunakan air untuk kebutuhan rumah tangga.
  • Kondisi pencemaran ini dilaporkan terjadi hanya berjarak sekitar satu kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Bengkayang.
  • Warga mengeklaim sudah melapor ke pihak Camat hingga Bupati, namun hingga kini belum ada tindakan tegas untuk menghentikan tambang ilegal.
  • Masyarakat mendesak penegak hukum segera turun ke lapangan guna menyelamatkan ekosistem sungai dan ikon wisata alam tersebut.